The worth of a state, in the long run is the worth of the individuals composing it
(John Stuart Mill)
Mengapa Amerika menjadi negara yang disegani dunia? Hal ini tak lain karena orang-orang Amerika mampu bersaing secara profesional. Mereka adalah para pekerja keras yang tak kenal lelah. Pemerintah Amerika pun sangat menghargai potensi dari setiap warga negaranya dan konsisten mengembangkan sumber daya manusia melalui sistem pendidikan yang terarah dan disesuaikan minat bakat peserta didiknya.
Negara Jepang yang terkenal dengan kereta api tercepat di dunianya, Shinkansen mempunyai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai kedisiplinan. Negara matahari terbit ini, bahkan menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-1880-an). Orang-orang Jepang juga terkenal dengan pribadi yang penuh inovasi, tak puas dengan karya orang lain dan saling berlomba untuk menghasilkan produk terbaik mereka. Tak mengherankan bila negara ini dapat bangkit dari keporakporandaan akibat bom atom pada Perang Dunia II dengan waktu yang relatif singkat.
Bagaimana dengan Israel? Negara yang sering dikutuk umat Islam ini ternyata mempunyai sumber daya manusia yang tak kalah hebatnya. Jumlah doktor di negara yahudi ini mencapai 10 ribu orang, dari total jumlah penduduknya yang hanya 7 juta jiwa. Angka ini sangat jauh dibandingkan dengan akumulasi doktor di Indonesia yang hanya berkisar 0,01 persen dari populasi penduduk di Tanah Air. Dengan kekuatan sumber daya manusia yang tangguh pula, Israel mempunyai bargaining position di mata dunia.
Kini, mari kita tengok negara yang menghasilkan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia), negara dengan wilayah kepulauan terbesar (17.504 pulau), negara dengan terumbu karang (Coral Reef) terkaya (18% dari total dunia), serta negara dengan hutan bakau terluas di dunia: Indonesia. Seperti apakah kualitas orang-orang yang tinggal di negeri maritim terbesar ini? Ternyata, sebagian besar penduduknya tak mempunyai rencana hidup yang jelas. Hal yang lebih menyedihkan, permasalahan ini banyak dialami oleh para generasi muda Indonesia, yang notabene adalah para pewaris peradaban bangsa. Semangat berprestasi mereka sangat rendah, bahkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi pun bisa dibilang sangat minim.
Padahal, ke depannya, negeri ini membutuh para pemimpin yang cerdas memikirkan bagaimana strategi kemenangan bangsa. Negeri ini membutuhkan pribadi-pribadi yang tangguh dan siap bersaing untuk membangun kembali peradaban Indonesia yang berkarakter. Negeri ini membutuhkan sosok-sosok pemberani dan berwawasan luas guna menghasilkan keputusan-keputusan besar yang kan merubah sejarah dunia.
Untuk itulah kawan, kini saatnya diri kita menunjukkan kekuatan sumber daya manusia Indonesia yang sesungguhnya. Inilah saatnya untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang lebih bermakna. Saat ini pulalah, masa di mana kita harus berubah, menjadi seorang pribadi yang luar biasa, bertanggungjawab dan berperan aktif bagi perbaikan bangsa ini. Karena kesuksesan diri kita, akan menjadi akumulasi yang mengukuhkan tingkat kesuksesan bagi negeri ini di masa depan.
Daftar bacaan:
Marwah Daud Ibrahim, 2003. Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan. Jakarta: MHMMD Production.
http://www.antarajatim.com/lihat/berita/58084/pengamat-jumlah-doktor-di-indonesia-masih-minim
http://www.forumbebas.com/thread-77627.html
http://www.mail-archive.com/filsafat@yahoogroups.com/msg03125.html
Selasa, 17 Mei 2011
Sabtu, 14 Mei 2011
Indonesia dan Putra-Putri Bangsa
"Negeri ini, suatu saat nanti membutuhkan orang-orang yang mampu menjadi pemikir strategis. Negeri ini, suatu saat nanti membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memberikan solusi atas sejumlah permasalahan yang mendera bangsa kita."
Setidaknya penggalan kalimat itulah yang dapat aku jadikan refleksi atas semua yang telah kujalani dalam hidup ini. Sebuah intisari yang dapat kurekam dari sebuah diskusi kecil bersama Agung Baskoro dan Laras Susanti yang sangat inspiratif dan menyadarkan akan eksistensiku saat ini yang ngakunya sebagai seorang majasiswa. Lantas, apa yang telah aku lakukan untuk negeri ini? Padahal carut marut telah mewarnai sketsa mozaik sejarah bangsaku. Setidaknya, sampai saat ini. Yah, aku berharap kesemrawutan itu tak berlarut-larut singgah dalam romansa kehidupan bangsa ini.
Masih banyak yang harus dilakukan kawan..
Masih banyak yang harus diselesaikan.
Saatnya bangkit dari keterpurukan kawan..
Saatnya buktikan pada dunia bahwa negeri ini negeri yang besar.
Dan kita, adalah orang-orang yang akan membawa perubahan itu.
Mengantarkan negei ini pada kemenangan yang benar-benar akan kita genggam.
Dan, Suatu saat nanti...
Anak cucu kita pun akan dengan bangga dan lantang berteriak,
AKU BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA, AKU BANGGA MEMILIKI INDOENSIA
Setidaknya penggalan kalimat itulah yang dapat aku jadikan refleksi atas semua yang telah kujalani dalam hidup ini. Sebuah intisari yang dapat kurekam dari sebuah diskusi kecil bersama Agung Baskoro dan Laras Susanti yang sangat inspiratif dan menyadarkan akan eksistensiku saat ini yang ngakunya sebagai seorang majasiswa. Lantas, apa yang telah aku lakukan untuk negeri ini? Padahal carut marut telah mewarnai sketsa mozaik sejarah bangsaku. Setidaknya, sampai saat ini. Yah, aku berharap kesemrawutan itu tak berlarut-larut singgah dalam romansa kehidupan bangsa ini.
Masih banyak yang harus dilakukan kawan..
Masih banyak yang harus diselesaikan.
Saatnya bangkit dari keterpurukan kawan..
Saatnya buktikan pada dunia bahwa negeri ini negeri yang besar.
Dan kita, adalah orang-orang yang akan membawa perubahan itu.
Mengantarkan negei ini pada kemenangan yang benar-benar akan kita genggam.
Dan, Suatu saat nanti...
Anak cucu kita pun akan dengan bangga dan lantang berteriak,
AKU BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA, AKU BANGGA MEMILIKI INDOENSIA
Minggu, 01 Mei 2011
Setitik Terimakasih
Ya Rabb, sungguh Engkau telah memberiku berjuta nikmat yang sering ku lalaikan. Maafkan aku Ya Allah, jika kehadiran-Mu sering terlalaikan dalam jeratan kesibukan dunia yang senantiasa menyergapku. Lalu, hari ini aku Kau ingatkan kembali, bahwa satu-satunya tempat yang pantas untuk diharapkan adalah Engkau.
Keajaiban itu, walau kecil akan selalu bermakna dalam lika-liku jalan hidupku. Perjalanan itu, walau terjal dan terkadang menyakitkan, tapi aku yakin itulah sketsa yang terbaik dalam lukisan kanvas masa depanku.
Hanya kepada-Mu Rabbi, semua keluh kesah dan rasa suka cita itu terhaturkan. Karena hanya diri-Mu, satu-satunya dzat yang mampu mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal. Subhanallah, Alhamdulillah, La illaha Illallah, Allahuakbar!!!
Keajaiban itu, walau kecil akan selalu bermakna dalam lika-liku jalan hidupku. Perjalanan itu, walau terjal dan terkadang menyakitkan, tapi aku yakin itulah sketsa yang terbaik dalam lukisan kanvas masa depanku.
Hanya kepada-Mu Rabbi, semua keluh kesah dan rasa suka cita itu terhaturkan. Karena hanya diri-Mu, satu-satunya dzat yang mampu mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal. Subhanallah, Alhamdulillah, La illaha Illallah, Allahuakbar!!!
Selasa, 02 November 2010
Sebuah Gambaran Pertarungan Arogansi Penguasa
Pertama kali melihatnya, mungkin film ”Battleship Potemkin” ini sulit dipahami. Dalam rangkaian cerita yang disuguhkan, Sergei Enstein menyisipkan pesan revolusi yang rumit. Film ini dapat disebut sebagai bentuk perayaan Revolusi Rusia yang gagal pertama kali. Dari titik inilah satu dekade kemudian mosi ketidakpercayaan rakyat terhadap Tsarisme mencapai titik kulminasinya hingga meletuslah Revolusi Oktober 1917.
Film bisu hitam-putih yang dirilis tahun 1925 ini mereka ulang pemberontakan para pelaut di kapal perang Potemkin pada musim panas 1905 sebagai salah satu babak penting Revolusi Rusia. Karena revolusi ini mampu memecahkan konsentrasi Dinasti Romanov yang tengah menghadapi Jepang untuk merebut dominasi ekonomi di Manchuria dan Semenanjung Korea. Dengan durasi 72 menit, pemberontakan Potemkin dibagi dalam lima episode pendek: The Men and The Maggots (Manusia dan Belatung), Drama at the Harbour (Peristiwa di Pelabuhan), A Dead Man Calls for Justice (Orang Mati yang Meminta Keadilan), The Odessa Staircases (Tangga Odessa) dan The Meeting with Squadron (Pertemuan dengan Skuadron).
Scene pertama diawali dengan cerita tentang pemberontakan pelaut Potemkin yang dipimpin oleh Frigory Vakulenchuk atas ketidakadilan yang diterima kaum pekerja. Tepat pada 27 Juni, perang pecah ketika marinir menolak perintah Evgeny Golikov, sang kapten kapal untuk mengeksekusi mati para pelaut ’pembangkang’ yang tidak mau memakan sup yang ternyata berasal dari daging busuk yang penuh belatung. Di atas kapal berkekuatan 12.500 ton itu akhirnya Vakulenchuk harus meregangkan nyawanya.
Sergein Einstein sangat lihai mengolah emosi penontonnya dalam potongan-potongan shot yang ditampilkan. Setelah dibuat sedikit jijik dengan ekspose kawanan belatung yang berjejalan dalam tubuh daging busuk, pada scene kedua kekecewaan penonton dipancing dengan tertembaknya Vakulenchuk saat peperangan sedang memuncak.
Selanjutnya perasaan geli bercampur ironi mengusik pikiran saya ketika mayat Vakulenchuk dibaringkan di dermaga pelabuhan Odessa, Ukraina. Di atas tubuh Vakulenchuk mereka menuliskan kalimat: ‘dibunuh karena sepiring sup’. Kemudian penonton diajak untuk sedikit merasa lega ketika rakyat Rusia berbondong-bondong memberikan bantuan bahan makanan untuk pelayaran kapal Potemkin selanjutnya.
Sedangkan bagian paling kolosal dan tragis dimulai ketika pasukan Cossack, unit militer yang dibentuk istana untuk melindungi Dinasti Romanov memporak-porandakan rakyat yang menyerukan mogok massal atas kebengisan penguasa hingga menewaskan Vakulenchuk. Seketika itu juga hujan peluru membuat Tangga Odessa berubah menjadi ladang pembantaian.
Dari segi pengambilan gambar, film ini menyajikan sudut-sudut gambar yang revolusioner pada zaman itu. Tidak seperti sineteron Indonesia yang membatasi ruang gerak aktornya, film ini berusaha melihat peristiwa dari berbagai sisi. Adegan pertarungan di kapal Potemkin ketika para pelaut naik di atas tiang kapal, jatuhnya Vakulenchuk ke laut atau adegan orang-orang yang berjalan di atas jembatan yang disorot dari udara memberikan nuansa tayangan yang menakjubkan untuk menggambarkan konsep drama secara nyata. Film ini dapat pula disebut sebagai peletak dasar dalam bahasa gambar.
Ending cerita ini mengisahkan penolakan empat kapal perang Rusia yang saat itu berpatroli di Laut Hitam untuk menghancurkan kapal Potemkin. Sedangkan pusat komando tertinggi militer Rusia mengeluarkan perintah memaksa pelaut Potemkin menyerahkan diri, atau kapal terancam ditenggelamkan. Lagi-lagi sebuah kebimbangan ditawarkan.
Film terbaik kedua sepanjang masa ini dapat dijadikan alternatif bagi kita untuk kembali menengok sejarah revolusi Rusia yang mendunia. Setidaknya film ini memberikan jembatan dalam membangun gambaran tentang rumitnya pergolakan meraih keadilan dan wajah eksploitasi tenaga rakyat untuk memenuhi ambisi-ambisi Dinasti Romanov di Moskow. Audiens yang dapat diraih dalam film ini sangatlah luas, terlebih isu peperangan dan arogansi penguasa yang menerlantarkan rakyat menjadi perhatian khusus pada masa itu.
Film bisu hitam-putih yang dirilis tahun 1925 ini mereka ulang pemberontakan para pelaut di kapal perang Potemkin pada musim panas 1905 sebagai salah satu babak penting Revolusi Rusia. Karena revolusi ini mampu memecahkan konsentrasi Dinasti Romanov yang tengah menghadapi Jepang untuk merebut dominasi ekonomi di Manchuria dan Semenanjung Korea. Dengan durasi 72 menit, pemberontakan Potemkin dibagi dalam lima episode pendek: The Men and The Maggots (Manusia dan Belatung), Drama at the Harbour (Peristiwa di Pelabuhan), A Dead Man Calls for Justice (Orang Mati yang Meminta Keadilan), The Odessa Staircases (Tangga Odessa) dan The Meeting with Squadron (Pertemuan dengan Skuadron).
Scene pertama diawali dengan cerita tentang pemberontakan pelaut Potemkin yang dipimpin oleh Frigory Vakulenchuk atas ketidakadilan yang diterima kaum pekerja. Tepat pada 27 Juni, perang pecah ketika marinir menolak perintah Evgeny Golikov, sang kapten kapal untuk mengeksekusi mati para pelaut ’pembangkang’ yang tidak mau memakan sup yang ternyata berasal dari daging busuk yang penuh belatung. Di atas kapal berkekuatan 12.500 ton itu akhirnya Vakulenchuk harus meregangkan nyawanya.
Sergein Einstein sangat lihai mengolah emosi penontonnya dalam potongan-potongan shot yang ditampilkan. Setelah dibuat sedikit jijik dengan ekspose kawanan belatung yang berjejalan dalam tubuh daging busuk, pada scene kedua kekecewaan penonton dipancing dengan tertembaknya Vakulenchuk saat peperangan sedang memuncak.
Selanjutnya perasaan geli bercampur ironi mengusik pikiran saya ketika mayat Vakulenchuk dibaringkan di dermaga pelabuhan Odessa, Ukraina. Di atas tubuh Vakulenchuk mereka menuliskan kalimat: ‘dibunuh karena sepiring sup’. Kemudian penonton diajak untuk sedikit merasa lega ketika rakyat Rusia berbondong-bondong memberikan bantuan bahan makanan untuk pelayaran kapal Potemkin selanjutnya.
Sedangkan bagian paling kolosal dan tragis dimulai ketika pasukan Cossack, unit militer yang dibentuk istana untuk melindungi Dinasti Romanov memporak-porandakan rakyat yang menyerukan mogok massal atas kebengisan penguasa hingga menewaskan Vakulenchuk. Seketika itu juga hujan peluru membuat Tangga Odessa berubah menjadi ladang pembantaian.
Dari segi pengambilan gambar, film ini menyajikan sudut-sudut gambar yang revolusioner pada zaman itu. Tidak seperti sineteron Indonesia yang membatasi ruang gerak aktornya, film ini berusaha melihat peristiwa dari berbagai sisi. Adegan pertarungan di kapal Potemkin ketika para pelaut naik di atas tiang kapal, jatuhnya Vakulenchuk ke laut atau adegan orang-orang yang berjalan di atas jembatan yang disorot dari udara memberikan nuansa tayangan yang menakjubkan untuk menggambarkan konsep drama secara nyata. Film ini dapat pula disebut sebagai peletak dasar dalam bahasa gambar.
Ending cerita ini mengisahkan penolakan empat kapal perang Rusia yang saat itu berpatroli di Laut Hitam untuk menghancurkan kapal Potemkin. Sedangkan pusat komando tertinggi militer Rusia mengeluarkan perintah memaksa pelaut Potemkin menyerahkan diri, atau kapal terancam ditenggelamkan. Lagi-lagi sebuah kebimbangan ditawarkan.
Film terbaik kedua sepanjang masa ini dapat dijadikan alternatif bagi kita untuk kembali menengok sejarah revolusi Rusia yang mendunia. Setidaknya film ini memberikan jembatan dalam membangun gambaran tentang rumitnya pergolakan meraih keadilan dan wajah eksploitasi tenaga rakyat untuk memenuhi ambisi-ambisi Dinasti Romanov di Moskow. Audiens yang dapat diraih dalam film ini sangatlah luas, terlebih isu peperangan dan arogansi penguasa yang menerlantarkan rakyat menjadi perhatian khusus pada masa itu.
Kamis, 21 Oktober 2010
Teori Transisional Organisasi
Secara umum, teori dalam organisasi dapat dibagi menjadi tiga kerangka besar. Teori tersebut adalah teori struktural klasik, teori transisional dan teori mutakhir. Namun teori yang akan kita bahas saat ini lebih fokus pada teori transisional saja.
Teori transisional dapat dikatakan sebagai jembatan yang membahas teori klasik mengenai oragnisasi dan manajemen teori sistem serta perilaku yang lebih mutakhir. Konsepsi lama tetap memberikan pengaruh penting terhadap cara kita memahami organisasi. Nemun perbaikan-perbaikan dalam model mulai membawa perubahan praktis dalam cara kita merumuskan organisasi.
Teori Perilaku
1.Teori Komunikasi Kewenangan (Chester Bernard)
Bernard memublikasikan The Function of Executive yaitu Fungsi pertama seorang eksekutif adalah mengembangkan dan memelihara suatu sistem komunikasi. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Definisi Bernard mengenai organisasi formal adalah suatu sistem kegiatan dua orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan terkoordinasikan.
Teori ini menganggap kewenagan merupakan suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. Bernard dikatakan sebagai pelopor yang menempatkan dan menjadikan komunikasi sebagai hal penting dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Maka dari itu, teknis komunikasi lisan dan tulisan merupakan hal yang harus dipelajari guna meningkatkan kualitas dalam berkomunikasi.
2.Teori Hubungan Manusiawi (Elton Mayo)
Teori ini termasuk penemuan besar pada awal tahun 1950-an. Sebelumnya dilakukan penelitian tentang bagaimana korelasi antara penerangan lampu saat bekerja dengan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Kesimpulan yang berkembang dari studi Hawthorne tersebut sering disebut Efek Hawthorne (The Hawthorne Effect). Kesimpulan tersebut adalah: (1) Perhatian terhadap orang-orang boleh jadi mengubah sikap dan perilaku mereka. (2) Moral dan produktivitas dapat meningkat apabila para pegawai mempunyai kesempatan untuk berinteraksi satu dengan lainnya.
Suatu organisasi pasti mempunyai ciri khas dan budaya yang berbeda-beda. Orang-orang yang terlibat di dalam organisasi pun mempunyai karakter sendiri-sendiri. Dari kontak sosial yang terjadi antar anggota kemudian akan muncul struktur informal hubungan sosial dibalik struktur organisasi formal.
3.Teori Fusi Bakke dan Argyris
Suatu proses fusi ditawarkan Bakke guna menghadapi banyaknya masalah yang timbul dalam rangka memuaskan minat manusia yang berlainan dan untuk memenuhi tuntutan penting struktur birokrasi. Bakke berpendapat bahwa organisasi pada suatu tahap tertentu akan mempengaruhi individu yang terlibat di dalamnya. Namun di sisi yang berbeda, individu juga dapat mempengaruhi suatu organisasi.
Sedangkan Argyris berpendapat kadang-kadang individu tersebut memiliki tujuan yang berlawanan dengan organisasi. Hal ini tergantung pada seberapa besar kematangan individu itu sendiri. Akibat ketidaksesuaian tujuan ini, terdapat dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh anggota. Pertama, anggota tersebut keluar dari organisasi, atau tetap bertahan namun bersikap apatis terhadap apa yang sedang terjadi.
4.Teori Peniti Penyambung Likert
Rensis Likert berjasa mengembangkan suatu model yang menggambarkan struktur organisasi. Konsep ini berhubungan dengan kelompok-kelompok dalam organisasi yang saling tumpang tindih. Dari sini muncullah konsep supervisory dan penyedia atau supervisor berfungsi sebagai peniti penyambung. Teori ini lebih menunjukkan pada hubungan antar kelompok daripada hubungan antar pribadi. Misalnya dalam organisasi OSIS di SMA, seorang yang duduk di posisi koordinator divisi Bela Negara selain berada di bawah pertanggungjawaban ketua OSIS juga berperan ganda membawahi sub-divisi lain seperti tonti, kepramukaan, dll.
Dalam penelitiannya, Likert menyatakan bahwa gaya manajemen dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
-Sistem 1
Hubungan antara atasan, organisasi dan bawahan sangatlah kaku. Arus komunikasi lebih ditekankan dari atas ke bawah dan bawahan tidak mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dengan atasan. Rasa saling percaya pada pesan yang disampaikan sangatlah minim. Akibatnya, timbullah organisasi informal yang mempunyai tujuan berbeda dengan organisasi yang ada.
-Sistem 2
Bawahan mempunyai sedikit kesempatan untuk memberikan masukan pada pengambilan keputusan. Mulai terdapat adanya kepercayaan dari manajemen pada bawahan. Kontrol kekuasaan berada di atas. Meskipun rasa curiga masih tetap ada, interaksi dilakukan untuk meraih tujuan organisasi.
-Sistem 3
Kebebasan berdiskusi antara manajer dan bawahan dan interaksi mulai dikembangkan. Meskipun demikian, manajer tidak terlalu percaya akan informasi yang disampaikan bawahan. Organisasi informal ada tetapi bersifat sama sekaligus bertentangan atau menolak manajemen.
-Sistem 4
Dalam sistem ini motivasi kerja dikembangkan dengan partisipasi yang kuat dalam pengambilan keputusan, penetapan goal setting dan penilaian. Manajemen sepenuhnya percaya pada bawahan. Semua diberi kesempatan untuk membuat keputusan. Alur informasi ke atas, ke bawah dan menyilang. Interaksi dalam sistem terbangun. Komunikasi ke atas pada umumnya akurat dan manajer menanggapinya dengan tulus atas feedback tersebut.
Teori Sistem
Dalam suatu system, terdapat adanya keterkaitan antara komponen-komponen di dalamnya.
1.Teori Sistem Sosial Katz dan Kahn
Katz dan Khan berpendapat bahwa struktur sosial berbeda dengan struktur biologis. Apabila sistem sosial berhenti berfungsi, ia tidak lagi mempunyai struktur yang dapat diidentifikasi. Sistem sosial dipahami sebagai suatu struktur peristiwa. Dengan memandang organisasi sebagai sistem sosial yang terdiri dari manusia-manusia, maka komunikasi mutlak diperlukan. Hubungan yang terjalin antara orang-orang yang terlibat dalam suatu organisasi akan membuat organisasi bertahan lebih lama daripada jika individu di dalamnya bekerja secara terpisah dan tidak terjalin ikatan hubungan yang kuat.
Sebagai contoh, suatu perusahaan iklan akan lebih bertahan apabila bagian-bagian di dalamnya saling berkomunikasi dengan baik. Bagian marketing, public relation atau para praktisi desain grafis sekalipun harus terintegrasi secara emosional, bukan hanya struktural semata agar tujuan bersama menjaga branding dapat terwujud. Hubungan orang-orang di perusahaan iklan ini akan membentuk komunikasi yang terpola.
2.Teori Buck Bogers
Buck Rogers merupakan pencipta figur fiksi terkenal dan menginspirasi para tokoh penulis untuk melihat bagaimana nasib organisasi di masa datang. Alvin Toffler meringkaskan ciri-ciri birokrasi baru yang disebut ad-hokrasi sebagai bergerak cepat, kaya dengan informasi, sangat aktif, selalu berubah, terisi dengan unit-unit bersifat sementara dan individu-individu yang selalu bergerak. Dalam ad-hokrasi, bukanlah organisasi yang menarik komitmen pegawai, melainkan pekerjaan, problem yang harus dipecahkan dan tugas yang harus dilakukan. Para ad-hokrat menggunakan keahlian dan bakat mereka untuk memecahkan masalah dalam kelompok dan lingkungan temporer dalam organisasi, sejauh masalahnya menarik minat mereka. Beberapa ad-hokrasi memberi kesan kesederajatan yang merupakan ciri khas organisasi baru. Semua bagian dalam organisasi mempunyai posisi yang seimbang satu sama lain.
Daftar Pustaka:
Pace, R. Wayne and Faules, Don F. 1993. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Deddy Mulyana (ed). Remaja Rosdakarya. Bandung.
Teori transisional dapat dikatakan sebagai jembatan yang membahas teori klasik mengenai oragnisasi dan manajemen teori sistem serta perilaku yang lebih mutakhir. Konsepsi lama tetap memberikan pengaruh penting terhadap cara kita memahami organisasi. Nemun perbaikan-perbaikan dalam model mulai membawa perubahan praktis dalam cara kita merumuskan organisasi.
Teori Perilaku
1.Teori Komunikasi Kewenangan (Chester Bernard)
Bernard memublikasikan The Function of Executive yaitu Fungsi pertama seorang eksekutif adalah mengembangkan dan memelihara suatu sistem komunikasi. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Definisi Bernard mengenai organisasi formal adalah suatu sistem kegiatan dua orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan terkoordinasikan.
Teori ini menganggap kewenagan merupakan suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. Bernard dikatakan sebagai pelopor yang menempatkan dan menjadikan komunikasi sebagai hal penting dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Maka dari itu, teknis komunikasi lisan dan tulisan merupakan hal yang harus dipelajari guna meningkatkan kualitas dalam berkomunikasi.
2.Teori Hubungan Manusiawi (Elton Mayo)
Teori ini termasuk penemuan besar pada awal tahun 1950-an. Sebelumnya dilakukan penelitian tentang bagaimana korelasi antara penerangan lampu saat bekerja dengan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Kesimpulan yang berkembang dari studi Hawthorne tersebut sering disebut Efek Hawthorne (The Hawthorne Effect). Kesimpulan tersebut adalah: (1) Perhatian terhadap orang-orang boleh jadi mengubah sikap dan perilaku mereka. (2) Moral dan produktivitas dapat meningkat apabila para pegawai mempunyai kesempatan untuk berinteraksi satu dengan lainnya.
Suatu organisasi pasti mempunyai ciri khas dan budaya yang berbeda-beda. Orang-orang yang terlibat di dalam organisasi pun mempunyai karakter sendiri-sendiri. Dari kontak sosial yang terjadi antar anggota kemudian akan muncul struktur informal hubungan sosial dibalik struktur organisasi formal.
3.Teori Fusi Bakke dan Argyris
Suatu proses fusi ditawarkan Bakke guna menghadapi banyaknya masalah yang timbul dalam rangka memuaskan minat manusia yang berlainan dan untuk memenuhi tuntutan penting struktur birokrasi. Bakke berpendapat bahwa organisasi pada suatu tahap tertentu akan mempengaruhi individu yang terlibat di dalamnya. Namun di sisi yang berbeda, individu juga dapat mempengaruhi suatu organisasi.
Sedangkan Argyris berpendapat kadang-kadang individu tersebut memiliki tujuan yang berlawanan dengan organisasi. Hal ini tergantung pada seberapa besar kematangan individu itu sendiri. Akibat ketidaksesuaian tujuan ini, terdapat dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh anggota. Pertama, anggota tersebut keluar dari organisasi, atau tetap bertahan namun bersikap apatis terhadap apa yang sedang terjadi.
4.Teori Peniti Penyambung Likert
Rensis Likert berjasa mengembangkan suatu model yang menggambarkan struktur organisasi. Konsep ini berhubungan dengan kelompok-kelompok dalam organisasi yang saling tumpang tindih. Dari sini muncullah konsep supervisory dan penyedia atau supervisor berfungsi sebagai peniti penyambung. Teori ini lebih menunjukkan pada hubungan antar kelompok daripada hubungan antar pribadi. Misalnya dalam organisasi OSIS di SMA, seorang yang duduk di posisi koordinator divisi Bela Negara selain berada di bawah pertanggungjawaban ketua OSIS juga berperan ganda membawahi sub-divisi lain seperti tonti, kepramukaan, dll.
Dalam penelitiannya, Likert menyatakan bahwa gaya manajemen dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
-Sistem 1
Hubungan antara atasan, organisasi dan bawahan sangatlah kaku. Arus komunikasi lebih ditekankan dari atas ke bawah dan bawahan tidak mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dengan atasan. Rasa saling percaya pada pesan yang disampaikan sangatlah minim. Akibatnya, timbullah organisasi informal yang mempunyai tujuan berbeda dengan organisasi yang ada.
-Sistem 2
Bawahan mempunyai sedikit kesempatan untuk memberikan masukan pada pengambilan keputusan. Mulai terdapat adanya kepercayaan dari manajemen pada bawahan. Kontrol kekuasaan berada di atas. Meskipun rasa curiga masih tetap ada, interaksi dilakukan untuk meraih tujuan organisasi.
-Sistem 3
Kebebasan berdiskusi antara manajer dan bawahan dan interaksi mulai dikembangkan. Meskipun demikian, manajer tidak terlalu percaya akan informasi yang disampaikan bawahan. Organisasi informal ada tetapi bersifat sama sekaligus bertentangan atau menolak manajemen.
-Sistem 4
Dalam sistem ini motivasi kerja dikembangkan dengan partisipasi yang kuat dalam pengambilan keputusan, penetapan goal setting dan penilaian. Manajemen sepenuhnya percaya pada bawahan. Semua diberi kesempatan untuk membuat keputusan. Alur informasi ke atas, ke bawah dan menyilang. Interaksi dalam sistem terbangun. Komunikasi ke atas pada umumnya akurat dan manajer menanggapinya dengan tulus atas feedback tersebut.
Teori Sistem
Dalam suatu system, terdapat adanya keterkaitan antara komponen-komponen di dalamnya.
1.Teori Sistem Sosial Katz dan Kahn
Katz dan Khan berpendapat bahwa struktur sosial berbeda dengan struktur biologis. Apabila sistem sosial berhenti berfungsi, ia tidak lagi mempunyai struktur yang dapat diidentifikasi. Sistem sosial dipahami sebagai suatu struktur peristiwa. Dengan memandang organisasi sebagai sistem sosial yang terdiri dari manusia-manusia, maka komunikasi mutlak diperlukan. Hubungan yang terjalin antara orang-orang yang terlibat dalam suatu organisasi akan membuat organisasi bertahan lebih lama daripada jika individu di dalamnya bekerja secara terpisah dan tidak terjalin ikatan hubungan yang kuat.
Sebagai contoh, suatu perusahaan iklan akan lebih bertahan apabila bagian-bagian di dalamnya saling berkomunikasi dengan baik. Bagian marketing, public relation atau para praktisi desain grafis sekalipun harus terintegrasi secara emosional, bukan hanya struktural semata agar tujuan bersama menjaga branding dapat terwujud. Hubungan orang-orang di perusahaan iklan ini akan membentuk komunikasi yang terpola.
2.Teori Buck Bogers
Buck Rogers merupakan pencipta figur fiksi terkenal dan menginspirasi para tokoh penulis untuk melihat bagaimana nasib organisasi di masa datang. Alvin Toffler meringkaskan ciri-ciri birokrasi baru yang disebut ad-hokrasi sebagai bergerak cepat, kaya dengan informasi, sangat aktif, selalu berubah, terisi dengan unit-unit bersifat sementara dan individu-individu yang selalu bergerak. Dalam ad-hokrasi, bukanlah organisasi yang menarik komitmen pegawai, melainkan pekerjaan, problem yang harus dipecahkan dan tugas yang harus dilakukan. Para ad-hokrat menggunakan keahlian dan bakat mereka untuk memecahkan masalah dalam kelompok dan lingkungan temporer dalam organisasi, sejauh masalahnya menarik minat mereka. Beberapa ad-hokrasi memberi kesan kesederajatan yang merupakan ciri khas organisasi baru. Semua bagian dalam organisasi mempunyai posisi yang seimbang satu sama lain.
Daftar Pustaka:
Pace, R. Wayne and Faules, Don F. 1993. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Deddy Mulyana (ed). Remaja Rosdakarya. Bandung.
Sebuah Gambaran Pertarungan Arogansi Penguasa
Pertama kali melihatnya, mungkin film ”Battleship Potemkin” ini sulit dipahami. Dalam rangkaian cerita yang disuguhkan, Sergei Enstein menyisipkan pesan revolusi yang rumit. Film ini dapat disebut sebagai bentuk perayaan Revolusi Rusia yang gagal pertama kali. Dari titik inilah satu dekade kemudian mosi ketidakpercayaan rakyat terhadap Tsarisme mencapai titik kulminasinya hingga meletuslah Revolusi Oktober 1917.
Film bisu hitam-putih yang dirilis tahun 1925 ini mereka ulang pemberontakan para pelaut di kapal perang Potemkin pada musim panas 1905 sebagai salah satu babak penting Revolusi Rusia. Karena revolusi ini mampu memecahkan konsentrasi Dinasti Romanov yang tengah menghadapi Jepang untuk merebut dominasi ekonomi di Manchuria dan Semenanjung Korea. Dengan durasi 72 menit, pemberontakan Potemkin dibagi dalam lima episode pendek: The Men and The Maggots (Manusia dan Belatung), Drama at the Harbour (Peristiwa di Pelabuhan), A Dead Man Calls for Justice (Orang Mati yang Meminta Keadilan), The Odessa Staircases (Tangga Odessa) dan The Meeting with Squadron (Pertemuan dengan Skuadron).
Scene pertama diawali dengan cerita tentang pemberontakan pelaut Potemkin yang dipimpin oleh Frigory Vakulenchuk atas ketidakadilan yang diterima kaum pekerja. Tepat pada 27 Juni, perang pecah ketika marinir menolak perintah Evgeny Golikov, sang kapten kapal untuk mengeksekusi mati para pelaut ’pembangkang’ yang tidak mau memakan sup yang ternyata berasal dari daging busuk yang penuh belatung. Di atas kapal berkekuatan 12.500 ton itu akhirnya Vakulenchuk harus meregangkan nyawanya.
Sergein Einstein sangat lihai mengolah emosi penontonnya dalam potongan-potongan shot yang ditampilkan. Setelah dibuat sedikit jijik dengan ekspose kawanan belatung yang berjejalan dalam tubuh daging busuk, pada scene kedua kekecewaan penonton dipancing dengan tertembaknya Vakulenchuk saat peperangan sedang memuncak. Selanjutnya perasaan geli bercampur ironi mengusik pikiran saya ketika mayat Vakulenchuk dibaringkan di dermaga pelabuhan Odessa, Ukraina. Di atas tubuh Vakulenchuk mereka menuliskan kalimat: ‘dibunuh karena sepiring sup’. Kemudian penonton diajak untuk sedikit merasa lega ketika rakyat Rusia berbondong-bondong memberikan bantuan bahan makanan untuk pelayaran kapal Potemkin selanjutnya.
Sedangkan bagian paling kolosal dan tragis dimulai ketika pasukan Cossack, unit militer yang dibentuk istana untuk melindungi Dinasti Romanov memporak-porandakan rakyat yang menyerukan mogok massal atas kebengisan penguasa hingga menewaskan Vakulenchuk. Seketika itu juga hujan peluru membuat Tangga Odessa berubah menjadi ladang pembantaian.
Dari segi pengambilan gambar, film ini menyajikan sudut-sudut gambar yang revolusioner pada zaman itu. Tidak seperti sineteron Indonesia yang membatasi ruang gerak aktornya, film ini berusaha melihat peristiwa dari berbagai sisi. Adegan pertarungan di kapal Potemkin ketika para pelaut naik di atas tiang kapal, jatuhnya Vakulenchuk ke laut atau adegan orang-orang yang berjalan di atas jembatan yang disorot dari udara memberikan nuansa tayangan yang menakjubkan untuk menggambarkan konsep drama secara nyata. Film ini dapat pula disebut sebagai peletak dasar dalam bahasa gambar.
Ending cerita ini mengisahkan penolakan empat kapal perang Rusia yang saat itu berpatroli di Laut Hitam untuk menghancurkan kapal Potemkin. Sedangkan pusat komando tertinggi militer Rusia mengeluarkan perintah memaksa pelaut Potemkin menyerahkan diri, atau kapal terancam ditenggelamkan. Lagi-lagi sebuah kebimbangan ditawarkan.
Film terbaik kedua sepanjang masa ini dapat dijadikan alternatif bagi kita untuk kembali menengok sejarah revolusi Rusia yang mendunia. Setidaknya film ini memberikan jembatan dalam membangun gambaran tentang rumitnya pergolakan meraih keadilan dan wajah eksploitasi tenaga rakyat untuk memenuhi ambisi-ambisi Dinasti Romanov di Moskow. Audiens yang dapat diraih dalam film ini sangatlah luas, terlebih isu peperangan dan arogansi penguasa yang menerlantarkan rakyat menjadi perhatian khusus pada masa itu.
Film bisu hitam-putih yang dirilis tahun 1925 ini mereka ulang pemberontakan para pelaut di kapal perang Potemkin pada musim panas 1905 sebagai salah satu babak penting Revolusi Rusia. Karena revolusi ini mampu memecahkan konsentrasi Dinasti Romanov yang tengah menghadapi Jepang untuk merebut dominasi ekonomi di Manchuria dan Semenanjung Korea. Dengan durasi 72 menit, pemberontakan Potemkin dibagi dalam lima episode pendek: The Men and The Maggots (Manusia dan Belatung), Drama at the Harbour (Peristiwa di Pelabuhan), A Dead Man Calls for Justice (Orang Mati yang Meminta Keadilan), The Odessa Staircases (Tangga Odessa) dan The Meeting with Squadron (Pertemuan dengan Skuadron).
Scene pertama diawali dengan cerita tentang pemberontakan pelaut Potemkin yang dipimpin oleh Frigory Vakulenchuk atas ketidakadilan yang diterima kaum pekerja. Tepat pada 27 Juni, perang pecah ketika marinir menolak perintah Evgeny Golikov, sang kapten kapal untuk mengeksekusi mati para pelaut ’pembangkang’ yang tidak mau memakan sup yang ternyata berasal dari daging busuk yang penuh belatung. Di atas kapal berkekuatan 12.500 ton itu akhirnya Vakulenchuk harus meregangkan nyawanya.
Sergein Einstein sangat lihai mengolah emosi penontonnya dalam potongan-potongan shot yang ditampilkan. Setelah dibuat sedikit jijik dengan ekspose kawanan belatung yang berjejalan dalam tubuh daging busuk, pada scene kedua kekecewaan penonton dipancing dengan tertembaknya Vakulenchuk saat peperangan sedang memuncak. Selanjutnya perasaan geli bercampur ironi mengusik pikiran saya ketika mayat Vakulenchuk dibaringkan di dermaga pelabuhan Odessa, Ukraina. Di atas tubuh Vakulenchuk mereka menuliskan kalimat: ‘dibunuh karena sepiring sup’. Kemudian penonton diajak untuk sedikit merasa lega ketika rakyat Rusia berbondong-bondong memberikan bantuan bahan makanan untuk pelayaran kapal Potemkin selanjutnya.
Sedangkan bagian paling kolosal dan tragis dimulai ketika pasukan Cossack, unit militer yang dibentuk istana untuk melindungi Dinasti Romanov memporak-porandakan rakyat yang menyerukan mogok massal atas kebengisan penguasa hingga menewaskan Vakulenchuk. Seketika itu juga hujan peluru membuat Tangga Odessa berubah menjadi ladang pembantaian.
Dari segi pengambilan gambar, film ini menyajikan sudut-sudut gambar yang revolusioner pada zaman itu. Tidak seperti sineteron Indonesia yang membatasi ruang gerak aktornya, film ini berusaha melihat peristiwa dari berbagai sisi. Adegan pertarungan di kapal Potemkin ketika para pelaut naik di atas tiang kapal, jatuhnya Vakulenchuk ke laut atau adegan orang-orang yang berjalan di atas jembatan yang disorot dari udara memberikan nuansa tayangan yang menakjubkan untuk menggambarkan konsep drama secara nyata. Film ini dapat pula disebut sebagai peletak dasar dalam bahasa gambar.
Ending cerita ini mengisahkan penolakan empat kapal perang Rusia yang saat itu berpatroli di Laut Hitam untuk menghancurkan kapal Potemkin. Sedangkan pusat komando tertinggi militer Rusia mengeluarkan perintah memaksa pelaut Potemkin menyerahkan diri, atau kapal terancam ditenggelamkan. Lagi-lagi sebuah kebimbangan ditawarkan.
Film terbaik kedua sepanjang masa ini dapat dijadikan alternatif bagi kita untuk kembali menengok sejarah revolusi Rusia yang mendunia. Setidaknya film ini memberikan jembatan dalam membangun gambaran tentang rumitnya pergolakan meraih keadilan dan wajah eksploitasi tenaga rakyat untuk memenuhi ambisi-ambisi Dinasti Romanov di Moskow. Audiens yang dapat diraih dalam film ini sangatlah luas, terlebih isu peperangan dan arogansi penguasa yang menerlantarkan rakyat menjadi perhatian khusus pada masa itu.
Rabu, 20 Oktober 2010
Wajah Jurnalisme Indonesia
Orde Baru menjadi masa suram bagi kebebasan pers di Indonesia. Kemudian reformasi dianggap sebagai dewa penyelamat atas keterpurukan dunia jurnalisme sekaligus menjadi batu loncatan menuju arus informasi tanpa batas. Namun, era reformasi yang datangnya tiba-tiba tersebut sepertinya hanya dimanfaatkan sebagai pelampiasan keterkungkungan semata. Inssan media belum menyiapkan secara kultural maupun fajar baru kebebasan informasi.
Tak hanya dari lingkungan eksternal yang menjadi tantangan jurnalisme saat ini. Usaha mempertahankan idealisme fungsi pers dan memperbaiki kinerja pegiat jurnalistik menjadi menjadi PR bersama yang lebih serius. Dengan demikian perwujudan jurnalisme kita benar-benar mampu melayani kepentingan publik sekaligus sebagai anjing penjaga terhadap potensi penyalahgunaan wewenang dan kuasa oleh pemerintah.
Jurnalisme mulut yang mendominasi
Kebiasaan lama wartawan yang mengandalkan peliputan opinion news atau talking news sampai saat ini belum bisa ditinggalkan. Kejadian seperti ini akan mengarah pada juranlisme yang subjektif dan relatif. Situasi kesenjangan antara wacana yang diproduksi dan realitas empirik faktual (hiper-rality) yang terjadi akan rawan terjadi. Pada akhirnya fakta yang berkembang dari bawah kurang tertransformasikan dalam muatan media. Dengan demikian media dianggap belum siap memerankan agenda setting untuk merumuskan hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat sehingga bisa dijadikan masukan dalam formulasi kebijakan.
Wartawan kita cenderung malas untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Terlebih dengan hadirnya kecanggihan teknologi yang semakin mempermudah informasi. Proses pencarian berita yang membutuhkan wawancara pun terkadang hanya dilakukan via telepon atau media lainnya. Kesungguhan wartawan Indonesia untuk memberikan data yang akurat dan berimbang kepada publik masih dipengaruhi oleh nominal finansial yang diberikan daripada atas nama sebuah dedikasi.
Pada kasus perseteruan Indonesia dengan Malaysia belum lama ini sebagai contohnya. Sebagian besar jenis jurnalisme berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan wartawan hanya sebatas menyuguhkan testimoni dari para tokoh semata. Apabila kita melihat isi berita tentang kondisi Malaysia dan Indonesia di televisi, maka pilihan berita yang ditawarkan lebih banyak dengan konsep debat publik. Dari perdebatan itu pun tidak dihadirkan secara gamblang tentang solusi yang ditawarkan. Semuanya sebatas pada wacana publik tanpa disertai usaha untuk mengurai permasalahan yang ada.
Jurnalism of attachment yang tak pada tempatnya
Jurnalism of attachment merupakan suatu konsep jurnalisme yang di dalamnya melibatkan unsur emosi manusia. Hingga saat ini terdapat banyak kritik akan konsep penayangan berita yang dianggap tidak beretika. Alih-alih bertujuan untuk memberikan gambaran realita yang ada, justru menimbulkan efek negatif bagi sisi psikologi masyarakat.
Pada peristiwa pengevakuasi korban kecelakaan kereta api, seorang kameramen menangkap gambar seorang mayat yang dijatuhkan dari atas kereta karena dimungkinkan pengevakuasi telah merasa lelah. Sebagai media yang beradap, seharusnya gambar tersebut tidak ditayangkan. Justru bukan rasa simpati yang ditimbulkan, namun hardikan atas sikap tak bermoral tersebut.
Kebebasan informasi oleh media saat ini justru mengarahkan perhatian pada peliputan ”perbedaan” dan ”konflik” justru mengalami perbesaran dalam banyak aspek (blow up). Contoh lain pada kasus terorisme yang banyak menyita perhatian masyarakat. Di satu sisi masyarakat anti terhadap terorisme, namun di sisi lain justru terdapat prasangka negatif terhadap kaum muslim yang secara tidak langsung selalu dikaitkan degan aksi pengeboman yang ada.
Media di Indoensia menurut saya saat ini banyak berjenis journalism of attachment. Pada satu sisi, jenis jurnalismne ini membawa dampak positif, namun di sisi yang lain dapat menumbuhkan prasangka atau efek negatif terhadap psikologis seseorang. Meskipun menimbulkan efek jera pada suatu peristiwa merupakan tujuan dari jenis journalism of attachment, namun terkadang efek yang ditimbulkan tidak sesuai atau justru berkebalikan dengan tujuan awal pemberitaannya.
Daftar Pustaka:
Panuju, Redi. 2002. Relasi Kuasa Negara Media Massa dan Publik (Pertarungan Memenangkan Opini Publik dan Peran dalam Transformasi Sosial). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tak hanya dari lingkungan eksternal yang menjadi tantangan jurnalisme saat ini. Usaha mempertahankan idealisme fungsi pers dan memperbaiki kinerja pegiat jurnalistik menjadi menjadi PR bersama yang lebih serius. Dengan demikian perwujudan jurnalisme kita benar-benar mampu melayani kepentingan publik sekaligus sebagai anjing penjaga terhadap potensi penyalahgunaan wewenang dan kuasa oleh pemerintah.
Jurnalisme mulut yang mendominasi
Kebiasaan lama wartawan yang mengandalkan peliputan opinion news atau talking news sampai saat ini belum bisa ditinggalkan. Kejadian seperti ini akan mengarah pada juranlisme yang subjektif dan relatif. Situasi kesenjangan antara wacana yang diproduksi dan realitas empirik faktual (hiper-rality) yang terjadi akan rawan terjadi. Pada akhirnya fakta yang berkembang dari bawah kurang tertransformasikan dalam muatan media. Dengan demikian media dianggap belum siap memerankan agenda setting untuk merumuskan hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat sehingga bisa dijadikan masukan dalam formulasi kebijakan.
Wartawan kita cenderung malas untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Terlebih dengan hadirnya kecanggihan teknologi yang semakin mempermudah informasi. Proses pencarian berita yang membutuhkan wawancara pun terkadang hanya dilakukan via telepon atau media lainnya. Kesungguhan wartawan Indonesia untuk memberikan data yang akurat dan berimbang kepada publik masih dipengaruhi oleh nominal finansial yang diberikan daripada atas nama sebuah dedikasi.
Pada kasus perseteruan Indonesia dengan Malaysia belum lama ini sebagai contohnya. Sebagian besar jenis jurnalisme berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan wartawan hanya sebatas menyuguhkan testimoni dari para tokoh semata. Apabila kita melihat isi berita tentang kondisi Malaysia dan Indonesia di televisi, maka pilihan berita yang ditawarkan lebih banyak dengan konsep debat publik. Dari perdebatan itu pun tidak dihadirkan secara gamblang tentang solusi yang ditawarkan. Semuanya sebatas pada wacana publik tanpa disertai usaha untuk mengurai permasalahan yang ada.
Jurnalism of attachment yang tak pada tempatnya
Jurnalism of attachment merupakan suatu konsep jurnalisme yang di dalamnya melibatkan unsur emosi manusia. Hingga saat ini terdapat banyak kritik akan konsep penayangan berita yang dianggap tidak beretika. Alih-alih bertujuan untuk memberikan gambaran realita yang ada, justru menimbulkan efek negatif bagi sisi psikologi masyarakat.
Pada peristiwa pengevakuasi korban kecelakaan kereta api, seorang kameramen menangkap gambar seorang mayat yang dijatuhkan dari atas kereta karena dimungkinkan pengevakuasi telah merasa lelah. Sebagai media yang beradap, seharusnya gambar tersebut tidak ditayangkan. Justru bukan rasa simpati yang ditimbulkan, namun hardikan atas sikap tak bermoral tersebut.
Kebebasan informasi oleh media saat ini justru mengarahkan perhatian pada peliputan ”perbedaan” dan ”konflik” justru mengalami perbesaran dalam banyak aspek (blow up). Contoh lain pada kasus terorisme yang banyak menyita perhatian masyarakat. Di satu sisi masyarakat anti terhadap terorisme, namun di sisi lain justru terdapat prasangka negatif terhadap kaum muslim yang secara tidak langsung selalu dikaitkan degan aksi pengeboman yang ada.
Media di Indoensia menurut saya saat ini banyak berjenis journalism of attachment. Pada satu sisi, jenis jurnalismne ini membawa dampak positif, namun di sisi yang lain dapat menumbuhkan prasangka atau efek negatif terhadap psikologis seseorang. Meskipun menimbulkan efek jera pada suatu peristiwa merupakan tujuan dari jenis journalism of attachment, namun terkadang efek yang ditimbulkan tidak sesuai atau justru berkebalikan dengan tujuan awal pemberitaannya.
Daftar Pustaka:
Panuju, Redi. 2002. Relasi Kuasa Negara Media Massa dan Publik (Pertarungan Memenangkan Opini Publik dan Peran dalam Transformasi Sosial). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Langganan:
Postingan (Atom)