Kamis, 03 Juni 2010

Perhitungan Rating pada Media Baru

Media baru pada saat ini sangat digandrungi oleh berbagai kalangan. Selain beragamnya informasi yang diberikan, media baru memberikan lebih banyak peluang untuk menjalin relasi hingga taraf internasional. Tidak menampikkan keuntungan yang ditawarkan, berbagai perusahan media massa pun kini mulai memanfaatkan media baru sebagai usaha untuk mengembangkan produksinya.

Pengertian Media Baru
Media baru diartikan sebagai media yang mampu menayangkan konten atau informasi secara interaktif. Audien dapat menanggapi setiap informasi secara langsung (immediate feedback) sehingga para pelaku komunikasi secara aktif mampu berganti peran antara komunikator dan komunikan.
Berikut beberapa kriteria sebuah media dikatakan baru:
 Berbeda dengan media yang ada sebelumnya, baik dari segi bentuk, fungsi maupun cakupanya.
 Interaktif; Audien dapat memberikan tanggapan atau feedback kepada sumber informasi secara langsung
 Continous deadline, cepat, dan memiliki akurasi tinggi
 Dapat mempengaruhi bahkan mengubah perspektif, paradigma dan pola pikir manusia secara global

Rating: Tolak Ukur Kesuksesan Sebuah Media
Rating pada media baru digunakan untuk mengetahui seberapa banyak orang mengakses sebuah halaman website. Tinggi rendahnya rating tersebut kemudian akan berakibat pada besar kecilnya iklan dan promosi. Dengan demikian eksistensi sebuah rumah produksi akan terus bertahan. Sehingga tidaklah mengherankan ketika pengembangan program selanjutnya mulai dari perencanaan sampai produksi dan pemasaran akan sangat dipengaruhi oleh hasil rating yang diperoleh.
.
Untuk melihat tingkat rating sebuah website dapat diketahui dengan mengunakan program yang disebut web statistik. Dari sebuah web statistik ini kemudian akan diketahui siapa dan dari mana orang yang telah mengunjungi halaman web tersebut. Selain itu dengan menggunakan web statistik ini akan diketahui halaman apa yang paling populer dari sebuah situs web tersebut. Beberapa website statistic tool yang sering digunakan adalah:

1. Google Analytics
2. W3counter
3. AWStats
4. StatCounter
5. SiteMeter
6. CrazyEgg
7. MyBlogLog
8. Wordpress Stat
9. Histats
10. Woopra

Istilah yang kemudian sering digunakan dalam web statistik adalah pageviews. Pageviews sering dijadikan sebagai indikator kesuksesan sebuah situs web. Pageviews adalah ukuran jumlah halaman sebuah website yang dibuka pengunjung. Ada banyak alasan mengapa jumlah pageviews dianggap penting. Salah satu alasan tersebut adalah semakin banyaknya peluang monetasi halaman-halaman yang mempunyai page impression yang tinggi

Penghitungan Rating dan Implikasinya
Pihak yang menilai tingkat rating sebuah web anatara lain adalah Alexa Rank dan Google PageRank (PR). Dengan Alexa Rank atau Google PageRank kita dapat mengetahui berapa nilai jual pada sebuah web. Dari peringkat yang dihasilkan inilah kemudian sebuah web dapat menghasilkan pundi-pundi uang.
Pihak Alexa akan menghitung ranking web dengan cara menganalisa trafik jutaan web dari Alexa toolbar yang terpasang dari sumber trafik lainnya. Perhitungannnya adalah dengan mengombinasikan seberapa banyak pengunjung dan pageviews unik pada suatu web selama kurang lebih 3 bulan. Dengan semakin banyak hit dan pageviews pada suatu web, maka akan semakin tinggi peringkatnya. Angka tersebut dapat dilihat dari widget yang dipasang oleh web tersebut.
Satu pageview dihitung jika terdapat satu user yang mengunjungi sebuah halaman. Apabila sebuah user yang sama menjadi pengunjung lebih dari sekali, maka akan tetap dihitung satu pageview. Kemudian setiap periode tertentu akan dihitung berapa rata-rata pengunjung dan pageviews yang ada.
Pebedaan rangking oleh Alexa dan Google PageRank terletak pada skala peringkatnya. Hasil peringkat Alexa akan menilai angka 100 lebih baik daripada 1000. Sedangkan Google PageRank angkanya hanya berkisar 1 sampai 10 dan angka yang lebih besar itulah yang dinilai lebih baik.
Manfaat yang diperoleh dari fasiitas Alexa Rank atau Google PR adalah sebagai dasar untuk menilai seberapa tinggi harga link sebuah web atau blog. Semakin tinggi Ranking Alexa pada sebuah web atau blog maka semakin tinggi pula bargaining power link. Dari sinilah pundi- pundi uang akan mengalir.



Referensi

Bahan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada 2009/2010
Effendy, Onong Uchjana. 1981. Dimensi-dimensi Komunikasi. Bandung: Penerbit Alumni.
http://www.google.com/intl/id/analytics/
http://www.newmedia.web.id/2008/10/aplikasi-web-20-mendukung-media-baru

Kasus Susno: Antara Perbaikan Citra dan Komoditas Berita

Pengantar
Media massa diyakini mempunyai kekutan yang ampuh untuk mempengaruhi pemahaman seseorang terhadap suatu fenomena sosial. Termasuk di dalamnya adalah isu-isu politik yang dikemas dalam bentuk sebuah berita. Berita politik tersebut kemudian diharapkan dapat membentuk opini publik yang mampu bersikap kritis atas wacana sosial yang disajikan.
Dengan semakin meningkatnya jumlah presentase kepemilikan media oleh masyarakat Indonesia, kini sebuah informasi atau berita dapat menjangkau kalangan yang lebih luas. Tingkat pendidikan yang lebih baik turut mendorong masyarakat untuk memahami kondisi yang terjadi dalam negaranya. Dalam hal ini opinion leader juga memberikan kontribusi besar dalam meneruskan informasi dan membina masyarakat agar tidak bersikap apatis.
Bercermin dari besarnya manfaat yang ditawarkan media dan meluasnya tingkat aksesibilitas masyarakat, banyak pihak yang kemudian memanfaatkan kekuatan media untuk kepentingan individu atau kelompok. Para aktor politisi dan para pemegang kekuasaan di negeri ini pun tak ketinggalan memanfaatkan media untuk menjaga citra mereka di mata masyarakat. Persaingan media yang semakin ketat dan kebutuhan finansial yang tidak sedikit demi kelangsungan perusahaan memberikan pertimbangan tersendiri bagi sebuah rumah produksi untuk menetukan kebijakan yang akan diambil. Tak heran apabila selanjutnya berita dijadikan bahan komoditas daripada berfungsi sebagai anjing pengawas (watchdog) yang melakukan pemantauan terhadap pemegang kekuasaan.
Salah satu isu poilitik yang menghiasi pemberitaan di media akhir- akhir ini adalah kasus Susno Duadji dan POLRI. Nama Susno mulai menjadi buah bibir sejak sepak terjangnya sebagai tokoh sentral dalam kontroversi ‘Cicak vs Buaya’ dikecam sebagian besar masyarakat. Pernyataan Susno dinilai telah merendahkan KPK. Di sisi lain POLRI dianggap mempunyai tambahan dosa atas pernyataan oknum polisi tersebut, disamping dosa atas sikap penahanan Bibit S. R. dan Chandra M. H. yang disinyalir hanyalah rekayasa kepolisian. Tuntutan untuk menindak Susno pun menggema seiring dengan derasnya dukungan pembebasan kedua ketua nonaktif KPK saat itu.



Setelah mendapat cap buruk dari berbagai pemberitaan yang ada dan kemudian diberhentikan dari tugas kepolisiannya sejak November 2009, Susno Duadji terkesan semakin lantang bertestimoni bahwa dirinya adalah korban dari politik kepentingan yang dilakukan instansinya. Melalui beragam media, Susno berusaha mengklarifikasi masalah menurut subjektifnya.
Tulisan singkat ini akan berusaha mengaitkan sikap Susno yang membelot dari institusinya dengan peranan media dalam memperbaiki citranya di mata masyarakat. Selain itu, penulis berusaha menghubungkan kasus ini dengan teori-teori komunikasi yang relevan. Di sisi lain tulisan ini akan membahas strategi propaganda yang dipakai Susno dan praktek komoditas berita yang dilakukan media untuk memasarkan programnya.

Media Menjembatani Perbaikan Citra Susno
Berbicara tentang citra, kata ini dalam bahasa Jawa berarti gambar. Citra kemudian dikembangkan menjadi gambaran sebagai padanan pendekatan image dalam bahasa Inggris. Secara umum citra politik dapat diartikan sebagai gambaran seseorang tentang politik, baik dalam kekuasaan, kewenangan, konflik atau konsensus (Arifin, 2006:2).
Citra yang melekat pada diri seseorang, baik sesuai atau tidak dengan kondisi individu, secara tidak langsung akan menimbulkan persepsi yang sejalan dengan citra yang sudah ada sebelumnya. Perubahan atau perbaikan pandangan seseorang akan dimulai ketika ia mendapatkan informasi yang berbeda dengan wacana masa lampau. Melalui kata-kata politik, seseorang dapat menciptakan citra tentang objek dan kondisi di dalam dunia konflik dan kerjasama sosial.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Susno Duadji, mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (kabareskrim) Kepolisian RI yang sempat terlibat kasus korupsi itu memanfaatkan media untuk mendongkrak opini publik. Susno berusaha menyetir penilaian negatif atas dirinya dengan menjaring simpati masyarakat. Drama reinkarnasi citra diri pun dimulai ketika Susno berusaha menjadi oase di tengah kegersangan kondisi praktik penegakan hukum di negeri ini.
Dalam keterangan yang diberikan Susno kepada Swaramedia, ia meminta dukungan dari masyarakat dalam gerakan memberantas ketidakadilan, manipulasi kebenaran, rekayasa kasus, hingga korupsi. Karena menurutnya, rakyat sudah jenuh dengan praktik penegakan hukum yang sewenang-wenang.
Susno memanfaatkan dengan baik ekspose media atas kehadirannya dalam peristiwa Antasari dan Century. Dalam berbagai kesempatan, Susno membeberkan borok-borok yang selama ini ia anggap telah menodai tubuh POLRI. Dengan gencar ia mengungkap berbagai dugaan tindak korupsi dan jenderal makelar kasus dalam jajaran kepolisian. Polah Susno melawan arus institusi yang telah membesarkan namanya itu mampu memikat perhatian publik.
Perbaikan citra Susno tidak dapat dilepaskan dari konstruksi media dalam memproduksi sebuah berita. Terkait dengan teori agenda setting yang dikemukakan oleh Maxwell Mc Combs dan Donald Shaw, media berfungsi sebagai sebagai sarana yang mengagendakan hal-hal yang perlu menjadi perhatian dari masyarakat. Media dalam hal ini secara tersirat menjabarkan apa dan bagaimana publik harus berfikir mengenai kasus Susno.
Tentunya di sisi yang berbeda, kasus ini turut memberikan pengaruh dalam memandang citra kepolisian di mata masyarakat. Konflik internal dalam tubuh POLRI justru akan semakin menipiskan kepercayaan publik terhadap berbagai bentuk keputusan yang nantinya akan diambil. Sikap pesimis mungkin saja akan timbul, tidak hanya kepada POLRI, tetapi juga berimbas pada lembaga pemerintah lain.

Strategi Propaganda Susno
Pada hakikatnya komunikasi bertujuan untuk mempengaruhi. Dalam era modern kekuasaan tidak diperoleh melalui paksa fisik, tetapi lebih ditekankan dengan cara persaingan gagasan. Dengan begitu, komunikasi kemudian dipahami untuk mengubah sikap, opini, perilaku, bahkan mengubah masyarakat.
Apabila kasus ini dihubungkan dengan teori cultural studies yang dikemukakan Stuart Hall, Susno mencoba memainkan peranan media untuk memelihara idiologi yang berkembang sebelumnya terkait buruknya citra kepolisian di mata masyarakat. Banyak selentingan ketidakbecusan institusi kepolisian dalam menangani kasus yang dilaporkan masyarakat. Predikat buruk terhadap kinerja POLRI yang terkesan banyak ‘main uang’ sudah menjadi rahasia umum dan mengakar kuat di masyarakat. Itulah sebabnya banyak masyarakat yang enggan berurusan dengan polisi meskipun ia membutuhkan bantuan untuk menangani masalah sosialnya. Barulah ketika keadaan sudah sangat mendesak, seorang dengan terpaksa akan melaporkannya. Itupun hasilnya belum tentu memuaskan.
Sedangkan merujuk pada pemikiran John Fiske terkait perspektif komunikasi sebagai transaksi, Susno telah berusaha memberikan sinyal-sinyal yang mampu menujukkan bahwa posisinya saat itu dalam keadaan tak berdaya. Simbol air mata merupakan salah satu cara yang efektif untuk merefleksi pemikiran publik. Ditambah dengan sumpah yang dilontarkannya melalui media, Susno berusaha meyakinkan masyarakat bahwa dirinya bersungguh-sungguh. Dalam hal ini terdapat negosiasi nilai yang kemudian ditanggapi oleh media untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai isu yang layak diperhatikan publik.
Penangkapan Susno saat hendak berangkat ke Singapura untuk ‘berobat’ menjadi klimaks drama politik yang diperankannya. Strategi terakhir sebelum penangkapannya adalah ia melibatkan kru salah satu media untuk bersiap-siap meliput berita apabila suatu saat Susno harus menjalani penahanan. Hal ini karena telah ada kecurigaan pada diri Susno atas orang-orang tak dikenal yang beberapa hari sebelum penangkapan itu telah membuntuti dan memantau pergerakannya. Sepertinya semua berjalan dengan sempurna seperti yang diharapkan Susno.
Dengan semakin banyaknya media yang memberitakan posisi Susno, lambat laun simpati masyarakat mulai mengalir. Sebagian masyarakat mulai memandang bahwa tindakan Susno positif dan patut didukung guna menciptakan birokrasi yang lebih baik dalam tubuh POLRI. Meskipun demikian, sebagian masyarakat tetap menilai bahwa apa yang telah dilakukan Susno tersebut lebih mengarah pada upaya pengalihan kasus Century dari pada sebuah bentuk pembelaan kebenaran.

Berita Politik Susno : Sebuah Komoditas
Sebagian masyarakat kurang menyadari bahwa pesan politik yang disampaikan media massa bukanlah manifestasi dari realitas yang sesungguhnya. Konsepsi yang disuguhkan adalah realitas media, yaitu realitas tangan kedua yang dibentuk oleh wartawan dan redaktur dalam mengolah berita politik melalui penyaringan dan seleksi.
Setiap media massa mempunyai konstruksi yang berbeda dalam menyajikan sebuah berita, termasuk salah satunya kasus Susno di atas. Semua itu dibengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal ataupun faktor eksternal. Berita tersebut kemudian mencerminkan bagaimana sebuah media bersikap dalam menilai sebuah fenomena sosial yang ada. Pembingkaian (framing) berita politik juga dapat digunakan untuk mengaji bentuk keseriusan sebuah media dalam mengangkat isu yang ditawarkan.
Saat ini tak dapat dipungkiri faktor kapital telah mendominasi kultur media di Indonesia. Karena asumsi yang berkembang menyatakan bahwa dengan biaya yang mencukupi, sebuah perusahaan media mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih unggul. Dengan begitu pemasukan pun akan semakin bertambah karena secara logika pengiklan akan semakin meningkat pula. Sayangnya belenggu dilematis modal terkadang cenderung menyisihkan berita-berita yang dirasa kurang menjual tanpa memperhatikan asas manfaat bagi masyarakat.
Di tengah maraknya isu tentang mafia hukum, Susno menawarkan isu yang cukup menarik untuk disimak. Suatu fenomena yang langka ketika sebuah sindikat kejahatan sengaja dibeberkan oleh oknum dalam sendiri. Terlebih dugaan praktik bejat ini terjadi dalam instansi pemerintah yang notabene mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat di suatu negara.
Banyak media berlomba-lomba meberitakan kasus Susno secara eksklusif. Persaingan untuk dapat menjerat simpatisan publik atas berita yang disuguhkan semakin terasa. Tak mengherankan apabila berita Susno kemudian terkesan didramatisir dengan memperuncing gap antara dirinya dan POLRI. Bahkan isu ini menjadi menu utama dalam setiap jam pemberitaan di beberapa media. Padahal jika dicermati lebih dalam, banyak peristiwa sosial lain yang perlu ditangani segera daripada terlalu berkutat pada masalah yang tak tentu ujungnya. Media cenderung menyajikan apa yang laku di pasaran daripada memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa masih banyak masalah sosial yang urgensinya mebutuhkan penangan dengan segera daripada kasus para mafia politik kelas atas.
Jika kita perhatikan, tak bayak yang berkoar-koar ketika setiap jamnya para balita mati karena kurang gizi. Tak banyak yang protes ketika semakin banyak generasi muda kita yang melakukan tindakan asusila. Belum pernah ada dunia maya heboh dengan dukungannya ketika rakyat miskin tertindas oleh praktik kapitalisme dan ketidakadilan penguasanya. Lalu, untuk siapa sebenarnya perjuangan kita?

Penutup
Tak dapat dipungkiri bahwa banyak media yang telah menjadikan kasus Susno sebagai komoditas berita. Berbagai unsur kepentingan para aktor politik atau pemegang kuasa telah mewarnai berita politik yang disajikan kepada masyarakat. Hal ini tentunya akan mempengaruhi opini publik yang timbul kemudian.
Media dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan sepertinya cukup mampu memberikan wacana kepada masyarakat untuk kemudian bersikap lunak terhadap Susno. Dengan kostruksi media, Susno mampu memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki citra dirinya yang sudah terlanjur buruk di mata masyarakat. Kekuatan media pada akhirnya cukup mampu merealisasikan harapan mantan kabareskrim tersebut.
Sikap Susno terlihat lantang dan tak ambil pusing atas konflik yang kemudian timbul terkait institusinya. Strategi propaganda atas kesaksiannya memebeberkan praktik korup dan dugaan ‘jenderal’ makelar kasus dalam tubuh POLRI mendapat dukungan dari masyarakat luas. Transaksi Susno dalam menjual polahnya kepada media sepertinya tak terlalu mengecewakannya. Meskipun pada akhirnya harus menerima hukuman penahanan atas dirinya, toh kini citranya di mata masyarakat tak lagi semiring dahulu. Justru banyak kalangan yang saat ini mendukung sikap Susno tersebut.
Media sebagai salah satu pembentuk opini publik tidak selayaknya menyajikan berita yang hanya menguntungkan pihak yang berkepentinngan secara subjektif. Menyajikan berita dari dua sisi pembahasan mungkin dapat djadikan alternatif format pemberitaan. Dengan demikian publik akan mempunyai gambaran yang lebih utuh mengenai sebuah wacana sosial. Kemudian pada akhirnya, masyarakat dapat bersikap lebih kritis dan bijaksana dalam mengambil keputusan politik.
Berita-berita yang disajikan perlu dikaji lagi secara urgenitas. Jangan sampai kita terlalu terpaku pada isu yang kurang berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat dan membiarkan berbagai peristiwa sosial si penjuru tanak air yang butuh ditangani tak kunjung dijamah.
Selain uraiaan di atas, diharapkan para aktor politik dan lembaga pemerintah yang memiliki kuasa dan kewenangan menentukan kebijakan, untuk kemudian menjaga amanah yang telah diberikan. Segala bentuk kekuasaan itu tidak sepatutnya disalahgunakan untuk dijadikan alat untuk membohongi rakyat.


Daftar Pustaka

Arifin, Anwar. 2006. Pencitraan dalam Politik (Strategi Pemenagan Pemilu dalam Perspektif Komunikasi Politik). Jakarta: Pustaka Indonesia.
Dwidjowijoto, Riant Nugroho. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik. Jakarta: Granit.
Putra, I. Gusti Ngurah. 2008. Media, Komunikasi dan Politik: Sebuah Kajian Kritis. Yogyakarta: Penerbit FISIPOL UGM.
Rakhmat, Jalaluddin. 1993. Komunikasi Politik. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
http://bataviase.co.id/node/139337
http://berita.liputan6.com/ibukota/201003/268689/Susno.Beberkan.Kebobrokan.Polri.Lewat.Buku
http://politik.kompasiana.com/2010/04/13/termehek-mehek-reality-show-ala-susno/
http://tanyasaja.detik.com/pertanyaan/70439-susno-ditangkap-
http://www.suaramedia.com/berita-nasional/20490-qada-sutradara-di-balik-teriakan-susnoq.html

Minggu, 25 April 2010

Sejarah Perkembangan Budaya Oral Hingga Tulisan di Indonesia

Berbicara tentang sejarah budaya oral hingga tulisan secara keseluruhan, tidak dapat dipisahkan dari sejarah manusia itu sendiri sebagai pihak yang menjadi aktor dalam kegiatan komunikasi tersebut. Pada dasarnya komunikasi sudah berlangsung sejak manusia itu didiciptakan di dunia. Komunikasi pun sudah terjadi sejak zaman manusia purba meskipun cara yang digunakan masih sederhana dan belum menggunakan tulisan seperti saat ini.

Awal Kehadiran Manusia di Indonesia
Menurut catatan para ilmuwan, sejarah alam semesta jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan sejarah manusia. Manusia baru muncul di permukaan bumi bersamaan dengan terjadinya berkali-kali pengesan (glasiasi) dalam zaman yang disebut Plestosen. Masa ini beberapa kali diselingi oleh masa-masa antarglasial, yaitu waktu suhu bumi naik kembali dan menyebabkan es mencair serta gletser-gletser menarik diri kearah tempatnya semuala. Peristiwa-peristiwa alam yang terjadi kala itu mengakibatkan manusia lambat laun mengalami evolusi fisik dan akalnya.
Pada zaman es, daerah Indonesia terdiri atas dataran Sunda di sebelah barat yang bersatu dengan Asia Tenggara dan dataran Sahul di sebelah timur yang bersatu dengan Australia. Hubungan darat Indonesia dan benua Asia dapat terjadi melalui Kalimantan atau Sulawesi, Filipina, Taiwan dan Cina Selatan. Sedangkan hubungan dengan Australia dapat terjadi melalui Irian atau Nusa Tenggara. Dari sini dimungkinkan terjadi migrasi (perpindahan penduduk) manusia purba pada masa itu sebelum waktu glasiasi surut sehingga permukaan laut menjadi lebih tinggi dan menyebabkan dua dataran yang ada kembali menjadi kepulauan atau paparan.
Dataran Sunda diperkirakan lebih lama didiami manusia daripada dataran Sahul. Dataran Sahul selama ini diketahui baru dihuni oleh manusia pada tingkat Homo Sapiens yang diperkirakana hidup 40.000 tahun yang lalu. Meskipun di Sulawesi dan Nusa tenggara ada dugaan pernah hidup Pithecantropus dari peralatan batu yang ditemukan. Fosil manusia jenis Homo di Indonesia ditemukan di Wajak, Jawa Timur. Homo memiliki cirri lebih maju daripada Pithecanthropus. Pithecanthropus sendiri hidup pada Plestosen awal, tengah dan kemungkinan juga di Plestosen akhir. Temuan pertama di Indonesia yang diumumkan yaitu tengkorak Pithecanthropus erectus tahun 1890 di dekat Desa Trinil, tepi Bengawan Solo, Jawa Timur.

Kebudayaan Manusia Purba dan Komunikasi yang digunakan
• Masa Plestosen
Bukti- bukti hasil budaya pertama yang ditemukan di Indonesia berupa alat-alat batu jenis serpih bilah dan kapak-kapak perimbas serta beberapa bulan dari tulang dan tanduk. Hal ini menunjukkan corak budaya berburu dan meramu. Komunikasi yang terjadi masih sebatas pada budaya oral. Hal ini berbeda dengan perkembangan di Eropa yang pada akhir Plestosen tampak adanya peningkatan kegiatan spiritual, seni lukis dan pembuatan alat-alat dengan bentuk yang rumit.

• Pasca Plestosen
Di Indonesia beberapa alat dengan bentuk rumit mulai dibuat pada mas ini. Kehidupan di gua-gua merupakan hal yang menonjol dilakukan manusia purba Indonesia. Dari sinilah kemudian terjadi perkembangan dari yang semula hanya menggunakan komunikasi oral menuju komunikasi melalui lambang atau media tertentu. Penguburan dan lukisan-lukisan (gambar tangan, binatang, lambang-lambang) ditemukan di gua-gua sebagai corak kepercayaan di kalangan masyarakat perburuan. Pada tahap selanjutnya manusia pun semakin mengalami perkembangan pada pola hidupnya. Dengan hidup menetap, dibentuklah masyarakat yang teratur dan seluruh kegiatan dimanfaatkan untuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya.

Pengembangan Tradisi Sejarah dalam Mayarakat yang Belum Mengenal Tulisan
Cara yang digunakan masyarakat yang belum mengenal tulisan untuk mengembangkan tradisi sejarah mereka adalah dengan mewariskannya secara lisan melelui ingatan kolektif anggota masyarakatnya. Sedangkan cara lain yang digunakan adalah dalam bentuk dibuatnya sebuah karya seperti lukisan, monumen, tugu dan perlatan hidup. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengembangan tradisi sejarah untuk diwariskan kepada generasi berikutnya yang melihat karya itu
Dalam masa komunikasi oral, media yang digunakan untuk mencapai sebuah tujuan ritual misalnya seni pertunjukan, berupa tari, musik lakon, sastra, mantra dan sesajian. Sebagi pendukung digunakan pula berbagai peralatan seperti nekara, kapak sepatu dan patung-patung. Dalam peralatan yang digunakan pun terdapat gambar-gambar yang disesuaikan dengan tujuan pemakainnya. Misalnya untuk acara keagamaan, gambar pada nekaranya bersifat sakral dan berbeda dengan dengan gambar untuk peralatan sehari-hari.
Bahasa yang dituturkan penduduk nusantara sendiri sangatlah beragam. Kelisanan merupakan ruang bertutur dari anggota masyarakat yang merawat hidup bermakna sebelum keberaksaan dituliskan dalam simbol alfabetisasi. Sejarah lisan dimaksudkan memberi kebenaran sejarah seperti yang dituturkan oleh para pelakunya atau oleh pihak-pihak yang (merasa) mempunyai pengalaman sejarah yang bersangkutan sebagai pelaku atau saksi mata sebuah peristiwa.

Jejak Sejarah dalam Foklore
Folklore di artikan sebagai sekelompok orang atau komunitas yang memiliki cirri-ciri pengenal fisik (bahasa, rambut, warna kulit), sosial dan budaya sehingga dapat dibedakan dari kelompok masyarakat lainnya. Cirri-ciri folklore antara lain: penyebaran dan pewarisannya lebih banyak secara lisan, bersifat tradisional, bersifat anonym (pembuatannya tidak diketahui), kolektif (menjadi milik bersama dari sebuah kelompok masyarakat ), mempunyai pesan moral bagi generasi berikutnya.
Menurut Harold Brunvan (USA), folklore terbagi kedalam tiga tipe, yaitu:
1. folklore lisan (fakta mental), diantaranya mencakup: logat bahyasa (dialek) dan bahasa tabu , ungkapan tradisional dalam bentuk pribahasa dan sindiran , puisi rakyat yang meliputi mitos legenda , dongeng .
2. folklore sebagai lisan (fakta social), diantaranya dalam bentuk kepercayaan dan takhayul , permainan rakyat , tarian rakyat, teater rakyat, dan upacara tradisional.
3. folklore bukan lisan (artefak), diantaranya dalam bentuk: arsitektur bangunan rumah adat (tradisional), seni kerajinan tradisional , pakaian tradisional , obat-obatan tradisional, alat musik tradisional, senjata tradisional, makanan tradisional.

Asal Usul Bahasa Indonesia
Sejarah bahasa melayu mulai dikenal pada tahun 680 M. Bahasa Melayu yang menjadi dasar bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasaMelayu-Johor. Nama Melayu pertama kali dikenal sebagai nama kerajaan di Indonesia. Pada pertengahan abad ke-7, Melayu dinaungi oleh Sriwijaya, yang ibu kotanya diduga berada di Palembang. Dari surat-surat peninggalan diketahui bahasa Kerajaan Sriwijaya adalah bahasa Melayu Tua dan disebarkan ke seluruh daerah jajahannya (Hastuti, 1986: 1-2)
Pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa resmi mula-mula dilakukan oleh Kompeni, kemudian oleh Gubernur Hindi Belanda. Bahasa ini digunakan baik dalam surat-menyurat maupun dalam komunikasi dengan kepala-kepala rakyat di seluruh nusantara. Setelah itu, bahasa Melayu pun mulai semakin berkembang di seluruh nusantara.
Cita-cita kesatuan nasional mulai berkumandang pada bulan Mei 1918, dengan berdirinya Dewan Rakyat. Lembaga ini mempunyai tujuan untuk membentuk bahasa nasional. Pengakuan dan pengangkatan bahasa Melayu diikuti dengan terbitnya surat-surat kabar yang dipimpin oleh para wartawan Indonesia.
Tanggal 28 Oktober 1928 konggres pemuda di Jakarta telah mencetuskan Sumpah Pemuda yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar bagi seluruh masyarakat nusantara.

Penggunaan Aksara di Indonesia
Penelitian menunjukkan bahwa sebuah naskah kuno yang dapat menghubungkan antara tradisi lisan dengan tradisi tulisan di Indonesia adalah tentang asal-usul abjad Jawa yang lebih dikenal dengan Legenda Aji Saka. Beberapa ahli memiliki kesimpulan yang hampir sama, bahwa legenda Aji Saka
ini memiliki hubungan dengan penggunaan kalender Saka yang digunakan di Jawa sebelum kalender Islam. Kalender Jawa diperkenalkan oleh Sultan Agung pada tahun 1633 M.
Prasasti tertua yang ditemukan di Nusantara berasal dari abad ke -5 masehi dari kerajaan Kutai dan Tarumanegara. Namun, keduanya masih menggunakan bahasa sansakerta dan huruf Pallawa. Dari sinilah kemudian zaman prasejarah di Indoneseia barakhir. Cacatan penggunaan dan perkembangan aksara di Indonesia menunjukkan bahwa pemakaian aksara Pallawa telah dimulai sejak abad VII hingga akhir abad VIII. Setelah itu di Indonesia dipakai huruf Jawa sampai abad XV, yaitu sampai zaman klasik Hindu-Budha.
Aksara di Nusantara dapat diklasifikasikan menjadi tiga periode, yaitu: periode klasik, periode Islam, dan periode kolonial. Periode klasik Hindu-Buddha yang dijumpai di Nusantara adalah aksara Pallawa, pasca Pallawa dan aksara Kawi. Periode Islam memakai aksara Arab, aksara Arab Melayu, aksara Pegon dan aksara Serang. Sedangkan pada periode kolonial memakai aksara Gotik, aksara Latin dan dalam perkembangannya menjadi aksara nasional di Indonesia.
Para peneliti sebelumnya, baik ahli epigrafi maupun arkeologi telah mencermati bahwa perubahan aksara dari waktu ke waktu beradaptasi sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pengertian bahwa keberadaan aksara itu akan menyerap warna budaya lokal di mana aksara itu digunakan oleh pendukung kebudayaan aksara itu sendiri. Perubahan aksara tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Aksara Pallawa awal, dipakai sebelum abad VII M, misalnya prasasti Tugu Bogor.
b. Aksara Pallawa tahap akhir, dipakai pada abad VII sampai pertengahan abad VIII M, misalnya prasasti di Canggal, Kedu dan Magelang.
c. Aksara Kawi atau Jawa Kuna tahap awal dipakai pada tahun 750 M -725 M, misalnya prasasti Balengan di Kalasan Yogyakarta.
d. Aksara.Kawi atau Jawa Kuna tahap akhir dipakai tahun 925 M-1250 M, misalnya prasasti Airlangga.
e. Aksara Majapahait dan aksara daerah/lokal dipakai pada tahun 1250 - 1450 M, misalnya prasasti Singasari dan lontar Kunjarakarna.
f. Aksara Jawa Baru, dipakai pada tahun 1500 sampai sekarang, misalnya pada kitab Sulah Bonang dan kitab yang lebih muda Selain itu, hal penting perlu dikemukakan di sini adalah aksara Pallawa menggunakan bahasa Sansekerta, seperti yang digunakan dalam pasasti Canggal (Sleman), Jawa Tengah (732 M). Perkembangan aksara Kawi dalam budaya Jawa sangatt erat kaitannya dengan kerajaan Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama abad VII dan VIII M. Periode Singasari dan Majapahit bahasa Jawa Kuna dapat dilihat dalam teks-teks kakawin, seperti kakawin Pujastawa.

Kondisi budaya oral dan tulisan Indonesia Saat ini
• Bahasa
Pada dasarnya bahasa daerah sampai saat ini masih digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam kalangan yang informal. Meskipun pada awal abad ke-20 dengan penuh kesadaran bahasa Melayu kemudian dijadikan sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa Indonesia menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi para penutur dan pemiliknya (Hastuti,1986:1).
Namun, di beberapa wilayah di Indonesia sampai saat ini pun masih banyak yang menjunjung tinggi budaya oral dan budaya tulisan belum menjamah kemurnian komunitas mereka. Aturan-aturan yang dipakai dalam komunitas berdasarkan pada adat kebiasaan, kosmologi dan tak tertulis.
Dalam era globalisasi seperti saat ini minat untuk mempelajari dan menguasai bahasa asing dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Sebaliknya peminat bahasa Indonesia sendiri tergolong sangat sedikit.

• Tulisan
Selain huruf alphabet digunakan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, saat ini banyak dipelajari pula huruf-hurf asing seperti huruf Jepang, Cina, atau Korea.Antusiasme mempelajari huruf asing tersebut lebih banyak terjadi pada kalangan akademisi dan remaja. Sedangkan kajian untuk huruf-huruf nusantara yang mengandung makna kompleks di dalamnya itu kini semakin surut peminatnya.
Budaya menulis saat ini sedang digalakkan kepada para pelajar dan kalangan sivitas akademika di Indonesia. Budaya menulis dianggap sebagai salah cara untuk dapat membagikan buah pikir seseorang bagi masyarakat luas. Dari sinilah kemudian diharapkan sistem pendidikan dan sektor penunjang kehidupan lainnya dapat lebih dikembangkan. Aturan dalam menulis pun ditetapkan untuk mengatur bagaimana cara menulis yang baik tanpa melanggar etika (dunia jurnalistik).

Daftar Pustaka

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka umum.
Hastuti, Sri. 1986. Ringkasan sejarah Sastra Indonesia Modern. Klaten: PT Intan Pariwara.
Irawan, Ade didik. 2008. Tradisi sejarah dalam Masyarakat Indonesia. Terarsip dalam http://www.scribd.com/doc/4991797/KEHIDUPAN-AWAL-MASYARAKAT-DI-KEPUALAUAN-INDONESIA
Rosda, Tim Penulis. 1996. Prasejarah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suastika, I Made. 2008. Bahasa dan Aksara sebagi Identitas Budaya. makalah yang disampaikan pada Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, 10-12 Desember di Bogor.
Sumardjo, Jakob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutika-Historis Terhadap Artefak-artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
http://www.sejarahsosial.org/2008/09/20/sejarah-lisan-di-indonesia-dan-kajian-subyektivitas/
http://www.wacananusantara/2/542/Tradisi%20Lisan,%20Tulisan%20id%20Lidah%20yang%20Kian%20Tak%20Didengar?mycustomessionname=6517c58c399e230f5560bb828fcfb3e9//

Minggu, 04 April 2010

Tuhan Menciptakan Air Mata Sebagai Berkah

Ngeng… Aku terus memacu laju sepeda motorku. Sementara pikiranku terus bertanya-tanya tentang sebuah pesan singkat yang baru saja kuterima dari salah seorang anggota keluargaku. Tak kupedulikan jarum-jarum tipis air hujan yang berusaha menembus kulit dan meyuntikkan hawa dingin ke seluruh tubuh. Hasratku hanya satu, segera sampai di rumah dan memastikan semuanya baik-baik saja.
Memasuki gang masuk ke kampungku, bendera putih di ujung jalan berkibar dengan lesunya. Oh Tuhan.. aku berharap berita duka itu bukan untukku. Namun.. kulihat para tetangga telah berkerumun di halaman rumahku. Segera kuparkir sepeda motorku dan aku pun berlari menuju ruang tamu. Untaian tasbih dan pengagungan asma Illahi telah menyelimuti sudut-sudut ruangan. Seseorang telah terbujur kaku berselimut kain kafan.
Perlahan kudekati tubuh tak bernyawa itu. Kubuka tabir kain kafan yang menutupi wajahnya. Aku pun melihat wajah pucat ibuku kini berada di depan mataku. Kutatap pesona penuh keagungan di dalamnya. Wanita perkasa yang tak pernah mengeluh dengan polah bengal anak-anaknya. Dengan penuh ta’zim ku kecup kening permata hatiku untuk terakhir kalinya. Kemudian kristal-kristal bening dari kedua mataku mulai jatuh satu per satu. Setelah itu kelopak mataku tak kan mampu untuk menahan genangan air mata yang telah membuncah dari sumbernya. Tangis haru pun meledak pada titik kulminasinya. Bibirku tak henti melafadzkan dzikir kepada Sang penguasa hidup. Sesekali terdengar istighfar pada tagisku yang sesenggukan.

----- sebuah cerita refleksi untuk kembali menyadari betapa banyaknya dosa-dosa kita pada ibunda tercinta. Hanya fiktif belaka.

Tentunya kita semua akan merasa sedih ketika kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Bahkan baru sebatas membayangkannya saja, air mata akan jatuh berlinangan. Dalam sunyi, aku sering menitikkan air mata walau tak ada sebab pasti yang membuat aku harus bersedih. Terlebih ketika pikiran terasa penat dengan urusan duniawi dan sepertinya badan tak sanggup lagi menahan beban yang ada, maka aku akan membiarkan diriku larut dalam tangisan barang sejenak. Karena dengan menangis beban itu akan sedikit terkurangi. Kemudian sebuah semangat baru akan muncul layaknya raksasa yang menyeruak bangun dari tidurnya.
Aku akan banyak bermunajat kepadanya ketika kesedihan bertandang di hati. Berharap Tuhan selalu memberikan secercah kasihnya untukku dan dan untuk orang-orang yang kusayangi. Semoga Engkau senantiasa memberikan balasan yang lebih untuk orang-orang yang aku cintai dan mencitaiku ya Rabb. Semoga Engkau tidak mencabut nyawa kami sebelum aku memberikan balasan terbaik atas budi baik mereka. Semoga Engkau masih mengizinkan aku hidup bersama mereka lebih lama lagi. Semoga…

Sistem Pendidikan Gagasan Ki Hajar Dewantara

Kebanggaan suatu bangsa terhadap pahlawan-pahlawannya akan membangkitkan kesadaran bangsa itu terhadap harga diri dan martabat bangsanya yang luhur, yang telah mampu melahirkan manusia-manusia besar dan pahlawan-pahlawan besar.
(Ki Hajar Dewantara)

Masa penjajahan yang berlangsung selama lebih dari 350 tahun di negeri ini memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pengambilan kebijakan dan penataan sistem pemerintahan Indonesia setelah merdeka. Tak dapat dihindari, Indonesia pun mengalami penetrasi dalam berbagai hal sepereti ekonomi, politik, sosial maupun budaya dari negara penjajah terebut.
Negara kita saat ini pun masih mengadopsi sistem pendidikan ala Barat. Padahal banyak pihak yang menilai sistem pendidikan tersebut bersifat sekuler dan matrealistik. Pendidikan kini dinilai sebagai sebuah formalitas yang tidak lagi menunjukkan esensi yang sesungguhnya dari proses pebelajaran itu sendiri dan lebih berorientasi pada pencapaian hasil yang dirasa dapat menunjang kebutuhan finansial peserta didik di masa depan.
Perlu kita ingat bersama bahwa para tokoh nasionalis Indonesia telah berusaha untuk membangkitkan semangat berpendidikan untuk menjadi negara yang bermartabat tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya yang kita miliki. Justru dengan hal itulah keagungan bangsa ini terlihat dan permasalahan dalam negeri bisa terkendali.
Sebuah kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi rakyat Indonesia muncul sebagai bentuk perlawanan nonfisik atas penjajahan yang membelenggu Indonesia. Salah satu indikasi perkembangan ini ditandai dengan berdirinya sekolah keagamaan dan kebangsaan seperti Perguruan Nasional Taman Siswa atau Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa.

Taman Siswa dan Konsep Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau Ki Hajar Dewantara adalah tokoh peduli pendidikan yang dengan serius berupaya menumbuhkan kembali tradisi kejayaan masa lampau negeri ini. Bersama dengan perguruan Taman Siswa yang didirikannya pada tahun 1922, putra dari Pangeran Suryaningrat dan cucu dari K.G.P.A.A. Paku Alam III ini berupaya meletakkan dasar-dasar kebudayaan bangsa dan semangat kebangsaan di dalam gerakan pendidikan yang dilakukan di Jawa, Sumatra, Borneo, Sulawesi, Sunda Kecil, dan Maluku. Semua itu didedikasikan untuk memulihkan harkat dan martabat bangsa dan menghilangkan kebodohan, kekerdilan, dan feodalisme sebagai akibat nyata dari penjajahan.
Tamansiswa mengajarkan “Konsep Tringa” yang terdiri dari ngerti (mengetahui), ngrasa (memahami) dan nglakoni (melakukan). Maknanya ialah, tujuan belajar itu pada dasarnya ialah meningkatkan pengetahuan anak didik tentang apa yang dipelajarinya, mengasah rasa untuk meningkatkan pemahaman tentang apa yang diketahuinya, serta meningkatkan kemampuan untuk melaksanakan apa yang dipelajarinya.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan:
1. Melihat pendidikan dari perspektif antropologis, yaitu bagaimana warga masyarakat meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya dan mempertahankan tatanan sosial. Ki Hajar Dewantara memandang penting pewarisan budaya ini sebagai cara menyambung kembali peradaban bangsa yang pernah terdistorsi. Beliau juga memikirkan kemajuan budaya bangsa yang harus selalu tumbuh. Pendidikan merupakan proses akulturasi, dalam pengertian masyarakat tidak hanya menyerap warisan budaya tetapi juga memadukan berbagai unsur budaya tanpa menghancurkan unsur inti atau tema utama kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan nasional (Cultureel Natio-nalism).
Ki Hadjar Dewantara mencipakan asas Tri-kon (kontinyu, konvergensi, dan konsentris), yang menyebutkan bahwa pertukaran kebudayaan dengan dunia luar harus dilakukan secara kontinyu dengan alam kebudayaannya sendiri, lalu konvergensi dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada dan akhirnya, jika sudah bersatu dalam alam universal, bersama-sama mewujudkan persatuan dunia dan manusia yang konsentris. Konsentris berarti bertitik pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi masih tetap memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri.
2. Pendidikan nasional harus berdasarkan pada garis hidup bangsanya dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan, yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya, sehingga berkedudukan sama dan pantas bekerjasama dengan bangsa lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Pemikiran ini menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara adalah seorang yang sangat menghargai pluralisme atau kemajemukan. Beliau juga seorang yang berpikiran futuristik dengan universalisasi yang memungkinkan jaringan global berbagai hubungan antarbangsa melintasi ruang dan waktu. Wawasan kemajemukan ini membuka peluang bagi berkembangnya sikap toleran, inklusivisme, dan non-sektarianisme yang merupakan wujud konkret dari Bhinneka Tunggal Ika.
3. Memberikan pengakuan akan pentingnya pendidikan budi pekerti. Beliau berpendapat bahwa pendidikan ala Barat yang hanya berorientasi pada segi intelektualisme, individualisme, dan materialisme tidak sepenuhnya sesuai dengan corak budaya dan kebutuhan bangsa Indonesia. Warisan nilai-nilai luhur budaya dan religiusitas bangsa Indonesia yang masih dijadikan pedoman hidup berkeluarga di masyarakat Indonesia harus dikembangkan dalam dunia pendidikan. Dalam konteks pemikiran Ki Hajar, pendidikan tidak cukup hanya membuat anak menjadi pintar atau unggul dalam aspek kognitifnya. Pendidikan harusnya mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak seperti daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Dengan demikian, pendidikan diharapkan mampu mengembangkan anak menjadi mandiri dan sekaligus memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain, bangsa, dan kemanusiaan, sehingga anak menjadi seorang yang humanis dan lebih berbudaya.

Landasan Pendidikan Taman Siswa
Sebagai perguruan nasional, Taman Siswa mempunyai dasar-dasar sebagai berikut;
 Visi:
Membangun manusia yang beriman dan bertaqwa , merdeka lahir dan batin, berpengetahuan agar menjadi masyarakat yang berguna bagi Nusa dan Bangsa.
 Misi:
Menuju pada penguasaan :
• Prilaku iman dan taqwa (IMTAQ)
• Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
• Penerangan Budi Pekerti (AKHLAK)
 Dasar Pendidikan:
Dasar pendidikannya mengalami perbaikan setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Dasar pendidikan ini kemudian disebut Panca Dharma Dasar-dasar 1947, yaitu sebagai berikut:
1. Asas kemerdekaan, yaitu hidup ini bebas merdeka mengikuti hak asal tidak melupakan kewajiban.
2. Asas kodrat alam, yaitu manusia akan merasa bahagia apabila dapat menyatukan diri dengan kodrat alam itu yang mengandung unsur kebaikan. Layaknya sebuah benih, ia akan tumbuh dan berusaha menyemaikan benih-benih baru untuk kelangsungan generasi berikutnya. Karena itu hendaklah tiap anak berkembang dengan sewajarnya.
3. Azas kebudayaan, yaitu usaha membawa kebudayaan bangsa menuju kemajuan, sejalan dengan pergantian zaman untuk kepentingan hidup rakyat seluruhnya. Kebudayaan ini selayaknya berkembang secara kontinyu, konvergen dan konsentris (Trikon)
4. Asas kebangsaan, yaitu memuat aspek persatuan serta tidak ada unsur permusuhan dengan bangsa lain.
5. Azas Kemanusiaan, menyatakan bahwa dharma tiap-tiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang berarti kemajuan manusia itu lahir dan batin. Wujud kemanusiaan ini diimplikasikan dengan rasa cinta kasih terhadap sesama manusia dan makhluk Tuhan seluruhnya.
 Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan Taman Siswa pada awal pendiriannya, yaitu zaman penjajahan belanda adalah bersifat politik (kemerdekaan Indonesia). Sedangkan tujuan murni pendidikan yang diinginkan Taman Siswa seperti termuat dalam Peraturan Besar Taman Siswa bab IV pasal 13 adalah membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya. Tujuan tertinggi Taman Siswa adalah terwujudnya masyrakat tertib dan damai.

Bagian-bagian Sekolah Taman Siswa
1. Taman Indriya (Taman Kanak-kanak) : umur 5-6 tahun
2. Taman Anak (kelas I-III) : umur 6-10 tahun
3. Taman Muda (kelas IV_VI) : umur 10-13 tahun
4. Taman Dewasa (SMP)
5. Taman Madya (SMA)
6. Taman Guru B I : calon duru SD
Taman Guru B II (satu tahun setelah Taman Guru B I)
Taman Guru B III (satu tahun setelah Taman Guru B II)
Taman Guru Indriaya (SMP + dua tahun)
7. Taman Masyarakat Taman Mani, Taman Rini (untuk wanita), Taman Karti (untuk pertukangan)
Bentuk Organisasi Pendidikan
1. Perguruan
2. Pondok-asrama

Isi Kurikulum Taman Siswa
 Isi Kurikulum atau rencana pelajaran bersifat kultural nasional. Tiap mata pelajaran diberikan sebagai bagian peradaban bangsa yang perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pemuda tidak boleh dikekang oleh ikatan tradisi dan konvensi yang dapat menghambat kemajuan bangsa.
 Segala pelajaran harus mampu membangkitkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
 Di samping pendidikan kecerdasan, dipentingkan juga penjagaan dan latihan kesusilaan serta pendidikan kebudayaan.
 Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa pengantar diwajibkan. Bahasa daerah yang penting diajarkan secukupnya dalam daerah masing-masing. Bahasa asing diberikan untuk keperluan melanjutkan pelajaran dan menambah perhubungan dengan luar negeri.

Metode Pembelajaran
Dalam proses belajar mengajarnya, Taman siswa menerapkan sistem sebagai berikut;
 Sistem Among
Dalam sistem among ini diterapkan prinsip kekeluargaan yang bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Maksud dari bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan adalah setiap anak dibiarkan tumbuh sewarnya dengan bekal potensi yang ia miliki tanpa paksaan. Kebebasan untuk menentukan pilihan hidup tetap diberikan dengan tetap memberikan tuntunan agar berkembang hidup lahir batin menurut kodratnya sendiri-sendiri (Ahmadi, 1987: 52).
Unsur intelektualitas harus dihilangkan karena hanya menekankan pada aspek kognitif saja sehingga tidak terjadi keseimbangan. Selain itu hal ini akan menambah rasa tertekan pada siswa karena akan memunculkan istilah baru antara anak pandai dan bodoh dengan dasar yang tidak relevan.
Konsekuensi dari sistem ini adalah setiap pendidik harus meluangkan waktu sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya. Untuk itulah mengapa peran guru juga diperhitungkan.

Perwujudan Sosok Guru yang Diharapkan
Perubahan nama dari R.M. Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara saat beliau genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, bukannya tidak mempunyai maksud tertentu. Hal ini mengandung makna bahwa beliau menginginkan adanya perubahan sikap dalam melaksanakan pendidikan, yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria. Maksudnya adalah, perubahan dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria.
Seorang guru mempunyai tugas dalam mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru harus mampu menjadi model keteladanan yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian. Dari sinilah jiwa ksatria yang diharapkan akan muncul. Setelah itu tugas selanjutnya sebagai guru adalah menjadi fasilitator dalam menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa.
Paradigma lama yang sampai saat ini berkeyakinan bahwa ilmu itu diperoleh dengan jalan diajarkan oleh orang yang lebih pandai (guru) kepada murdid harus segera kita tinggalkan. Sedangkan guru yang efektif hendaknya memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator), dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik, anggota komunitas sekolah, dan pihak lain yang terkait. Sedangkan segi administrasi sebagai guru dan sikap profesionalitasnya secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator merupakan nilai positif lain yang diharapkan.

 Sistem Tri Pusat Pendidikan
Dalam usaha untuk mewujudkan cita-cita pendidikan, harus dilakukan kerjasama antara tiga pusat pendidikan yang ada yaitu perguruan atau lingkungan sekolah, keluarga dan lungkungan masyarakat.
Dengan sistem seperti ini diharapkan setiap pusat pendidikan dapat saling mengisi kekurangan dalam proses pembelajaran. Setiap pusat pendidikan hendaknya juga memberikan kontrol dan menciptan lingkungan yang kondusif demi terbangunnya sistem pendidikan yang harmonis.

Analisis sitem:
Dalam kajian ini, sistem pendidikan Taman Siswa gagasan Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah subsistem dari sistem pendidikan pada umumnya. Sehingga sistem pendidikan itu sendiri dapat disebut sebagai supersitemnya.
Adapun sistem pendidikan Taman Siswa ini tersusun dari gabungan subsistem-subsistem yang melengkapinya, seperti sistem pengajaran, sistem pembagian sekolah, sistem kurikulum, sistem yang melandasi pendidikan, dll. Tentunya sistem pendidikan ini tak akan disebut sebagai sistem pendidikan Taman Siswa apabila salah satu subsistemnya tidak diterapkan sebagaimana mestinya. Atau bahkan bertentangan dengan apa yang telah diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara.

Kesimpulan
Sistem Pendidikan Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah pola pendidikan yang berusaha menyambungkan kembali benang merah kejayaan Indonesia pada masa lampau sehingga harkat dan martabat bangsa kita kembali terangkat.
Perumusan sistem pembelajaran ini berusaha menekankan pada aspek keluhuran budaya dan keseimbangan manusia dalam daya cipta, rasa dan karsa. Kita diajarkan untuk tidak memaksakan kehendak dan membatasi pertumbuhan potensi anak yang diakui berbeda-beda setiap individunya. Hal ini sesuai dengan UU No. 2 Tahun 1989 tentang fungsi khas pendidikan nasional.
Perlu ditekankan kembali bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan tidak akan terwujud secara optimal apabila tidak didukung oleh pusat pendidikan lain selain sekolah, yaitu keluarga dan masyarakat. Sedangkan pasal 16 UU No 2 tahun 1989 menunjukkan betapa pentingnya pendidikan sekolah itu dikaitkan dengan lingkungan sosial. Maka dari itu, kontrol dan sikap saling melengkapi adalah kunci dari sistem tri pusat pendidikan ini.
Kita sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat belajar tentang sistem pembelajaran yang baik dan sesuai dengan nilai kebudayaan Indonesia. Sistem pendidikan yang ditawarkan Ki Hajar Dewantara semoga dapat menjadi referensi dalam memperbaiki sistem pendidikan saat ini yang mengacu pada praktik pembodohan siswa tersistematis. Sehingga daya kritis dan kualitas pendidikan yang dihasilkan kurang mampu bersaing dengan negara maju lainnya.
Semoga perubahan pada perbaikan sistem pendidikan negeri ini segera terealisasi sehingga mampu mencetak pribadi-pribadi yang unggul, baik dari segi itelektualitas dan kepribadian. Dengan demikian, kemajuan bangsa yang beridentitas bukanlah sekedar impian semata.










Daftar Puataka

Ahmadi, A. 1987. Pendidikan dari Masa ke Masa. Bandung: CV. Armico.
Mastuhu. 2004. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insania Press.
Surjomihardjo, Abdurrachman. 1986. Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Susilo, M. Joko. 2007. Pembodohan Siswa Tersistematis. Yogyakarta: Penerbit PINUS
Tauchid, Moch. 1967. Soeratman. Karya Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Madjelis- Luhur Persatuan Taman Siswa.
Tilaar, H.A.R. 2003. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=1039
http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=165858&actmenu=39

Senin, 22 Maret 2010

Analisis Teori

Teori Kultivasi Dilihat dari Dimensi Konseptualisasi dan Pendefinisian

Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton berat/ heavy viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa dunia itu sangat menakutkan. Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa apa yang mereka lihat di televisi yang banyak menyajikan acara kekerasan adalah apa yang mereka yakini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Teori ini dikemukakan oleh George Gerbner, mantan Dekan dari Fakultas (Sekolah Tinggi) Komunikasi Annenberg Universitas Pennsylvania. Teori ini dicetuskan berdasarkan penelitiannya terhadap perilaku penonton televisi yang dikaitkan dengan materi berbagai program televisi yang ada di Amerika Serikat.

Dilihat dari Dimensi dalam Konseptualisasi
Apabila dilihat dari prosesnya, teori kultivasi memandang informasi yang disampaikan telrvisi kepada penonton sebagai interkasi satu arah dan tidak ada umpan balik dari komunikan.Proses transaksi dianggap tidak ada karena penonton dianggap bersifat pasif.
Dilihat dari praktik simbolis, teori kultivasi memandang televisi sebagai simbol dari kebenaran persepsi tentang masyarakat dan budaya. Menurut teori ini televisi menjadi media utama untuk belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Melalui kontak televisi seseorang belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.

Dilihat dari Dimensi Pendefinisian
Derajat observasi teori kultivasi sangatlah terbatas, karena hanya melihat kepada para pecandu berat televisi saja, yang menganggap semua informasi yang disampaikan telesivisi adalah benar. Padahal masih ada penonton yang bersifat kritis dalam memandang berita yang disuguhkan. Selain itu teori ini tidak mencakup acara televisi di seluruh penjuru dunia, karena sampel dari penelitiannya hanya diambil dari Amerika Serikat.
Teori kultivasi merupakan teori yang bertujuan karena terdapat situasi di mana sebuah sumber mentransmisikan sebuah pesan kepada penerima dengan tujuan unuk mempengaruhi perilaku si penerima.
Definisi teori kultivasi dianggap sebagai pertukaran verbal dari suatu pemikiran atau ide yang berangkat dari asumsi bahwa dalam suatu proses komunikasi pemikiran atau ide berhasil dipertukarkan sehingga mempengaruhi komunikan.

Daftar Pustaka

Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories of Human Communication. Seventh Edition. Belmont, CA: Wadsworth.
Miller, Katherine. 2002. Communication Theories: Perspective, Process, and Context. Boston: McGraw Hill.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Bahan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada kelas A dan B 2009/2010


Nb: terima kasih kepada berbagai sumber yang telah membantu memberikan pencerahan dalam memahami ilmu komunikasi dan berbagai kajian yang menunjang. Semoga kebaikan kalian semua dibalas-Nya dengan penghargaan yang lebih besar.

Sabtu, 06 Maret 2010

Penilaian terhadap kasus Ryan, Jombang

Kejahatan Media dalam Pemberitaan Kasus Ryan
Oleh : Eko Megawati
(09/288920/SP/23798)

Kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam Henyansyah alias Ryan, warga Jombang setahun yang lalu tentu masih segar dalam ingatan kita. Berbagai media massa, khususnya televisi berusaha menampilkan dimensi yang berbeda dalam memandang kasus ini untuk menarik minat masyarakat.
Namun, dari sekian faktor yang membuat kasus ini memikat perhatian publik, beberapa catatan lain muncul tentang bagaimana seharusnya publik dan khususnya media massa menempatkan kasus ini secara proporsional. Tak bisa dipungkiri, ada beberapa kecenderungan media yang justru menjurus pada viktimisasi terhadap Ryan sebagai pelaku.
Tulisan ini akan berusaha berbicara tentang sikap media yang kurang bijak dalam memberitakan kasus Ryan, stereotipe negatif yang secara tidak langsung dikaitkan dalam pemberitaan dan dampak apa yang mungkin ditimbulkan dari stereotipe negatif tersebut.

Perlombaan Media Membingkai Kasus Ryan
Ketika polisi masih berusaha mengembangkan kasus ini dan menganalisis apakah ada keterlibatan pihak lain dalam aksi pembunuhan yang terjadi, bukan berati publik, media massa khususnya, boleh mengembangkan kasus ini dengan “versi” sendiri. Ulasan media tentang latar belakang keluarga pelaku sangat mungkin menggiring publik turut menyalahkan keluarganya dalam keseluruhan episode kejahatan yang dilakukan Ryan.
Dodo, reporter senior berita kriminal di sebuah stasiun televisi, menambahkan, liputan dan tayangan berita kriminal sudah seperti perburuan sensasi infotainment. ”Yang dicari hanya kehebohan. Dampak pemberitaan kerap diabaikan,” kata Dodo.
Berdasarkan surat Keputusan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 009/SK/KPI/8/2004 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia, pasal 31 disebutkan, sesuai dengan kodratnya, lembaga penyiaran dapat menjangkau secara langsung khalayak yang sangat beragam baik dalam usia, latar belakang, ekonomi, budaya, agama, dan keyakinan. Karena itu, lembaga penyiaran harus senantiasa berhati-hati agar isi siaran yang dipancarkannya tidak merugikan, menimbulkan efek negatif, atau bertentangan dan menyinggung nilai-nilai dasar yang dimilki beragam kelompok khalayak tersebut.

Stereotipe Negatif Pemberitaan dan Dampak yang Ditimbulkan
Pemberitaan kasus Ryan yang sering dikaitkan dengan kehidupan seorang gay, dapat memicu timbulnya pelecehan kelompok masyarakat tertentu. Padahal lembaga penyiaran secara hukum dilarang menyiarkan program yang mengandung muatan yang dapat membangun atau memperkokoh stereotip negatif mengenai kelompok-kelompok masyarakat tersebut.
Menurut tori kultivasi (cultivation theory) yang diperkenalkan oleh Prof. George Gerbner, media (dalam konotasi yang lebih sempit, televisi) menjadi alat utama bagi audiens untuk belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Televisi sangat menentukan persepsi apa yang terbangun di benak penonton tentang masyarakat dan budaya. Ini berarti, seseorang belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai, serta adat kebiasaan melalui kontak dengan televisi (Nurudin, 2007: 167).
Ada sebagian pecandu berat televisi yang akan membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan. Padahal seperti yang dipaparkan sebelumnya, tidak selamanya berita yang ditayangkan televisi menunjukkan pada realitas yang sebenarnya. Tidak sedikit fakta di lapangan menunjukkan pada fenomena yang lebih baik atau sebaliknya terhadap isi pemberitaan. Tentunya persepsi yang terbentuk itu juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal di dalam lingkungan seseorang.
Saya rasa oknum media terlalu berlebihan dalam menyoroti kasus ini. Kehidupan pribadi keluarga Ryan yang notabene adalah hak privasi turut dieksploitasi sebagai bumbu penyedap sebuah tayangan. Media, dalam hal ini televisi terkesan terlalu memberhalakan rating dan cenderung mengorbankan pihak-pihak terkait yang bisa dibilang lemah posisinya di mata hukum.
Selama ini media cenderung menayangkan hal-hal yang menjadi keinginan publik, bukan kebutuhan publik. Porsi yang diberikan media dalam memenuhi kebutuhan masyarakat hendaknya seimbang antara unsur hiburan dan pengetahuan. Hal tersebut karena secara umum manusia mempunyai kebutuhan terhadap media massa seperti yang telah diklasifikasikan Katz, Guveritch dan Haas yaitu meliputi kebutuhan kognitif, afektif, integratif personal, integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian (Liliweri, 1991: 137).
Perlu diperhatikan bahwa pengetahuan masyarakat kita masih sangat minim terkait dengan wacana melek media. Tak dapat dihindari apabila media meberitakan hal-hal yang kurang sesuai dengan fakta yang ada, misalnya dalam hal ini memberi stereotipe negatif terhadap kaum gay atau keluarga Ryan itu sendiri, maka kemungkinan besar masyarakat akan dengan mudah mempercayai dan menerima makna-makna yang disampaikan media apa adanya tanpa disertai upaya untuk mengkritisinya.
Media dan para pekerja pers sesungguhnya mempunyai tanggung jawab besar dalam memperbaiki mitos-mitos penuh kebohongan terhadap stereotipe negatif yang selama ini beredar di masyarakat. Pers sebaiknya tidak hanya mengandalkan laporan-laporan yang sekedar realitas psikologis (pendapat dan pandangan orang-orang), namun harus menekankan realitas sosiologis yang diperoleh dari lapangan dan informasi akurat dari nara sumber yang terlibat langsung di sana.
Untuk itu, diperlukan adanya perhatian khusus yang lebih banyak dicurahkan kepada pemanfaatan media massa yang secara teknologis telah begitu pesat dipergunakan di Indonesia. Karena pada kenyataannya, media massa yang ada tidak banyak digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan terkadang justru memicu disintegrasi antar kelompok masyarakat karena adanya unsur pendiskriminasian dalam suatu pemberitaan yang ditayangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Onong Uchjana. 2008. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Liliweri, Alo. 1991. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Bandung: Penerbit PT Citra Aditya Bakti.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Prajarto, Nunung. 2006. Media Komunikasi; siapa Mengorbankan Siapa. Yogyakarta: Penerbit FISIPOL UGM.
Soelaeman, M. Munandar. 2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: PT Refika Aditama.
Wahidin, Samsul dkk. 2006. Filter Komunikasi Media Elektronika. Yogyakarta: Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kalimantan Selatan dan Pustaka Pelajar.
Winarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM Press.
http://metro.vivanews.com/news/read/20087-istri_korban_mutilasi_bersaksi
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/17/11113411/polisi.pengungkap.kasus.ryan.dapat.penghargaan.
http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=25418
http://www.sarapanpagi.org/media-bisa-menginspirasi-kejahatan-vt2423.html