Rabu, 20 Oktober 2010
Wajah Jurnalisme Indonesia
Tak hanya dari lingkungan eksternal yang menjadi tantangan jurnalisme saat ini. Usaha mempertahankan idealisme fungsi pers dan memperbaiki kinerja pegiat jurnalistik menjadi menjadi PR bersama yang lebih serius. Dengan demikian perwujudan jurnalisme kita benar-benar mampu melayani kepentingan publik sekaligus sebagai anjing penjaga terhadap potensi penyalahgunaan wewenang dan kuasa oleh pemerintah.
Jurnalisme mulut yang mendominasi
Kebiasaan lama wartawan yang mengandalkan peliputan opinion news atau talking news sampai saat ini belum bisa ditinggalkan. Kejadian seperti ini akan mengarah pada juranlisme yang subjektif dan relatif. Situasi kesenjangan antara wacana yang diproduksi dan realitas empirik faktual (hiper-rality) yang terjadi akan rawan terjadi. Pada akhirnya fakta yang berkembang dari bawah kurang tertransformasikan dalam muatan media. Dengan demikian media dianggap belum siap memerankan agenda setting untuk merumuskan hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat sehingga bisa dijadikan masukan dalam formulasi kebijakan.
Wartawan kita cenderung malas untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Terlebih dengan hadirnya kecanggihan teknologi yang semakin mempermudah informasi. Proses pencarian berita yang membutuhkan wawancara pun terkadang hanya dilakukan via telepon atau media lainnya. Kesungguhan wartawan Indonesia untuk memberikan data yang akurat dan berimbang kepada publik masih dipengaruhi oleh nominal finansial yang diberikan daripada atas nama sebuah dedikasi.
Pada kasus perseteruan Indonesia dengan Malaysia belum lama ini sebagai contohnya. Sebagian besar jenis jurnalisme berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan wartawan hanya sebatas menyuguhkan testimoni dari para tokoh semata. Apabila kita melihat isi berita tentang kondisi Malaysia dan Indonesia di televisi, maka pilihan berita yang ditawarkan lebih banyak dengan konsep debat publik. Dari perdebatan itu pun tidak dihadirkan secara gamblang tentang solusi yang ditawarkan. Semuanya sebatas pada wacana publik tanpa disertai usaha untuk mengurai permasalahan yang ada.
Jurnalism of attachment yang tak pada tempatnya
Jurnalism of attachment merupakan suatu konsep jurnalisme yang di dalamnya melibatkan unsur emosi manusia. Hingga saat ini terdapat banyak kritik akan konsep penayangan berita yang dianggap tidak beretika. Alih-alih bertujuan untuk memberikan gambaran realita yang ada, justru menimbulkan efek negatif bagi sisi psikologi masyarakat.
Pada peristiwa pengevakuasi korban kecelakaan kereta api, seorang kameramen menangkap gambar seorang mayat yang dijatuhkan dari atas kereta karena dimungkinkan pengevakuasi telah merasa lelah. Sebagai media yang beradap, seharusnya gambar tersebut tidak ditayangkan. Justru bukan rasa simpati yang ditimbulkan, namun hardikan atas sikap tak bermoral tersebut.
Kebebasan informasi oleh media saat ini justru mengarahkan perhatian pada peliputan ”perbedaan” dan ”konflik” justru mengalami perbesaran dalam banyak aspek (blow up). Contoh lain pada kasus terorisme yang banyak menyita perhatian masyarakat. Di satu sisi masyarakat anti terhadap terorisme, namun di sisi lain justru terdapat prasangka negatif terhadap kaum muslim yang secara tidak langsung selalu dikaitkan degan aksi pengeboman yang ada.
Media di Indoensia menurut saya saat ini banyak berjenis journalism of attachment. Pada satu sisi, jenis jurnalismne ini membawa dampak positif, namun di sisi yang lain dapat menumbuhkan prasangka atau efek negatif terhadap psikologis seseorang. Meskipun menimbulkan efek jera pada suatu peristiwa merupakan tujuan dari jenis journalism of attachment, namun terkadang efek yang ditimbulkan tidak sesuai atau justru berkebalikan dengan tujuan awal pemberitaannya.
Daftar Pustaka:
Panuju, Redi. 2002. Relasi Kuasa Negara Media Massa dan Publik (Pertarungan Memenangkan Opini Publik dan Peran dalam Transformasi Sosial). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Manifestasi Pertarungan Ideologi dalam "Ladri Di Biciclette"
”Ladri di Biciclette” atau lebih dikenal dengan judul ”The Bicycle Thieves” merupakan sebuah film yang muncul sebagai gerakan tentang neorealisme. Jika Amerika datang dengan sifat hiburannya yang banyak bercerita tentang masyarakat modern dan menonjolkan pernak-pernik kehidupan yang serba ’wah’, maka sebagai tandingannya film neorealisme ini muncul dengan mengangkat permasalahan di kalangan orang-orang miskin dan menegah sebagai karakteristiknya.
Disutradarai oleh Vittorio De Sica, film ini berusaha memberikan sebuah cerita yang alami dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kekuatan lain yang terkandung dalam film Italia ini adalah upaya mengusung kejujuran akan dinamika sebuah kehidupan. Inilah yang menjadi pembeda! Film ini tidak neko-neko atau sok pragmatis seperti yang sering kita jumpai pada kebanyakan perfilman Indonesia sendiri. Hal yang saya sukai adalah film ini berusaha tampil apa apadanya dalam menceritakan realita sosial yang terjadi. Tak ada dramatisasi yang menurut saya cenderung mengarah pada pemuasan kesenangan sementara dibanding memberikan refleksi akan pesan yang ingin disampaikan melaui alur cerita yang disuguhkan.
Film yang dirilis pada 1948 ini bercerita tentang kisah pencarian sepeda kumbang milik seorang pekerja miskin penempel poster bernama Antonio Ricci (Lamberto Maggiorani). Sepeda Ricci dicuri seorang pemuda bertopi jerman di hari pertamanya bekerja. Padahal untuk mendapatkan sepeda itu, Maria Ricci (Lianella Carell), istrinya telah merelakan kasur tempat mereka tidur untuk dijual. Bayangan kembali menjadi pengangguran di tengah krisis ekonomi Italia pasca Perang Dunia II senantiasa menghantui pikiran Ricci. Tanpa sepedanya, Ricci tak dapat menafkahi istri dan kedua anaknya. Dari sepedanya, Ricci menggantungkan sejumput asa untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Bersusah payah Ricci berusaha menemukan sepedanya kembali. Ricci melaporkan perkara pencurian sepedanya kepada polisi. Namun pengaduan sepele Ricci nampaknya tak terlalu digubris para penegak hukum tersebut. Hal ini mengingatkan saya pada sistem pengabdian polisi di Indonesia. Tak jauh berbeda, sepertinya keseriusan dalam proses penyidikan hanya untuk menangani masalah-masalah besar dan fenomenal semata. Bahkan status sosial turut menjadi variabel penting dalam usaha justifikasi perkara.
Kali ini dengan dibantu teman-temannya Ricci melakukan pencarian di tempat-tempat penjualan sepeda di sepanjang jalanan Roma. Namun jerih payah itu masih tak membuahkan hasil. Akhirnya bersama anak pertamanya, Bruno (Enzo Staiola), Ricci melanjutkan pencariannya. Dari sini mulai terlihat sisi keegoisan Ricci yang hanya terfokus pada sepedanya semata. Bruno sering tercampakkan oleh ambisi ayahnya itu. Meskipun sebelumnya sempat kecewa dengan sikap Ricci, Bruno berusaha memahami keadaan yang menimpa ayahnya itu. Penjiwaan Enzo Staiola mampu memberikan karakter tersendiri pada sosok pria kecil energik dan polos bernama Bruno itu. Tingkah polahnya membuat cerita yang disajikan semakin hidup dan sangat disayangkan apabila tak menyimaknya.
Di bagian lain cerita ini, Ricci dipertemukan dengan pemuda yang mencuri sepedanya. Dengan semangat menggebu Ricci mengejar pria tersebut dan terus menuntut agar sepedanya dikembalikan. Namun si pemuda mengelak telah mengambil sepeda Ricci. Parahnya, perlakuan Ricci ini telah membuat epilepsi si pemuda kumat. Kontan peristiwa ini menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Keributan pun terjadi. Hingga akhirnya polisi datang untuk menyelesaikan pertikaian tersebut. Namun, karena tidak mempunyai bukti dan saksi yang kuat atas tuduhan yang diberikan, Ricci pun akhirnya disuruh meninggalkan tempat tersebut sebelum warga naik pitam.
Cerita ini berakhir dengan tergodanya hati Ricci untuk bertolak peran menjadi seorang pencuri sepeda. Setelah sempat dilanda kegundahan, akhirnya Ricci nekat mencuri sebuah sepeda yang tersandar di dekat pintu masuk sebuah gedung besar di tepi jalanan yang lengang. Namun aksi pencurian amatir itu berakhir dengan kepahitan. Bruno menyaksikan ayahnya tak berdaya dikeroyok massa yang marah atas perbuatan Ricci. Ia menangisi semua yang terjadi pada ayahnya. Dengan mata sembab ia memandangi wajah ayahnya tersebut. Beruntung sang pemilik sepeda membebaskan Ricci. Dengan gontai dan suasana hati yang bercampur aduk mereka berjalan di tengah keramaian jalan raya. Walau membisu, pikiran mereka terus mengembara, mencoba mengais makna yang sempat terlupa.
Ending cerita ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana kisah ini dibangun dalam rangkaian pengalaman yang dialami sang aktor. Bagaimanapun juga unsur manusiawi itu akan tetap ada dan tak dapat dimanipulasi dengan sosok superhero manapun. Karena ini semua bercerita tentang manusia dan sederet permasalahan yang mengiringinya. Bukan tentang Tuhan ataupun Dewa.
Dunia toh tidak buta. Film sederhana ”The Bicycle Thieves" ini berhasil menyabet piala Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film tahun 1949. AFI (American Film Institute) mengatagorikan film ini dalam daftar 100 film berbahasa asing (non-Inggris) terbaik sepanjang masa. Bahkan para sutradara kelas internasional seperti Ken Loach, Joel Schumacher dan Stanley Kubrick menganggap bahwa inilah film terbaik yang pernah ada.
Sumber inspirasi:
http://klubkajianfilmikj.wordpress.com/2009/04/30/neorealisme-menurut-andre-bazin/
http://resensi-resensi-film.blogspot.com/2010/06/ladri-di-biciclette.html
Selasa, 05 Oktober 2010
“Alangkah Lucunya Negeri Ini”: Potret Keprihatinan Akan Indonesia”
Film ini diawali dengan cerita perjalanan seorang Sarjana Manajemen bernama Muluk (Reza Rahadian) yang tengah berjuang mencari pekerjaan. Di tengah usahanya untuk mendapatkan penghasilan tetap ia memergoki aksi komplotan pencopet cilik sedang beraksi di tengah keramaian pasar. Dari sinilah Muluk mulai kenal dengan Komet, ketua pencopet pasar yang sempat ditangkap Muluk namun akhirnya dilepaskan. Peristiwa ini kemudian menghantarkan Muluk pada markas besar kawanan pencopet yang diketuai oleh Jarot (Tio Pakusadewo).
Gagagasan untuk menerapkan sistem manajemen dalam mengelola hasil pencopetan pun muncul. Setelah disetujui oleh ketua komplotan, Muluk pun melaksanan rencananya dengan memberikan pengarahan dan lambat laun memasukkan pembelajaran agama serta pancasila dalam menjalankan misinya. Tujuan Muluk hanya ingin mendidik mereka mencari penghasilan yang halal dengan berganti profesi menjadi pedagang asongan. Bagian yang diterima Muluk adalah 10% dari hasil mencopet.
Intrik kecil muncul ketika Haji Makbul (Deddy Mizwar), bapaknya Muluk menanyakan posisi pekerjaan yang tengah ditekuninya. Dengan sedikit canggung ia menjawab, ” Pengembangan Sumber Daya Manusia.” Selain itu Haji Sarbini (Jaja Miharja) juga mendesak Muluk untuk segera menikahi putrinya sebelum didahului calon anggota DPR bernama Jupri (Edwin ‘Bejo’).
Suatu ketika Haji Rahmat (Slamet Rahardjo Djarot) ingin sekali melihat kantor anaknya, Pipit (Tika Bravani) yang waktu itu telah menjadi guru agama di sekolah pencopetan itu. Syamsul (Asrul Dahlan), seorang Sarjana Pendidikan yang hobi bermain gaple di pos ronda juga turut merubah diri menjadi guru pancasila.
Klimaks terjadi ketika para orang tua, Haji Makbul, Haji Sarbini, Haji Rahmat mengetahui bahwa anak-anak mereka mendapatkan gaji dari uang hasil mencopet. Darah haram telah mengalir dalam diri mereka. Tak kuasa melihat kelakuan Pipit dan Muluk, Haji Rahmat dan Haji Makbul meminta ampun kepada Allah swt. di mushola dengan tangisnya yang tumpah. Melihat hal ini, Pipit dan Muluk pun akhirnya memutuskan untuk berhenti dari profesi mereka.
Film ”Alangkah Lucunya Negeri Ini” mampu yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini dikemas secara apik namun tetap syarat nilai. Aria Kusumadewa sebagai pendamping sutradara yang dekat dengan topik anak jalanan berhasil memberikan sentuhan alami dalam akting para pencopet cilik yang memukau. Film yang berdurasi 105 menit ini begitu mengalir tanpa kekakuan. Ada kelucuan, pesan moral dan keprihatinan yang berbaur mempesona dalam narasi yang disuguhkan. Setting yang dipilih pun mampu menggambarkan realitas sosial yang ingin disampaikan.
Dialog cerdas berderai dari obrolan para tokohnya. Pernyataan apakah pendidikan penting atau tidak penting mewarnai alur cerita. Ocehan para bocah tentang cita-cita menjadi koruptor memberi refleksi akan sikap pemimpin yang harus dikritisi. Sindiran orang-orang di sekitar Muluk akan fenomena para sarjana yang menganggur turut memberikan detail kompleksnya permasalahan bangsa ini.
Di akhir cerita ada sebuah pernyataan yang menarik perhatian saya: “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, bunyi pasal 34 UUD 1945. Bagaimana mungkin para pedagang asongan turut menjadi bulan-bulanan petugas Satpol PP yang notabene mengatasnamakan Pemerintah dalam usaha menertibkan lalu lintas. Lalu, di mana implementasi pasal 34 di atas? Bagaimana bentuk kepedulian Pemerintah dalam memelihara mereka? Sedangkan bertriliun rupiah dengan gampangnya mengalir kepada korporasi asing yang terus mengeruk keuntungan dari bangsa ini.
Nampaknya pendidikan memang tak memberikan dampak penting dalam memperbaiki moralitas para pemimpin negeri ini. Bahkan pendidikan yang diangungkan tak mampu menjawab permasalahan sosial yang telah meradang dalam kehidupan bernegara. Jadi tidaklah mengherankan apabila masyarakat menganggap bahwa pendidikan tidak penting. Orang-ornag yang berpendidikan pun banyak yang pada akhirnya mengatakan hal ini. ”Pendidikan Tidak Penting!” Benarkah?
Film ini berakhir dengan sebuah kegamangan. Deddy Mizwar seolah tak ingin menyuguhkan kebohongan dalam mengurai fenomena sosial yang ada. Penonton dibiarkan ’meraba’ sendiri bagaimana nasib para pencopet yang mulai berganti profesi sebagai pedagang asongan. Toh memang tak mudah memberikan gerakan perubahan dalam keadaan dilematis.
Secara keseluruhan, film ini hampir bisa saya katakan sempurna. Hanya saja saya sedikit terganggu dengan berbagai iklan yang sering disuguhkan dalam beberapa adegan. Namun, hal itu pun saya anggap sebagai sebuah kewajaran. Seperti pendapat dari Antara News, saya pun setuju bahwa tanpa dukungan dana, film seperti ”Alangkah Lucunya Negeri Ini” hanya akan menjadi wacana yang habis dalam diskusi dan proposal.
Bagi saya sebuah film yang baik adalah film yang akan membuat kita berfikir kembali akan isi pesan yang terangkai delam balutan cerita yang menarik. Tak hanya sebatas memberi hiburan lalu tak meninggalkan bekas sama sekali bagi perbaikan diri kita dan lingkungan. Setidaknya film ”Alangkah Lucunya Negeri Ini” sudah berusaha untuk menyuarakan keprihatinan masyarakat. Walau entah bagaimana selanjutnya film ini diapresiasi dan apakah ada sedikit perubahan yang terjadi pada pemerintah dan nasib rakyatnya.
Referensi:
http://www.kapanlagi.com/showbiz/film/alangkah-lucunya-negeri-ini-bantah-kritik-pemerintah.html
http://www.antaranews.com/berita/1272800278/alangkah-lucunya-adalah-negeri-ini
Selasa, 17 Agustus 2010
SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER T.A 2009/2010
Fakkultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
Mata Kuliah : Sistem Sosial Politik
Dosen : Dodi Ambardi / Gilang Parahita
Tanggal : Selasa, 15 Juni 2010
Sifat : Tertutup
Bagian I.
Jelaskan arti atau definisi dari konsep-konsep berikut beserta konteks penggunaannya dalam analisis politik. Pilih empat saja dari lima konsep tersebut:
1.Electoral treshhold
2.Vote of no confidence
3.Electoral System (Sistem pemilihan)
4.Daerah pemilihan/dapil
5.Fusion of power
(nilai maksimal untuk setiap jawaban 10 poin, total 40 poin)
Bagian II: Esai
Pilih dan jawab dua saja dari tiga soal esai berikut:
1.Demokrasi tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia karena demokrasi adalah produk negara-negara Barat. Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Jika ya, mengapa? Dan jika tidak setuju, apa alasannya dan apa bukti empiriknya? Jangan lupa, untuk menjawab pertanyaan ini, anda harus menjelaskan apa yang dimaksud dengan demokrasi terlebih dahulu.
2.Sistem presidensial lebih cocok untuk diterapkan di Indonesia, Anda setuju dengan pernyataan ini? Mengapa setuju atau tidak setuju? Apa tujuan yang hendak Anda raih dengan menerima atau menolak sistem itu? Berikan alasan dan bukti empiriknya. Sebelum memberikan argumen, berikan pengertian dan ciri pokok sistem presidensial.
3.Kampanye terbuka yang berlangsung selama satu bulan sebelum pemilu tidak akan mempengaruhi pilihan politik seseorang. Anda setuju dengan pernyataan ini? Dalam memberikan jawaban (ya atau tidak), berikan alasan atau argumen yang logis dan berikan contoh empirik untuk mendukung argumen itu.
(nilai maksimal untuk setiap jawaban 30 poin, total menjawab dua pernyataan 60 poin)
SOAL UJIAN TENGAH SEMESTER T.A 2009/2010
Fakkultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
Mata Kuliah : Teori Komuniikasi (Kelas B)
Dosen : Syafrizal, S.IP
Sistem Ujian : Tertutup
Waktu : 90 menit (07.15-18,45 WIB)
Petunjuk pengertian:
1.Materi ujian ini terdiri dari 3 (tiga) kategori penilaian: pengetahuan, pemahaman dan analisis.
2.Untuk soal kategori satu, tulis huruf opsi yang menjadi pilihan Anda dalam lembar jawaban.
3.Untuk soal kategori dua, tulis jawaban singkat dan tepat tanpa harus memberikan eksplorasi lanjutan.
4.Untuk kategori tiga, tulis jawaban Anda secara komprehensif dan argumentatif. Apabila Anda menggunakan referensi buku atau sumber lain sebagai acuan jawaban, sertakan kutipan dengan tata cara yang benar.
Penilaian:
1.Untuk kategori satu dan masing-masing jawaban benar diberi nilai 5.
2.Untuk kategori dua, masing-masing jawaban yang benar diberi nilai 10.
3.Untuk kategori tiga, masing-masing jawaban diberi nilai antara 15.
Kategori 1: Aspek pengetahuan (knowledge) > Total nilai maks: 25
1.Berikut ini adalah ide kunci dalam tradisi sosiopsikologis teori komunikasi, kecuali:
a.Persuasi
b.Efek pesan
c.Perubahan perilaku
d.Pemaknaan pesan
e.Adopsi
2.Merujuk pada pemikiran Frank Dance, pendefinisian ”komunikasi” sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan dapat diposisikan dalam dimensi:
a.Level of observation
b.Intentionality
c.Normative jugment
d.Elaboration
e.Message processing
3.Pernyataan filosofis: ”bagaimana ilmu pengetahuan dikembangkan?” adalah contoh bentuk pertanyaan:
a.Ontologi
b.Epistemologi
c.Metodologi
d.Aksiologi
e.Etimologi
4.Salah satu elemen kunci dalam konseptualisasi komunikasi sebagai proses simbolik adalah ”simbol”. Konsep ini memiliki makna:
a.Stimulus yang merujuk pada realitas
b.Relasi antartanda
c.Stimulus yang merujuk pada arbritari
d.Tafsir yang tervisualisasikan
e.Gambaran situasi
5.Accomodation theory-sebagai bagian dari teori produksi pesan-berasumsi bahwa setiap komunikator memiliki kecenderungan untuk mengakomodasi setiap lawan bicaranya, tindakan ini disebut:
a.Konvergensi
b.Divergensi
c.Tindakan mutual
d.Tindakan non-mutual
e.Penetrasi kolektifS
Kategori 2: aspek pemahaman (comprehention) > Total nilai maks: 30
6.Sebutkan ciri-ciri teori komunikasi dalam perspektif Barat (Western perspectif)!
7.Paparkan fungsi komunikasi dalam kelompok menurut Functional Theory!
8.Petakan aspek-aspek yang menjadi objek kajian dalam inti teori komunikasi: struktur pesan!
Kategori 3: Aspek analitik (analytic) > Total nilai maks: 45
9.Blumler dan Katz dalam The uses of mass communications: Current perspectives on gratifications research (1974) memaparkan asumsi dasar Uses and Gratification Theory:
Uses and gratification theory suggests that media user play an active role in choosing and using media. Users take an active part in the communication process and are goal oriented in their media use. The theorist say that a media user seeks out a media source that best fulfills the needs of the user. Uses and gratifications assume that the user has alternative choices to satisfy their need.
Merujuk pada kutipan di atas, coba anda petakan interpretasi metateori teori tersebut!
10.Menurut John Fiske, komunikasi sebagai proses dapat dibedakan dalam dua perspektif, yaitu komunikasi sebagai transmisi dan transaksi. Merujuk pada pemikiran ini, coba anda analisis praktek komunikasi yang dilakukan Komjen. Susno Duadji ketika bersumpah di hadapan Pansus Century dengan menggunakan perspektif transaksi!
11.Coba anda analisis dan petakan perbedaan motivasi orang menggunakan Facebook dalam tradisi fenomenologis dan kritis!
UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
UJIAN MID SEMESTER II 2009-2010
Mata Kuliah : KOMUNIKASI MASSA A/B
Hari/Tanggal : Selasa/13 April 2010
Waktu : 90 menit
Dosen : Drs. I Gusti Ngurah Putra, M.A./Nyarwi SIP, M.Si
Sistem : Tertutup
Petunjuk:
1.Nilai maksimal yang dapat Anda peroleh adalah 100, masing-masing soal memiliki nilai 20.
2.Pergunakan referensi atau bahan pustaka yang relevan disesuaikan dengan kaidah akademis yang berlaku.
3.Pengumpulan dilakukan pada waktu ujian mid-semester berlangsung (sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan oleh fakultas) dengan menandatangani daftar presensi.
4.Mahasiswa hanya wajib menjawab tiga soal wajib dan dua soal pilihan yang ada di bawah ini dengan jelas.
Soal Wajib:
1.Jelaskan pengertian komunikasi massa Thompson, 1994, DeFleur & Dennis, 1988, Dominick, 2002 dan Janowitz seperti dikutip McQuail, 2000! Apa saja perbedaannya dengan komunikasi dengan massa? Jelaskan secara analitis dan berikan contoh bentuk aktivitas komunikasi massa dan komunikasi dengan massa!
2.Bagaimana karakteristik komunikasi menurut Thompson, 1994 dan menurut Dominic, 2002? Jelaskan pula lima tahap proses komunikasi massa menurut DeFleur & Dennis, 1988.
3.Kronologi komunikasi manusia meliputi empat hal: a) Era komunikasi tulisan (4000 BC-kini); b) Era komunikasi cetakan (1456-kini); c) Era telekomunikasi (1844-kini); dan d) Era komunikasi interaktif (1946-kini). Jelaskan karakteristik dari keempat era tersebut! Jelaskan pula apa implikasi dari masing-masing kronologi komunikasi manusia keempat era tersebut!
4.Menurut Hallin dan Mancini, 2004, terdapat tiga model Sistem Media, yaitu Model Pluralis, Model Korporatis Demokratis dan Model Liberal. Jelaskan perbedaan ketiga jenis sistem media tersebut ditinjau dari aspek: a) Industri Surat kabar; b) Paralelisme Politik; c) Profesionalisasi dan d) Peranan Negara dalam sistem media!
5.Apakah yang dimaksud dengan gatekeeper dalam proses komunikasi massa? Bagaimana gatekeeper tersebut bekerja dalam komunikasi massa? Kelaskan pula contoh kerja gatekeeper dalam proses komunikasi massa di Indonesia!
Soal Pilihan
6.Infrastruktur teknis merupakan salah satu prasyarat penting bagi proses komunikasi massa. Jelaskan apa yang dimaksud dengan infrastruktur teknis dalam proses komunikasi massa! Bagaimana keadaan atau situasi infrastruktur teknis masing-masing media di Indonesia?
7.Apa yang dimaksud dengan komunikator profesional? Apa syarat komunikator profesional? Bagaimana proses kerja penyaringan berita yang dilakukan oleh wartawan?
8.Media cetak di Indonesia sudah masuk pada tahap terspesialisasi. Mengapa? Apakah tahap ini terjadi pada seluruh populasi atau hanya terjadi pada kelompok tertentu. Mengapa demikian?
Mata Kuliah : Sistem Sosial dan Sistem Politik Indonesia
Pengampu : Drs. Widodo A. Setianto, M.si
Jurusan/prodi : S-1 Ilmu Komunikasi/A + B
Hari/tanggal : Selasa, 20 April 2010
Waktu : 120 menit
Sistem : Terbuka
Jelaskan pokok-pokok pikiran dari:
1.Teori stratifikasi sosial fungsional Kingsley Davis dan Wilbert Moore.
2.Teori Fungsional struktural Talcot Parson dan Robert K. Merton.
3.Teori Neo Fungsionalisme Jefry Alexander dan Paul Colomy.
4.Teori Konflik Ralph Dahrendorf.
Semakin lengkap dan sistematis bahasannya, maka akan semakin baik buat Anda.
MATA KULIAH : KOMUNIKASI PEMASARAN
DOSEN : DRS. WIDODO AGUS SETIANTO, M.Si
JURUSAN/PRODI : S-1 ILMU KOMUNIKASI (A+B+C)
HARI/TANGGAL : SENIN, 19 APRIL 2010
ALOKASI WAKTU : 100 MENIT
SIFAT UJIAN : TERTUTUP
Soal :
1.Komunikasi diyakini sebagai faktor yang sangat esensial dalam menentukan keberhasilan kegiatan pemasaran.
(1)Jelaskan hubungan antara komunikasi dan pemasaran!
(2)Jelaskan pentingnya kegiatan komunikasi dalam pemasaran!
2.Kegiatan pemasaran besar-besaran yang dilakukan di Amerika pada sekitar tahun 1920-an telah berhasil menaikkan tingkat konsumsi masyarakat dan mendorong standar apresiasi kehidupan material masyarakat.
(1)Jelaskan pengertian pemasaran, bauran pemasaran dan manajer pemasaran!
(2)Jelaskan akibat-akibat sosial yang terjadi seiring dengan keberhasilan pemasaran besar-besaran yang telah dilakukan!
3.Keberhasilan sebuah perusahaan dalam merengkuh pasar adalah dengan penyerahan produk yang sesuai dan dapat memenuhi dan atau memuaskan kebutuhan/keinginan konsumennya.
(1)Jelaskan apa yang dimaksud dengan kebutuhan dan keinginan!
(2)Jelaskan pengertian produ, product kining dan product bunding!
4.Agar tercipta suatu marketing influence dalam kegiatan pemasaran maka produsen senantiasa harus bersikap consumer oriented.
(1)Jelaskan apa yang dimaksud dengan sikap consumer oriented dan apa hubungannnya dengan konsep pemasaran!
(2)Jelaskan apa yang dimaksud dengan diferensiasi produk dan marketing myopia!
5.Salah satu situasi yang memungkinkan bagi diterapkannya konsep produksi pada kegiatan pemasaran adalah pada saat permintaan terhadap produk melebihi persediaan. Ini merupakan logika yang tidak umum, mengingat di tengah-tengah tingginya permintaan dan terjadinya kelangkaan produk seharusnya harga justru meningkat. Dalam konsep produksi, situasi yang semacam ini justru diupayakan sedemikian rupa agar harga tetap stabil.
(1)Jelaskan dengan pengetahuan saudara mengenai fenomena dalam konsep produksi ini!
(2)Jelaskan apa yang membedakan antara konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan dan konsep pemasaran!
Soal MID SEMSETER
-Komunikasi Antarmanusia: Soal Lisan, menyebutkan kata kunci dari konsep yang telah dipelajari.
-Kewarganegaraan : Soal dikumpulkan.
-Metode Penelitian Sosial : Membuat proposal penelitian.
-Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media : Take home
Ketika Kakiku Berpijak di Dataran Vietnam
Asal Kau tahu kawan, semua bermula dari 2010 Indonesia-Vietnam Youth Friendship Program yang telah memberiku kekuatan untuk menjemput asa dan merubah dunia. Alasan mengapa aku sangat ingin mengikuti program pertukaran budaya itu, tak lain karena sebuah harapan untuk menempa diriku menjadi pribadi yang lebih berkontribusi, kritis, aspiratif dan memupuk semangat untuk terus memperbaiki negeri ini. Dalam program itulah aku yakin akan adanya sebuah optimisme perubahan. Program ini akan memberikan dampak positif bagi perkembangan Indonesia, khususnya dalam bidang pariwisata dan pendidikan. Konsentrasi pada budaya merupakan aspek yang potensial untuk mempromosikan wajah Indonesia. Program persahabatan antara pemuda Indonesia dan Vietnam pun akan menciptakan hubungan bilateral yang baik dari kedua negara tersebut.
Masih bertanya mengapa aku berminat mengikuti program dari Asean Youth Friendship Network (AYFN) itu? Kawan, jika jabawan keegoisan yang kalian inginkan, maka akan kujawab dari sisi harapan seorang pembelajar yang belum pernah sama sekali ke luar negeri. Siapa yang tak ingin mendapatkan pengalaman eksotis menyusuri Delta Sungai Mekong, menyaksikan megahnya University of Social Sciences and Humanities, Ho Chi Minh City secara langsung, bersahabat dengan mahasiswa Vietnam, menikmati budaya Vietnam yang khas dan merasakan sensasi iklimnya? Aku ingin tahu bagaimana kondisi kemacetan yang menjadi masalah serius di Ho Chi Minh City akibat jalan-jalan kota berjuang untuk mengatasi membeludaknya jumlah automobil. Tentu akan kutemukan pemandangan yang berbeda ketika mengamati jalur transportasi di sana. Berkebalikan dengan Indonesia, Vietnam menggunakan jalur kanan untuk lalu lintas jalan raya.
Di sisi yang berbeda, aku adalah wanita desa yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat berpendidikan rendah. Sebagaian besar dari mereka menganggap bahwa orang sukses adalah mereka yang dapat bekerja dengan gaji yang banyak. Kuliah dianggap sebagai perbuatan menghambur-hamburkan uang yang tak jelas hasilnya. Bagi mereka, ke luar negeri adalah mimpi. Kesempatan untuk berkunjung ke sana pun hanya untuk mereka yang berkantong tebal. Tapi semua itu tak berlaku bagiku. Aku akan membuktikan pada keluarga dan orang-orang yang meragukanku bahwa aku bisa menciptakan gerakan perubahan. Aku akan mematahkan keyakinan lama yang sulit berkembang. Aku ingin mencerdaskan putra-putri bangsa dengan mengutamakan pendidikan agama, moral dan keteguhan sikap serta menanamkan rasa memiliki terhadap bangsa ini. Kemudian suatu saat nanti kawan, Kau akan melihat satu per satu dari mereka bergerak menuju pembaharuan yang dinamis. Aku yakin itu.
Jumat, 30 Juli 2010
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL
NOMOR 14 TAHUN 2001
TENTANG KEMASYARAKATAN DESA
I. PENJELASAN UMUM.
Pembanguna di DESA akan berhasil guna dan berdaya guna apabila melibatkan seluruh warga masyarakat dalam pelaksanaannya, baik dalam penentuan prioritas maupun perencanaan dan pembiayaannya. Partisipasi aktif warga masyarakat dalam pembangunan Desa baik social budaya, agama dan ekonomi perlu wadah dalam Organisasi Kemasyarakatan yang independen, tidak merupakan kepanjangan tangan darai Pemerintah Desa dan betul-betul dibutukan oleh masyarakat desa Keberadaanya. Pemberdayaan masyarakat melalui Lembaga Kemasyarakatan Desa bertujuan untuk lebih meingkatkan peran serta masyarakat dalam pengambilan keputusan, perencanaan maupun pelasksanaan pembangunan di Desa.
Sebagai mitra kerja Pemerintah Desa dapat dibentuk Lembaga Kemasyarakatan Desa, yang mempunyai tugas dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian yang bertumpu pada masyarakat. Pemberdayaan Lembaga tersebut untuk mewujudkan terciptanya masyarakat Desa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir dan batin.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6 ayat (1)
Pengurus LKD selain dipilih dari dan oleh masyarakat Desa, juga tidak diperkenankan merangkap jabatan atara satu LKD deangan LKD yang lain, dengan jabatan Lurah dan Pamong Desa, anggota BPD,seta tidak memilik hubungan keluarga dengan Lurah sampai dengan derajat satu, sebagaimana persyaratan anggota BPD.
Susunan organisasi tata cara pemilihan dan pelantikan pengurus Lembaga Kemasyarakatan Desa, sebagaimana dimaksud juga memuat materi antara lain:
1. Tata Kerja
2. Tugas, pokok dan funfsi
3. Pertanggungjawaban
4. Larangan dan sanksi
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 7
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten dapat member fasilitas seperti pemberian pelatihan dan bimbingan bila dibutuhkan oleh masyarakata dan atas permintaan masyarakat, bersifat bottom-up.
Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Segala bentuk administrasi pemerintahan yang selama ini melibatkan RT/RW misal, pengurusan surat-surat pengantar, penarikan pajak dan retribusi dan lainnya yang bertentangan dengan Peraturan Daerah ini diadakan penyesuaian.
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas