Definisi
Ada beragam definisi yang bermunculan dalam memberikan penjelasan tentang apa itu teori. Menurut Sir Karl Popper (1959) dalam Miller (2001: 18) teori didefinisikan sebagai “net cast to catch what we call the world”, jaring untuk menangkap realitas di sekitar kita. Miller dalam bukunya Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts menambahkan bahwa teori membantu memahami atau menjelaskan fenomena yang kita amati di dunia sosial. Lebih lanjut, teori didefinisikan sebagai seperangkat abstrak gagasan yang membantu memberikan pengertian pada perilaku. Rosenberg (1966) dalam Miller (2001:20) menambahkan bahwa abstraksi yang dimaksud di sini lebih menekankan pada level yang lebih tinggi dari sebuah observasi aktual. Teori memiliki tujuan menjelaskan dan mensistemasikan penemuan yang lebih mendasar.
Pendekatan
Berbicara lebih jauh tentang teori, ada dua pendekatan yang bisa digunakan. Pertama, pendekatan deduktif yang cenderung memberikan keunggulan atau penekanan pada kedudukan teori itu sendiri dalam praktik membangun teori. Abstrak teori dibangun terlebih dahulu, kemudian observasi empiris dilakukan guna menguji kebenaran teori. Sedangkan pendekatan induktif berpandangan bahwa observasi terlebih dahulu hadir sebelum teori.
Fungsi
Pembahasan tentang teori juga tidak bisa lepas dari pertimbangan tentang apa fungsi dari teori tersebut. Bernard Cohen dan Larry Laudan dalam Miller (2001:21-22) menyebutkan bahwa fungsi utama sebuah teori adalah menyelesaikan permasalahan. Laudan (1977) memulai dengan dua tipe masakah, yaitu masalah empirik (segala sesuatu yang sangat ganjil ataupun sebaliknya yang butuh penjelasan) dan masalah konseptual (meliputi masalah internal dan eksternal dalam teori itu sendiri). Selain kedua jenis permasalahan tersebut, Cohen (1994) menambahkan kategori masalah praktis yang berhubungan dengan peran teori dalam menyelesaikan masalah keseharian.
Bahan Bacaan:
Miller, Katherine. 2001. Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts. New York: McGraw-Hill.
Selasa, 26 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
Ujian Akhir Semester Komunikasi Kontemporer
1. Perubahan paradigma diplomasi dari diplomasi tradisional yang berbasis pada hubungan antar pemerintah menjadi diplomasi publik yang berbasis pada hubungan pemerintah di suatu negara dengan publik di negara lain menjadikan public relations sebagai bagian penting dari proses diplomasi publik. Jelaskan kenapa demikian! Berikan contoh dan ilustrasi praktek-praktek diplomasi publik yang memanfaatkan dengan baik strategi public relations.
Era perkembangan teknologi yang semakin pesat serta arus globalisasi yang berkembang luas telah membuka peluang bagi individu atau organisasi untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan pihak lain di berbagai wilayah, bahkan di luar negeri sekalipun. Mealui internet seorang penduduk di suatu negara dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi dari negara lain sesuai kebutuhannya. Pada level ini, pencitraan menjadi posisi tawar yang penting dalam menumbuhkan kepercayaan publik atas informasi yang diperolehnya.
Di sisi lain, era pasar bebas telah menciptakan kondisi di mana sebuah organisasi pemerintah atau perusahaan internasional serta organisasi lain yang berskala global menghadapi publik dengan kuantitas dan tingkat pengetahuan serta kondisi sosiologis yang berbeda-beda. Tantangan lainnya adalah sebuah produk atau jasa yang ditawarkan oleh organisasi pun kemudian harus bersaing dengan produk lain dari berbagai negara yang memiliki kualitas beragam. Dengan demikian peran public relations semakin dibutuhkan guna menguatkan dan mengorganisir hubungan yang baik dengan pihak-pihak terkait.
Menurut Cutlip, Center dan Broom (2006: 5) seorang public relations memiliki peran dalam fungsi manajemen pembentukan dan pemeliharaan mutu hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan publik. Hubungan ini nantinya akan menentukan kegagalan dan keberhasilan organnisasi tersebut. Kemudain, dalam istilah global public relations, usaha terencana dan terorganisir oleh organisasi ini akan melibatkan publik dalam skala yang lebih luas, yaitu antarnegara di dunia. Praktek global public relations ini ketika dilaksanakan oleh negara maka akan menjadi bagian dari public diplomacy.
Shimp dan Delozier (1986) dalam Kade Dwi Cahaya (2009) menjelaskan bahwa public relations yang terdiri atas beberapa aktivitas khusus sangat bermanfaat dan efektif untuk menciptakan product awareness, membangun opini, sikap dan persepsi positif publik terhadap organisasi beserta produk-produknya serta merangsang terjadinya aktivitas pembelian. I Gusti Ngurah Putra (2009) dalam tulisannya “Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas” menambahkan bahwa strategi kehumasan membantu mengarahkan pentingnya memahami siapa publik suatu organisasi yang harus diperhatikan dan bagaimana komunikasi antara organisasi dengan publik yang sudah teridentifikasi dapat berjalan. Dengan demikian, harapannya dukungan publik akan terbentuk dengan baik terhadap keberadaan suatu organisasi.
Salah satu praktek diplomasi publik yang memanfaatkan strategi public relations dapat dilihat dari usaha pengembalian citra Bali sebagai destinasi wisata dunia pasca bom Bali tahun 2001. Tantangan public relations di sini adalah memanejemen krisis dengan mengambil keputusan yang harus dikomunikasikan dengan baik kepada publik atas kebijakan-kebijakan suatu daerah tujuan wisata sehingga dapat mempertahankan hubungan yang pernah dibangun dengan berbagai pihak. Public Relations dalam konteks ini menurut Wasesa dalam Kadek Dwi Cahaya Putra (2008) berfungsi untuk mengalirkan informasi-informasi yang ringan sehingga mampu dikelola dalam benak audiens (wisatawan) guna membentuk citra yang diinginkan oleh sebuah daerah tujuan wisata.
Dalam program-program Recovery Bali, banyak dijalankan aktivitas yang menjadi bagian dari fungsi public relations yang meliputi media centre, fam trip untuk tour pperators, fam trips untuk jurnalis, road show, dukungan event, operasionalisasi dan administrasi (Bali Travel News 24 Nov. – 14 Des. 2006 dalam Kadek Dwi Cahaya, 2008). Dalam penjelasan tersebut ditambahkan, bahkan media centre, sebagai salah satu fungsi paling penting dari public relations, merupakan program Recovery Bali yang menyedot anggaran terbesar. Kucuran dana ini diperuntukkan bagi jasa PR-ing dan media campaign di media massa, cetak maupun eletronik, baik dalam maupun luar negeri.
Selain contoh di atas, praktik pemanfaatan strategi public relations dalam membangun diplomasi publik juga dapat dilihat pasca runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001 di Amerika. Fall dalam Kadek Dwi Cahaya Putra (2008) mengemukakan bahwa setelah peristiwa tersebut, berbagai organisasi mengubah strategi komunikasi mereka dengan lebih banyak menggunakan taktik public relations sebagai alat komunikasi pada umumnya dan alat promosi pada khususnya dibandingkan dengan taktik-taktik lainnya seperi Iklan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan langsung (direct selling) dan lain-lain.
2. Global public relations kini menjadi kegiatan yang tak bisa diabaikan. Variable apa saja yang mempengaruhi perkembangan dan praktek global public relations? Berikan berbagai contoh dan ilustrasi!
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan praktek global public relation. Beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut:
• Ideologi dan Sistem Politik
Proses demokratisasi telah berpengaruh pada konsep good governance yang menuntut pelaksanaan transparansi bagi kepentingan publik. Demokrasi sebagai salah satu sistem politik berpengaruh besar dalam pelaksanaan global public relations di mana sebuah negara berkepentingan “membuka keran” transfer komunikasi dan hubungan kerjasama yang terbuka antara satu negara dengan negara lain. Di sisi lain, dalam sebuah negara demokrasi, kebijakan pemerintah sedikit banyak akan dipengaruhi oleh opini publik yang muncul. Maka dari itu, salah satu usaha yang dapat dimanfaatkan dalam praktek global public relations dalam sebuah negara demokrasi adalah dengan memanfaatkan opini publik agar mendukung visi dan misi serta berbagai aktivitas yang dijalankan oleh sebuah organisasi atau perusahaan.
• Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi pasar bebas telah menuntut sebuah organisasi atau perusahaan untuk mampu bersaing memanfaatkan peran public relations guna meningkatkan hubungan dengan pihak terkait agar mencapai keuntungan yang maksimal. Kekuatan sebuah brand menjadi pertimbangan tersendiri untuk memperluas pangsa pasar sebuah produk atau jasa yang ditawarkan. Isu krisis ekonomi sebuah negara turut mempengaruhi lembaga asing untuk menanamkan modal atau investasi di sebuah negara. Kebijakan dan kondisi ekonomi ini sangat berpengaruh terhadap praktik global public relations baik oleh internal negara maupun pihak lain.
• Tingkat Aktivisme Penduduk Lokal
Tingkat aktivisme penduduk lokal dapat dilihat dari bagaimana pertumbuhan gerakan-gerakan yang vokal menyuarakan kepentingan publik guna mendapatkan hak-haknya. Grunig dan Hunt dalam I Gusti Ngurah Putra (2008) menyebutkan bahwa salah satu jenis pubilk yang disebut sebagai active public harus mendapatkan perhatian dari praktisi hubungan masyarakat dalam merancang program-program kehumasannya. Active public biasanya merupakan kelompok orang yang mencari dan memproses informasi sebuah informasi tentang sebuah organnisasi atau tentang sebuah masalah yang menjadi kepentingan organisasi. Di negara-negara maju, aktivisme penduduk lokal ini mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap remeh karena dapat mempengaruhi kebijakan suatu negara sekalipun. Daya kritisme dan tingkat kepedulian masyarakat menjadi salah titik tolak pertumbuhan aktivisme ini. Dalam tulisan yang berbeda, I Gusti Ngurah Putra (2009) menyebutkan bahwa menurut L. Grunig (1991) memberikan contoh kelompok penekan yang harus diperhitungkan dalam skala global adalah para aktivis baik pembela lingkungan hidup seperti Green Peace dan kelompok pembela konsumen seperti Ralph Nader di Amerika serikat serta kelompok organisasi buruh (labour unions). Kelompok ini menurut Grunig mampu mempengaruhi efektifitas organisasi bisnis. Mereka tidak segan-segan mempengaruhi kebijaksanaan publik, ataupun aktif menggalang kampanye menolak kehadiran produk-produk tertentu. Sebagai contohnya, produk sepatu Reebok produksi Indonesia pernah diboikot karena dianggap melakukan praktek eksploitasi buruh yang digaji murah.
• Budaya Masyarakat
Nilai, kebiasaan atau internal security sebuah negara akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi sebuah organisasi atau perusahaan untuk melakukan praktek global public relations. Di negara-negara maju, faktor kesehatan, perlindungan tenaga kerja atau kepedulian lingkungan menjadi beberapa topik perhatian yang turut dipertimbangakan selain kualitas sebuah produk atau jasa yang ditawarkan. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan dihargai oleh masyarakat ini sudah sepatutnya dijadikan dasar pertimbangan tersendiri bagi praktek global public relations agar mendapatkan kepercayaan publik yang kuat. Di Indonesia misalnya, produk yang bersetifikasi halal menjadi kekuatan tersendiri untuk meyakinkan masyarakat yang sebagian besar beragama Islam bahwa sebuah produk makanan diperbolehkan untuk dikonsumsi.
• Sistem dan Budaya Media/Komunikasi
Sistem komunikasi dan media ini berkorelasi dengan sistem politik dalam sebuah negara. Ketika sebuah negara bersistem politik demokrasi, maka akan ada kebebasan pers yang memberikan peluang bagi penyuaraan aspirasi publik. Sistem media yang cenderung sangat longgar seperti di Indonesia misalnya, berpengaruh bagi praktik global public relations dalam menjalankan strategi pemasaran dan pencitraan organisasi atau perusahaan sebuah negara dalam memilih strateginya. I Gusti Ngurah Putra (2009) dalam artikelnya “Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas” menjelaskan bahwa strategi komunikasi dalam praktik komunikasi dengan publik internasional harus mempertimbangkan saluran-saluran komunikasi yang digunakan publik sebagai sumber pembentukan pemahaman mereka terhadap realitas praktek bisnis dan politik di sebuah negara. Lebih lanjut I Gustri Ngurah Putra menyebutkan bahwa hasil penelitian Albritton dan Manheim (1985) dan Manheim & Albritton (1984) tentang usaha-usaha yang dilakukan negara-negara dunia ketiga untuk mempengaruhi pendapat umum internasional dan melakukan lobi di Washington dengan menyewa perusahaan public relations internasional sedikit banyak membuktikan bahwa liputan media massa terhadap negara dunia ketiga menjadi sedikit lebih netral. Di sisi lain, era internet dan media baru seperti saat ini telah memberikan pengaruh besar terhadap strategi promosi dan komunikasi produk dan jasa hingga ke mancanegara dengan sangat mudah. Hingga saat ini, banyak perusahaan penyedia jasa public relations dunia yang memanfaatkan jaringan internet untuk memperluas pasarnya. Hadirnya internet ini juga dapat dimanfaatkan oleh sebuah organisasi atau perusahaan untuk praktek pencarian informasi dan pemantauan lingkungan guna melakukan adaptasi terhadap tuntutan public yang semakin kompleks di berbagai belahan dunia.
3. Literasi media adalah konsepsi yang relatif baru dalam kajian media. apa yang dimaksud dengan literasi media dan bedakan dengan konsep pendidikan media (media education) dan pemantauan media (media watch)! Jelaskan dan berilah contoh yang relevan.
Potter (2001:4) dalam bukunya Media Literacy mendefinisikan literasi media sebagai prespektif di mana individu secara aktif merespon media dalam rangka menafsirkan makna atas pesan yang ditemuinya. Perspektif yang digunakan individu ini dibentuk dari struktur pengetahuan masing-masing individu berdasar pada kecakapan dan informasi yang diperoleh dari media dan lingkungan sekitar. Potter menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penggunaan aktif bermedia di sini adalah adanya kesadaran individu terhadap pesan yang disampaikan oleh media dan interaksi yang dibangun dengan media. Ada tiga struktur pengetahuan yang menurut Potter dalam Adiputra, Retno dan Rahmadian (2006: 18) dianggap penting untuk membangun perspektif literasi media seorang audiens media massa. Struktur pengetahuan tersebut adalah struktur pengetahuan isi media, industri media, dan efek media.
Selanjutnya, Potter menjelaskan tipologi literasi media salah satunya sebagai sebuah kontinum yang mengandung pengertian semua orang pada dasarnya memiliki pemahaman mengenai media meskipun berbeda derajat pemahaman yang dimiliki oleh satu individu dengan yang lain. Seorang praktisi media cenderung akan memahami bahwa media merupakan representasi dari ideologi yang dimiliki sebuah organisasi media atau kelompok penguasa media. Pemahaman ini mungkin tidak akan dimengerti oleh orang awam yang dalam kehidupannya tidak bersinggungan dengan media. seorang petani misalnya, mereka bisa saja memahami pemberitaan yang ditayangkan sebuah televisi atau surat kabar tentang buruknya sistem pemerintahan murni sebagai ketidakbecusan presiden atau pemerintah “mengurus rumah tangga” negara sesuai teks yang disampaikan oleh media. Pemahaman bahwa media adalah representasi dari kondisi fakta di lapangan oleh petani ini bisa disebutkan bahwa individu tersebut memiliki tingkat literasi yang cukup rendah.
litersi media juga disebutkan Potter bersifat multi-dimensional yang meliputi sisi kognitif, emosional, estetik dan moral. Sisi kognitif berhubungan dengan pemahaman akan perbedaan fakta dan opini. Sisi emosional berkaitan dengan perasaan seseorang dalam menerima sebuah pesan. Sisi estetik mengandung pemahaman akan bagaimana sebuah proses produksi pesan sehingga dapat membantu seseorang memahami mana kualitas konten yang baik dan tidak. Sedangkan permasalahan moral berkaitan dengan nilai yang berusaha disajikan atas sebuah informasi. Salah satu contoh tingkat literasi media yaitu terkait pemahaman ini melihat bagaimana sisi sensifitas seseorang diuji dalam menyaksikan atau menerima pesan yang berbau kekerasan atau ekspos media yang berlebihan atas sebuah kasus yang tidak manusiawi. Salah satu tujuan dari literasi media adalah untuk memberikan kontrol bagi individu ddalam menginterpretasikan makna sebuah informasi yang diterima dari media.
Istilah lain yang sering kita dengar adalah media pendidikan. berbeda dengan media literasi yang lebih menekankan pada kecakapan atau keterampilan dalam memilah dan menganalisis informasi, media pendidikan lebih memfokuskan pada pemahaman bermedia atau memanfaatkan media. Keterampilan dalam literasi media sampai menyentuh bagaimana sebuah produksi pesan diprosuksi, sehingga mengetahui aktor dan sistem yang berpengaruh di dalamnya. Sedangakan dalam pendidikan media hanya sampai konteks dan manfaat yang diperoleh melalui media dalam proses pendidikan. Seperti yang dikemukakan Schramm (1984: 2) bahwa titik tekan media pendidikan atau media instruksional adalah dengan memberi perhatian lebih pada aspek pendidikan yang dituju oleh media, yang dapat digunakan untuk keperluan hiburan, penyampaian informasi, dan kemudian beralih pada kegiatan pengajaran. Sebagai pemanfaatan konsep pendidikan media ini, banyak riset yang dilakukan guna memanfaatkan media dalam proses pembelajaran di kelas-kelas.
Konsep lainya adalah media watch (pemantauan media) di mana dalam konsep ini lebih menekankan pada praktik pemantauan konten media yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik atau melanggar nilai-nilai yang disepekati oleh masyarakat. Pemantauan media ini dapat dilakukan oleh pihak-pihak terkait seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga media dalam suatu negara ataupun masyarakat sendiri. Konsekuensi dari pemantauan media ini salah satunya adalah dibutuhkannya peran aktif berbagai pihak untuk mengontrol konten media yang tidak sesuai aturan dan kode etik yang berlaku.
4. Beberapa tahun terakhir ini kampanye literasi media marak di Indonesia, sayangnya berbagai elemen di dalam masyarakat sipil belum menjalankannya secara kolaboratif. Jelaskan tipologi gerakan literasi media di Indonesia. Menurut Anda, bagaimana semestinya posisi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan industri media bekerja secara sinergi dalam kampanye literasi media?
Pelaksanaan program literasi media di Indonesia selama ini bisa dikatakan sedikit sporadis dan kurang tersinergi. Penyuksesan program literasi media masih dilakukan oleh kelompok-kelompok terbatas seperti yang digalakkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kurang didukung oleh pemerintah maupun pihak organisasi media sebagai penanggungjawab konten.
Menurut Adiputra, Retno dan Rahmadian (2006:23) dalam laporan penelitiannya terkait literasi media menyebutkan bahwa beberapa LSM yang melakukan kampanye literasi media (Yayasan Jurnal Perempuan dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) tidak melandasi kegiatan kampanyenya dengan konsep yang kuat. Selama ini belum ada pembagian kelompok masyarakat yang jelas dalam kategorisasi penerima program literasi media. Materi literasi media yang diberikan pun seringkali kurang fokus pada kebutuhan dan kapasitas kemampuan masyarakat atau objek penerima kampanye dalam menyikapi media itu sendiri. Di Indonesia, topik riset akademis tentang literasi media sendiri masih sangat jarang.
Melihat keberadaan media yang semakin tidak terpisahkan dari aktivitas keseharian serta dampak media yang cukup signifikan dalam mempengaruhi perilaku masyarakat, maka program “cerdas bermedia” semakin menjadi sebuah kebutuhan. Selain membekali masyarakat untuk kritis melihat media, usaha literasi media turut berfungsi sebagai elemen pemberdayaan masyarakat dalam mengawal proses demokrasi yang sepatutnya menjadi tanggungjawab media. Tentu saja usaha kampanye literasi media ini perlu didukung oleh berbagai pihak untuk mencapai kesuksesan yang optimal. Adapun pihak-pihak yang semestinya turut mengambil bagian dalam kampanye ini adalah sebagai berikut.
• Pemerintah
Pemerintah mempunyai posisi sentral dalam mengeluarkan kebijakan dan segala bentuk regulasi pengaturan media. Sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk melindungi warganya, maka pemerintah sudah semestinya mengarahkan dan mendorong media untuk memberikan konten yang mendidik serta mengandung unsur-unsur yang membangun. Penindakan secara tegas kepada industri media atau oknum yang melanggar kebijakan yang telah ditetapkan sehingga merugikan rakyat ataupun negara sudah semestinya mendapatkan sanksi yang tegas dan mengikat. Selain itu, pemerintah dituntut aktif untuk terus melakukan kontrol secara demokratis terhadap kebebasan media yang saat ini cenderung “di luar batas”.
• LSM
Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan salah satu wadah yang perlu memaksimalkan perannya dalam menggalakkan kampanye literasi media. Dalam beberapa kondisi, berbagai LSM ini diharapkan saling menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Hal ini berfungsi untuk mensinergikan program kampanye literasi media serta memberikan domain yang jelas atas materi dan program literasi yang diberikan kepada masyarakat atau kelompok tertentu. Pengawalan LSM dalam membina masyarakat akan semakin menciptakan generasi yang sadar media dan kritis menerima informasi.
• Lembaga pendidikan
Program cerdas bermedia turut perlu dikuatkan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini mengingat generasi terdidik merupakan golongan yang berpotensi mengajarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitarnya, termasuk dalam lingkup kecil seperti keluarga. Kurikulum tambahan tentang sadar bermedia dapat mendorong terciptanya generasi yang peduli dan cerdas memilih tayangan media yang berkualitas. Riset dan kajian tentang literasi media juga perlu dilakukan agar pelaksanaan kampanye literasi di masyarakat memiliki landasan konseptual yang mendukung.
• Industri media
Industri media perlu mengurangi ideologi materialismenya guna menciptakan konten yang turut pendidikan masyarakat. Fungsi media sebagai sarana pendidikan perlu dibuktikan dengan turut adil menciptakan masyarakat yang cerdas dan toleran dengan tayangan media yang mendukung nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.
Daftar Pustaka
Adiputra, Wisnu Martha., Retno Ayati, dan Rahmadian Martha Stania. 2006. Menggagas Pendidikan Literasi Media Televisi di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada.
Cutlip, Scott M., Allen H. Center, dan Glen M. Broom. 2006. Effective Public Relations. New Jersey: Pearson Education.
Potter, W. James. 2001. Media Literacy. London: Sage Publications.
Putra, I Gusti Ngurah. 2008. Manajemen Hubungan Masyarakat. Jakarta: Univversitas Terbuka.
-------------. 2009. Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas. Terarsip di http://indopure.wordpress.com/category/artikel/. Diakses pada 7 Januari 2013.
Putra , Kadek Dwi Cahaya. 2008. Strategi Public Relations Pariwisata Bali. Terarsip di http://jurnal.uajy.ac.id/jik/files/2012/05/3.-Kadek-Dwi-Cahaya-Putra-41-66.pdf. Diakses pada 7 Januari 2013.
Schramm, Wilbur. 1984. Media Besar Media Kecil; Alat dan teknologi untuk Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.
Senin, 17 Desember 2012
Ketika harus merubah arah
Pagi itu Wati bersiap-siap pergi ke sekolah. Dengan pakaian seragam lengkap dan tas ransel di punggung, Wati pun pergi meninggalkan rumah. Sepuluh menit berlalu, motor Wati kini telah melenggang di jalanan aspal yang mulus. Jalanan yang sepi membuatnya berkendara dengan santai, sembari menikmati perjalanan menuju sekolah.
Hingga tiba-tiba, di pertigaan sekitar satu kilometer dari sekolah Wati, sebuah plang pemberitahuan bersandarkan drum tegak berdiri di tengah jalan. “Maaf jalur ditutup. Ada pekerjaan jalan.” Tumpukan batu-batu kali menutup hampir seluruh badan jalan. Lintasan yang tadinya mulus beraspal kini nampak cekung tak beraturan bekas dikeruk. Sebuah buldoser teronggok di salah satu sisi jalan. Tidak ada pilihan, setiap pengendara yang melintas harus mengambil jalan lain.
---
Sekarang jika tokoh yang berkendara di jalanan tersebut adalah kita, apa yang akan Sobat lakukan? Apa yang kita lakukan ketika dalam sebuah perjalanan ada hambatan yang tak mungkin dilalui dengan menerjangnya begitu saja? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab putar arah dan mengambil jalan lain. Tentu saja, tidak mungkin kan kita memutuskan untuk pulang dan tidak jadi pergi ke sekolah karena jalanan sedang diperbaiki? Sebagai manusia yang berakal, kita akan mencari jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tempat tujuan. Meski tidak jarang jalan yang kita lalui harus ditempuh lebih lama dengan rute yang lebih panjang.
Ibarat orang yang dalam perjalanan, seperti itulah hidup kita sobat. Kita selalu berusaha berjalan kearah mana tujuan yang hendak di capai. Seandainya di tengah perjalanan ada halangan yang menghambat perjalanan, mau tidak mau kita harus bergerak agar usaha mencapai tempat tujuan dapat terlaksana dengan segera. Entah itu mencari alternatif jalan yang lebih aman, menunggu kemacetan, atau sekadar bertanya kepada orang lain ketika kita merasa tak tahu arah yang harus dituju. Ada banyak pilihan yang dapat kita lakukan, termasuk kembali ke rumah dengan tangan hampa pun adalah sebuah pilihan.
Hidup penuh dnegan cabang-cabang jalan. Kita bebas memilih jalan mana yang akan ditempuh. Dan masing-masing jalan memiliki tujuan dan konsekuensi masing-masing. Tiap-tiap jalan memiliki pemandangan yang berbeda, suasana yang berbeda, serta tantangan yang berbeda pula. Namun jika kita memiliki keinginan kuat untuk mencapai satu tujuan, tentu raga akan dikuatkan dengan segala tantangan, hati akan diteguhkan dengan berbagai cobaan sehingga senantiasa menikmati proses yang dilalui.
Jika ternyata suatu ketika kita harus melangkah berputar arah dan harus mengambil jalan lain, itu semua di jalani demi tujuan yang lebih mulia. Kita tidak perlu berpusing ria karena sudah mempunyai gambaran yang jelas ke mana harus melangkah. Mengapa begitu? Karena kita telah menetapkan satu tujuan yang kuat. Perubahan-perubahan yang kita lakukan pun akan mengarah pada tujuan yang kita yakini sebagai kebenaran. Ada arah yang jelas ke mana kaki harus melangkah, ke mana pikiran akan difokuskan, dan ke mana hati harus diikuti
Lalu pertanyaannya, apa tujuan hidup kita? Sudahkah kita melakukan usaha maksimal untuk mencapai tujuan hidup tersebut? Sudahkah perubahan-perubahan terarah kita lakukan untuk mengapai semua mimpi dan harapan? Apapun jawabannya, semoga kita semua senantiasa diberi semangat untuk selalu memperbaiki diri dan merubah hidup dengan tujuan yang lebih terarah. Untuk apa lagi? Tak lain guna meraih ridho-Nya. Aamiin.
Hingga tiba-tiba, di pertigaan sekitar satu kilometer dari sekolah Wati, sebuah plang pemberitahuan bersandarkan drum tegak berdiri di tengah jalan. “Maaf jalur ditutup. Ada pekerjaan jalan.” Tumpukan batu-batu kali menutup hampir seluruh badan jalan. Lintasan yang tadinya mulus beraspal kini nampak cekung tak beraturan bekas dikeruk. Sebuah buldoser teronggok di salah satu sisi jalan. Tidak ada pilihan, setiap pengendara yang melintas harus mengambil jalan lain.
---
Sekarang jika tokoh yang berkendara di jalanan tersebut adalah kita, apa yang akan Sobat lakukan? Apa yang kita lakukan ketika dalam sebuah perjalanan ada hambatan yang tak mungkin dilalui dengan menerjangnya begitu saja? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab putar arah dan mengambil jalan lain. Tentu saja, tidak mungkin kan kita memutuskan untuk pulang dan tidak jadi pergi ke sekolah karena jalanan sedang diperbaiki? Sebagai manusia yang berakal, kita akan mencari jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tempat tujuan. Meski tidak jarang jalan yang kita lalui harus ditempuh lebih lama dengan rute yang lebih panjang.
Ibarat orang yang dalam perjalanan, seperti itulah hidup kita sobat. Kita selalu berusaha berjalan kearah mana tujuan yang hendak di capai. Seandainya di tengah perjalanan ada halangan yang menghambat perjalanan, mau tidak mau kita harus bergerak agar usaha mencapai tempat tujuan dapat terlaksana dengan segera. Entah itu mencari alternatif jalan yang lebih aman, menunggu kemacetan, atau sekadar bertanya kepada orang lain ketika kita merasa tak tahu arah yang harus dituju. Ada banyak pilihan yang dapat kita lakukan, termasuk kembali ke rumah dengan tangan hampa pun adalah sebuah pilihan.
Hidup penuh dnegan cabang-cabang jalan. Kita bebas memilih jalan mana yang akan ditempuh. Dan masing-masing jalan memiliki tujuan dan konsekuensi masing-masing. Tiap-tiap jalan memiliki pemandangan yang berbeda, suasana yang berbeda, serta tantangan yang berbeda pula. Namun jika kita memiliki keinginan kuat untuk mencapai satu tujuan, tentu raga akan dikuatkan dengan segala tantangan, hati akan diteguhkan dengan berbagai cobaan sehingga senantiasa menikmati proses yang dilalui.
Jika ternyata suatu ketika kita harus melangkah berputar arah dan harus mengambil jalan lain, itu semua di jalani demi tujuan yang lebih mulia. Kita tidak perlu berpusing ria karena sudah mempunyai gambaran yang jelas ke mana harus melangkah. Mengapa begitu? Karena kita telah menetapkan satu tujuan yang kuat. Perubahan-perubahan yang kita lakukan pun akan mengarah pada tujuan yang kita yakini sebagai kebenaran. Ada arah yang jelas ke mana kaki harus melangkah, ke mana pikiran akan difokuskan, dan ke mana hati harus diikuti
Lalu pertanyaannya, apa tujuan hidup kita? Sudahkah kita melakukan usaha maksimal untuk mencapai tujuan hidup tersebut? Sudahkah perubahan-perubahan terarah kita lakukan untuk mengapai semua mimpi dan harapan? Apapun jawabannya, semoga kita semua senantiasa diberi semangat untuk selalu memperbaiki diri dan merubah hidup dengan tujuan yang lebih terarah. Untuk apa lagi? Tak lain guna meraih ridho-Nya. Aamiin.
Minggu, 16 Desember 2012
Penjara [Tidak] Membuat Jera
Lembaga Pemasyarakatan atau yang lebih akrab dikenal dengan istilah penjara kini seolah mengalami pergeseran fungsi. Di tengah kasus kriminalitas dan hukum yang membanjir di negeri ini, penjara yang semestinya difungsikan untuk memberikan efek jera bagi narapidana (napi) justru berubah menjadi markas besar tindak kejahatan. Seperti dilansir Harian Jogja Edisi Selasa 4 Desember 2012 lalu, berbagai penyimpangan di penjara hingga saat ini masih menjadi momok bagi upaya penegakan keadilan di Indonesia.
Sejumlah kasus seperti prostitusi, judi, bahkan peredaran narkoba yang bisa terjadi dengan bebas di penjara perlu mendapat catatan tersendiri. Minimnya peralatan penunjang kerja, kurangnya pengawasan, hingga oknum sipir “nakal” selama ini selalu dijadikan “alibi” sejumlah pelanggaran tersebut. Padahal selain faktor-faktor tadi, kita perlu mengantisipasi adanya dugaan kejahatan yang sistematis. Tindak penyimpangan di penjara yang terus berulang setiap tahunnya dan seolah tak pernah putus ini patut dicuragai sebagai kejahatan yang disengaja dan “dilestarikan” oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Kerjasama sejumlah oknum ini terjadi tidak lain karena mereka merasa diuntungkan dengan pelanggaran yang terjadi, sehingga lupa akan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.
Atas nama uang, penegakan hukum kembali tergadaikan. Sebuah pepatah “ada harga ada mutu” seolah turut berlaku di tempat yang sepatutnya memberikan pendidikan moral tersebut. Kini penjara tak ubahnya seperti persewaan apartemen di mana penghuni bisa memilih “tempat tinggal” beserta fasilitasnya sesuai dengan anggaran kantong masing-masing. Ruangan dengan jeruji besi yang selama ini melekat dalam istilah penjara dapat disulap bak kamar hotel berfasilitas mewah. Slogan yang kemudian berlaku hampir di semua lini adalah “semua bisa diatur dengan uang”.
Kasus pelaku suap jaksa, Artalita Suryani yang tinggal dalam penjara mewah adalah salah satu sisi gunung es cacat hukum yang tampak di permukaan. Padahal Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan dengan tegas menjelaskan adanya larangan memberikan perbedaan antara napi yang satu dengan yang lain. Selain itu, dalam Pasal 2 Undang-Undang Lembaga Pemasyarakatan turut menyebutkan bahwa sistem pemasyarakatan yang dicanangkan dalam lembaga tersebut diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Ironisnya, seorang napi yang keluar dari penjara justru seringkali mewujud sebagai pelaku kejahatan yang lebih “handal dan profesional” daripada berubah menjadi warga negara yang patuh hukum.
Pada dasarnya, setiap tindakan yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan sudah sepatutnya diarahkan demi pembelajaran dan penyiapan mental warga negara yang berkarakter. Permasalahan ini terlihat pelik memang, tetapi bagaimanapun tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Hanya saja, prinsip ini akan benar-benar berfungsi ketika semua pihak berkomitmen untuk melakukan reformasi hukum yang menyeluruh. Di samping itu, pendidikan yang baik dalam berbagai level turut memegang peranan penting dalam menciptakan warga negara yang mencintai bangsanya, baik dalam bentuk ideologi maupun dalam bersikap.
Diterbitkan oleh Harian Jogja Edisi 11 Desember 2012
Sejumlah kasus seperti prostitusi, judi, bahkan peredaran narkoba yang bisa terjadi dengan bebas di penjara perlu mendapat catatan tersendiri. Minimnya peralatan penunjang kerja, kurangnya pengawasan, hingga oknum sipir “nakal” selama ini selalu dijadikan “alibi” sejumlah pelanggaran tersebut. Padahal selain faktor-faktor tadi, kita perlu mengantisipasi adanya dugaan kejahatan yang sistematis. Tindak penyimpangan di penjara yang terus berulang setiap tahunnya dan seolah tak pernah putus ini patut dicuragai sebagai kejahatan yang disengaja dan “dilestarikan” oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Kerjasama sejumlah oknum ini terjadi tidak lain karena mereka merasa diuntungkan dengan pelanggaran yang terjadi, sehingga lupa akan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.
Atas nama uang, penegakan hukum kembali tergadaikan. Sebuah pepatah “ada harga ada mutu” seolah turut berlaku di tempat yang sepatutnya memberikan pendidikan moral tersebut. Kini penjara tak ubahnya seperti persewaan apartemen di mana penghuni bisa memilih “tempat tinggal” beserta fasilitasnya sesuai dengan anggaran kantong masing-masing. Ruangan dengan jeruji besi yang selama ini melekat dalam istilah penjara dapat disulap bak kamar hotel berfasilitas mewah. Slogan yang kemudian berlaku hampir di semua lini adalah “semua bisa diatur dengan uang”.
Kasus pelaku suap jaksa, Artalita Suryani yang tinggal dalam penjara mewah adalah salah satu sisi gunung es cacat hukum yang tampak di permukaan. Padahal Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan dengan tegas menjelaskan adanya larangan memberikan perbedaan antara napi yang satu dengan yang lain. Selain itu, dalam Pasal 2 Undang-Undang Lembaga Pemasyarakatan turut menyebutkan bahwa sistem pemasyarakatan yang dicanangkan dalam lembaga tersebut diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Ironisnya, seorang napi yang keluar dari penjara justru seringkali mewujud sebagai pelaku kejahatan yang lebih “handal dan profesional” daripada berubah menjadi warga negara yang patuh hukum.
Pada dasarnya, setiap tindakan yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan sudah sepatutnya diarahkan demi pembelajaran dan penyiapan mental warga negara yang berkarakter. Permasalahan ini terlihat pelik memang, tetapi bagaimanapun tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Hanya saja, prinsip ini akan benar-benar berfungsi ketika semua pihak berkomitmen untuk melakukan reformasi hukum yang menyeluruh. Di samping itu, pendidikan yang baik dalam berbagai level turut memegang peranan penting dalam menciptakan warga negara yang mencintai bangsanya, baik dalam bentuk ideologi maupun dalam bersikap.
Diterbitkan oleh Harian Jogja Edisi 11 Desember 2012
Selasa, 27 November 2012
Come On!
Seringkali kemalasan berjejalan memenuhi hatiku. Kemalasan seperti jeratan tali yang mengikat tubuhku dengan kuat. Kemalasan seperti mampu menyemai bibit-bibit alasan untuk membiarkan sebuah kebaikan tertunda dilaksanakan.
Kini, aku seperti terjebak dalam kemalasan yang melenakan. Oh God.. I wanna change my life!
Aku benci dengan kemalasan. Tapi malas selalu hadir dalam waktu-waktuku. Terlebih WAKTU LUANG. Malas mungkin seperti heroin. Yang kata orang menenangkan dan memberi kepuasaan sesaat, tapi mematikan akibatnya.
Aku benci malas. Malas belajarlah, malas menulis, malas berbenah, ataupun malas untuk segera memulai kebaikan.
Seseorang bilang kepadaku malas adalah masalah klasik. Tapi bagiku malas adalah masalah besar bagi perkembangan hidupku. Malas adalah permasalahan yang selalu kontemporer karena tak kenal waktu dapat meruntuhkan niat-niat baik yang sedang kita bangun. Karena malas telah menyebabkan orang-orang tak mau segera bergerak. Malas membuat perubahan-perubahan yang harusnya terwujud menjadi tertunda. Atau seringkali, malas bahkan mengubur nama-nama calon pembaharu, calon pahlawan, calon inisiator, calon orang-orang yang sejatinya dapat menyetak sejarah tapi enggan meraihnya.
Haruskah aku berada dalam kondisi yang tertekan dan penuh ancaman untuk menghalau rasa malas ini? Haruskah aku dirutuki hujan batu agar mau sadar dan bangkit dari kemalasan? Na'udzubillah.
Kita memang patut belajar dari mereka yang senantiasa mengubur dalam-dalam rasa malas. Seperti orang-orang Palestina yang tak pernah lelah untuk berangkat perang, walau hanya batu yang ada di tangan. Mereka tak lelah menuntut ilmu, walau tak tahu pasti kapan dapat menerapkan ilmunya. Mereka tak pernah berhenti untuk berjuang, meski harus bertaruh nyawa. Ya, mereka seperti tak punya rasa malas. Karena mereka tahu, ada kehidupan yang lebih baik dijanjikan setelah kematian. Ada balasan yang jauh lebih indah atas apa yang mereka perjuangkan. Ada nama Allah yang menggema di ruang-ruang hati mereka.
Ya. Semoga hati kita masih mau diajak untuk berbuat baik. Semoga Allah masih hadir dalam setiap langkah yang kita ambil. Bismillah. semoga keistiqomahan senantiasa membersamai niat yang kita tebar. Aamiin..
Kini, aku seperti terjebak dalam kemalasan yang melenakan. Oh God.. I wanna change my life!
Aku benci dengan kemalasan. Tapi malas selalu hadir dalam waktu-waktuku. Terlebih WAKTU LUANG. Malas mungkin seperti heroin. Yang kata orang menenangkan dan memberi kepuasaan sesaat, tapi mematikan akibatnya.
Aku benci malas. Malas belajarlah, malas menulis, malas berbenah, ataupun malas untuk segera memulai kebaikan.
Seseorang bilang kepadaku malas adalah masalah klasik. Tapi bagiku malas adalah masalah besar bagi perkembangan hidupku. Malas adalah permasalahan yang selalu kontemporer karena tak kenal waktu dapat meruntuhkan niat-niat baik yang sedang kita bangun. Karena malas telah menyebabkan orang-orang tak mau segera bergerak. Malas membuat perubahan-perubahan yang harusnya terwujud menjadi tertunda. Atau seringkali, malas bahkan mengubur nama-nama calon pembaharu, calon pahlawan, calon inisiator, calon orang-orang yang sejatinya dapat menyetak sejarah tapi enggan meraihnya.
Haruskah aku berada dalam kondisi yang tertekan dan penuh ancaman untuk menghalau rasa malas ini? Haruskah aku dirutuki hujan batu agar mau sadar dan bangkit dari kemalasan? Na'udzubillah.
Kita memang patut belajar dari mereka yang senantiasa mengubur dalam-dalam rasa malas. Seperti orang-orang Palestina yang tak pernah lelah untuk berangkat perang, walau hanya batu yang ada di tangan. Mereka tak lelah menuntut ilmu, walau tak tahu pasti kapan dapat menerapkan ilmunya. Mereka tak pernah berhenti untuk berjuang, meski harus bertaruh nyawa. Ya, mereka seperti tak punya rasa malas. Karena mereka tahu, ada kehidupan yang lebih baik dijanjikan setelah kematian. Ada balasan yang jauh lebih indah atas apa yang mereka perjuangkan. Ada nama Allah yang menggema di ruang-ruang hati mereka.
Ya. Semoga hati kita masih mau diajak untuk berbuat baik. Semoga Allah masih hadir dalam setiap langkah yang kita ambil. Bismillah. semoga keistiqomahan senantiasa membersamai niat yang kita tebar. Aamiin..
Senin, 01 Oktober 2012
Inilah Bukti
Di sebuah perjalanan pengembaraan mencari makna. Lensa mataku tiba-tiba tak sengaja membidik sebuah objek yang tersisip dalam luasnya belantara raya. Seketika aku termenenung, terpana akan keajaiban di depan mata. Bukan saja karena keindahan perwujudan fisiknya, namun jauh lebih dalam di sana, ada setitik cahaya yang berpendar menentramkan jiwa. Ada terang yang menembus selimut kabut. Bukannya tak pernah melihat hal ini sebelumnya. Melainkan saat ini semuanya dalam kondisi yang berbeda. Sangat berbeda mungkin. Sebuah jawaban akan keresahan dan kesanksian yang selama ini menggema memenuhi ruang ruang dunia.
*****
(1)Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
(2)berkat ni’mat Tuhan-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
(3)Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
(4)Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
(5)Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
(6)siapa di antara kamu yang gila.
(7)Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Muhammad, sosok yang selalu tercurah dengan doa dan pujian untuknya. Muhammad, pribadi yang amat dicintai oleh kaummnya. Muhammad, seorang yang benar-benar berbudi pekerti luhur; sebagaimana keterangan yang tertulis dalam firman-Nya.
Tak peduli orang mau berkata apa. Tak peduli mereka menuliskan tentang apa. Tak peduli sumpah serapah atas dirinya. Muhammad tak pernah turun derajatnya. Muhammad sekali-kali bukan orang gila. Muhammad selalu dirindukan. Muhammad tetap menjadi tauladan.
*****
Kembali kuselami lautan makna tak bertepi dalam suratan-suratan di depanku. Kedua bola mataku segera menyapu simbol-simbol penanda yang dapat kukais untuk mengikat memoriku. Berharap suatu saat tatkala aku menjumpainya lagi di tempat ini, akan selalu kuingat kisah tentang perjuangan pemeran utama dalam pertarungan wacana penduduk dunia.
Akhirnya, inilah bukti. Atas kemuliaan jiwa tokoh utama. Atas caci maki yang tak bertepi. Atas keresahan orang-orang yang amat mencintai sosoknya. Atas kesanksian yang masih mengudara di atmosfer mayapada.
*****
(1)Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
(2)berkat ni’mat Tuhan-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
(3)Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
(4)Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
(5)Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
(6)siapa di antara kamu yang gila.
(7)Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Muhammad, sosok yang selalu tercurah dengan doa dan pujian untuknya. Muhammad, pribadi yang amat dicintai oleh kaummnya. Muhammad, seorang yang benar-benar berbudi pekerti luhur; sebagaimana keterangan yang tertulis dalam firman-Nya.
Tak peduli orang mau berkata apa. Tak peduli mereka menuliskan tentang apa. Tak peduli sumpah serapah atas dirinya. Muhammad tak pernah turun derajatnya. Muhammad sekali-kali bukan orang gila. Muhammad selalu dirindukan. Muhammad tetap menjadi tauladan.
*****
Kembali kuselami lautan makna tak bertepi dalam suratan-suratan di depanku. Kedua bola mataku segera menyapu simbol-simbol penanda yang dapat kukais untuk mengikat memoriku. Berharap suatu saat tatkala aku menjumpainya lagi di tempat ini, akan selalu kuingat kisah tentang perjuangan pemeran utama dalam pertarungan wacana penduduk dunia.
Akhirnya, inilah bukti. Atas kemuliaan jiwa tokoh utama. Atas caci maki yang tak bertepi. Atas keresahan orang-orang yang amat mencintai sosoknya. Atas kesanksian yang masih mengudara di atmosfer mayapada.
Kamis, 06 September 2012
Sebelum Gelap Menyergap
Jam tanganku menunjukkan pukul 03.15 Waktu Indonesia Bagian Timur ketika kutuliskan rangkaian huruf di layar laptop 12,1 inchi itu. Tak seperti biasanya, aliran listrik di rumah Mama Witi dan Papa Irwan ini belum padam. Hari-hari sebelumnya, ketika jarum jam menunjukkan pukul 22.00 ruangan sudah berselimut gulita. Mulai kemarin malam, lampu padam cukup larut. Saat itu pula kuluangkan untuk sekadar berbagi asa barang satu dua kalimat ke dalam file Microsoft word. Tepat saat pergantian hari pukul 24.00, tak kuasa kulanjutkan goresan cerita di kotak ajaib bermuatan ribuan software milikku. Mendadak baterai laptopku kritis lantaran arus listrik terputus.
Ya, kami hanya bisa menikmati listrik ketika maghrib mulai menjelang. Maklum saja, Desa Bajo yang berada di sebuah pulau bernama Botang Lomang ini belum teraliri jaringan listrik dari PLN. Ironis memang. Di tengah jutaan orang di Pulau Jawa sana dengan leluasanya menghambur-hamburkan uang demi menikmati listrik ribuan kilowatt per hari, di waktu yang sama masyarakat di Halmahera Selatan ini harus rela iuran uang minyak agar rumahnya tak dimakan gelap setiap malamnya.
Sudah beberapa hari kami tinggal di rumah keluarga piara. Selama lima minggu ke depan, aku dan teman-teman mahasiswa UGM akan mengadakan program Kuliah Kerja Nyata atau yang akrab disebut KKN. Kurang lebih seminggu perjalanan dari Jogja naik Hercules, kami baru dapat menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana tidak, pesawat TNI AU yang kami tumpangi itu tidak langsung menuju Halmahera.
Dari bandara Halim Perdana Kusuma kami terbang ke Malang. Setelah transit sekitar 15 menit, Hercules melesat menuju Makasar. Berdiri selama kurang lebih dua jam di Hercules dalam kondisi mengantuk membuat badanku pegal-pegal. Namun perjalanan masih panjang. Sejumlah penumpang turun di Makasar. Beberapa menit berselang setelah kami usai menjama’ sholat dzuhur dan ashar, pesawat harus kembali mengudara menuju Gorontalo.
Di gorontalo, kusempatkan untuk sekadar membasuh wajah barang sebentar. Tak lama kemudian raungan Hercules pun semakin menjadi mengantarkan kami menuju Manado. Hari sudah gelap ketika roda pesawat menyentuh bandara Manado. Bulan bersinar dengan terangnya layaknya bolam lampu raksasa yang menghiasi langit malam.
Setelah berbincang kepada para perwira TNI, atas kebaikan mereka aku dan teman-teman perempuanku ditempatkan di mes anggota dengan ruangan tersendiri. Berbeda dengan teman-temanku yang laki-laki, mereka tidur bersama puluhan penumpang Hercules lain yang turut menginap sebelum besok pagi berangkat ke Morotai. Ada syukur yang membuncah. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Manado.
Usai bersih diri dan sholat, kami sempatkan untuk mencari makan malam di luar. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit ke arah jalan raya, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyediakan nasi goreng, sayur juga sate. Di sela-sela makan, kami baru sadar ternyata rumah makan itu milik orang Jawa Timur. Ditulis dengan jelas di papan menu yang ditempel di dinding setelah pintu masuk, “Warung Makan Jawa Timur”. Aku dan temanku tertawa geli. Jauh-jauh ke Manado, makannya nasi goreng Jawa Timur juga. Memang sudah rejekinya yang empunya rumah makan pikirku.
Selesai makan, kami jalan-jalan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Beberapa teman yang persediaan uang tunainya menipis mengambil ke ATM bandara. Beberapa jepretan foto tak lupa kami abadikan untuk kenang-kenangan.
Malam semakin larut, kaki sudah pegal berjalan. Belum lagi ditambah kepenatan perjalanan seharian di Hercules yang lebih mirip mikrolet angutan kota daripada disebut pesawat. Namanya juga gratisan, semua harus disyukuri pikir kami. Bagaimanapun pengalaman naik Hercules tak bisa tergantikan. Dengan langkah gontai kami akhirnya memutuskan untuk istirahat. Beberapa teman laki-laki entah asyik mengembara ke mana. Ada sedikit rasa iri sebenarnya, karena mereka bisa jalan-jalan keliling Manado. Tapi apa daya, kekecewaan ditinggal pergi duluan membuat kami akhirnya memutuskan untuk menikmati bermalam di mes TNI. Seiring mata terpejam, kami berharap perjalanan esok akan lancar dan menyenangkan. Perjalanan panjang akan menanti ketika esok subuh menjelang.
***
Suara diesel masih terdengar mederu beberapa ratus meter dari pondok Mama Witi. Di rumah Mama Jo, tetangga sebelah, tempat teman laki-laki satu kelompok sub unitku bermalam sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Sejak pukul 23.00 tadi terangnya bolam telah berganti dengan temaram lampu minyak yang digantung di ruang tengah.
Gelap memang terkadang menyakitkan. Sejenak aku berfikir, betapa sengsaranya bila tak ada cahaya yang menembus pupil mataku dan semuanya menjadi hitam. Meski demikian, aku percaya ada hikmah di balik gelap. Dengan gelap, kita belajar untuk menghargai masa terang. Dengan gelap, kita belajar untuk melihat ke dalam diri kita dan mencari berkas-berkas terang yang mungkin terselip dalam hati yang berselimut kelam. Ya, gelap dan terang adalah irama, di mana masing-masing saling mengisi untuk menciptakan harmonisasi kehidupan.
Tiittt.. Tiittt. Tiba-tiba lampu padam seketika. Laptopku sekarat sudah. Ceritaku terputus di sini. Wassalam.
12 Juli 2012, 03.53 WIT
Diedit ulang 7 September 2012, 11.50 WIB
Ya, kami hanya bisa menikmati listrik ketika maghrib mulai menjelang. Maklum saja, Desa Bajo yang berada di sebuah pulau bernama Botang Lomang ini belum teraliri jaringan listrik dari PLN. Ironis memang. Di tengah jutaan orang di Pulau Jawa sana dengan leluasanya menghambur-hamburkan uang demi menikmati listrik ribuan kilowatt per hari, di waktu yang sama masyarakat di Halmahera Selatan ini harus rela iuran uang minyak agar rumahnya tak dimakan gelap setiap malamnya.
Sudah beberapa hari kami tinggal di rumah keluarga piara. Selama lima minggu ke depan, aku dan teman-teman mahasiswa UGM akan mengadakan program Kuliah Kerja Nyata atau yang akrab disebut KKN. Kurang lebih seminggu perjalanan dari Jogja naik Hercules, kami baru dapat menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana tidak, pesawat TNI AU yang kami tumpangi itu tidak langsung menuju Halmahera.
Dari bandara Halim Perdana Kusuma kami terbang ke Malang. Setelah transit sekitar 15 menit, Hercules melesat menuju Makasar. Berdiri selama kurang lebih dua jam di Hercules dalam kondisi mengantuk membuat badanku pegal-pegal. Namun perjalanan masih panjang. Sejumlah penumpang turun di Makasar. Beberapa menit berselang setelah kami usai menjama’ sholat dzuhur dan ashar, pesawat harus kembali mengudara menuju Gorontalo.
Di gorontalo, kusempatkan untuk sekadar membasuh wajah barang sebentar. Tak lama kemudian raungan Hercules pun semakin menjadi mengantarkan kami menuju Manado. Hari sudah gelap ketika roda pesawat menyentuh bandara Manado. Bulan bersinar dengan terangnya layaknya bolam lampu raksasa yang menghiasi langit malam.
Setelah berbincang kepada para perwira TNI, atas kebaikan mereka aku dan teman-teman perempuanku ditempatkan di mes anggota dengan ruangan tersendiri. Berbeda dengan teman-temanku yang laki-laki, mereka tidur bersama puluhan penumpang Hercules lain yang turut menginap sebelum besok pagi berangkat ke Morotai. Ada syukur yang membuncah. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Manado.
Usai bersih diri dan sholat, kami sempatkan untuk mencari makan malam di luar. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit ke arah jalan raya, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyediakan nasi goreng, sayur juga sate. Di sela-sela makan, kami baru sadar ternyata rumah makan itu milik orang Jawa Timur. Ditulis dengan jelas di papan menu yang ditempel di dinding setelah pintu masuk, “Warung Makan Jawa Timur”. Aku dan temanku tertawa geli. Jauh-jauh ke Manado, makannya nasi goreng Jawa Timur juga. Memang sudah rejekinya yang empunya rumah makan pikirku.
Selesai makan, kami jalan-jalan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Beberapa teman yang persediaan uang tunainya menipis mengambil ke ATM bandara. Beberapa jepretan foto tak lupa kami abadikan untuk kenang-kenangan.
Malam semakin larut, kaki sudah pegal berjalan. Belum lagi ditambah kepenatan perjalanan seharian di Hercules yang lebih mirip mikrolet angutan kota daripada disebut pesawat. Namanya juga gratisan, semua harus disyukuri pikir kami. Bagaimanapun pengalaman naik Hercules tak bisa tergantikan. Dengan langkah gontai kami akhirnya memutuskan untuk istirahat. Beberapa teman laki-laki entah asyik mengembara ke mana. Ada sedikit rasa iri sebenarnya, karena mereka bisa jalan-jalan keliling Manado. Tapi apa daya, kekecewaan ditinggal pergi duluan membuat kami akhirnya memutuskan untuk menikmati bermalam di mes TNI. Seiring mata terpejam, kami berharap perjalanan esok akan lancar dan menyenangkan. Perjalanan panjang akan menanti ketika esok subuh menjelang.
***
Suara diesel masih terdengar mederu beberapa ratus meter dari pondok Mama Witi. Di rumah Mama Jo, tetangga sebelah, tempat teman laki-laki satu kelompok sub unitku bermalam sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Sejak pukul 23.00 tadi terangnya bolam telah berganti dengan temaram lampu minyak yang digantung di ruang tengah.
Gelap memang terkadang menyakitkan. Sejenak aku berfikir, betapa sengsaranya bila tak ada cahaya yang menembus pupil mataku dan semuanya menjadi hitam. Meski demikian, aku percaya ada hikmah di balik gelap. Dengan gelap, kita belajar untuk menghargai masa terang. Dengan gelap, kita belajar untuk melihat ke dalam diri kita dan mencari berkas-berkas terang yang mungkin terselip dalam hati yang berselimut kelam. Ya, gelap dan terang adalah irama, di mana masing-masing saling mengisi untuk menciptakan harmonisasi kehidupan.
Tiittt.. Tiittt. Tiba-tiba lampu padam seketika. Laptopku sekarat sudah. Ceritaku terputus di sini. Wassalam.
12 Juli 2012, 03.53 WIT
Diedit ulang 7 September 2012, 11.50 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)