Selasa, 08 April 2014

Bagaimana Kalau Marah?

Beberapa waktu lalu sempat terdengar kabar tentang kematian seorang pendukung partai berlambang warna merah yang meninggal karena lehernya terkena bacok ketika sedang melintas di daerah yang menjadi “markas” pendukung partai bercirikan warna hijau. Kejadian itu berlangsung ketika segerombolan partai berbendera merah ini sedang konvoi dengan motor berknalpot keras di daerah Bantul. Entah karena alasan apa, kedua kelompok massa ini kemudian teribat bentrok hingga memakan korban jiwa. Tidak hanya ini. Sebelum-sebelumnya, berita tentang kematian yang disebabkan karena bersitegangnya sejumlah partai ramai terdengar dari sejumlah sumber.

Marah. Sifat ini kerapkali menghampiri kita di kala terdapat hal-hal yang bertentangan dengan kehendak hati kita. Begitu pula kejadian-kejadian yang seringkali berujung pada kematian acapkali diawali dari rasa marah yang bergejolak.

Marah. Hampir setiap kita pernah merasakan bagaimana rasanya marah. Bahkan terkadang kita tidak dapat menghindarinya. Mungkin pula sesekali di antara kita tidak bisa mengontrol emosi dan pikiran dengan jernih ketika sedang marah. Sifat marah, seringkali lebih banyak mendatangkan mudharat daripada manfaat.
Begitu perlunya kita menjaga dari sifat marah, hingga Nabi mewasiatkan kepada laki-laki, “Laa taghdhab. “ yang berarti “Jangan Marah!”

Ibnu Hajar berkata dalam al-Fat-h: “Al Khathtabi berkata: ‘Arti perkataan beliau yakni jangan marah, adalah jauhi sebab-sebab marah dan jangan melakukan sesuatu yang mengarah kepadanya. Sementara marah itu sendiri terlarang karena ia adalah tabiat yang tidak akan hilang dari manusia.”
‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam bukunya “Ensiklopedi Adab Islam Menurut al-Quran dan as-Sunnah Jilid 2” menyebutkan, setidaknya ada sepuluh adab yang berhubungan dengan marah.

1.       Jangan marah kecuali karena Allah.
Jika marah dilakukan karena Allah, niscaya hal itu menjadi sesuatu yang disukai dan pelakunya akan mendapat pahala. Nabi tidak pernah marah karena dirinya, tetapi ia marah karena Allah Ta’ala. Juga Beliau tidak dendam kecuali karena Allah. Dalam sebuah hadist, disebutkan:
“Tidaklah diajukan dua pilihan kepada Nabi kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selama tidak mendatangkan dosa. Jika itu dosa, maka beliau akan menjauhi keduanya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi yang beliau hadapi kecuali apabila larangan Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah.

2.       Berlemah lembut dan tidak marah karena urusan dunia
Marah terkadang mendorong manusia untuk bertikai dengan orang yang membuatnya marah, sehingga menjerumuskan ia dalam dosa besar. Bahkan seringkali sampai memutus tali silaturrahim. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 134 “... dan orang-orang yang menahan amarah...”
Nabi bersabda kepada Asyajj ‘Abdul Qais: “Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah, yaitu santun dan hati-hati.

3.       Mengingat kekuasaan dan keagungan Allah
Orang yang mengingat kekuasaan dan keagungan Allah akan mendorong seseorang untuk meredam amarahnya. Mungkin pula seseorang yang itu akan urung diri untuk marah. ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada mengatakan, mengingat kekuasaan dan keagungan Allah adalah adab palng bermanfaat yang dapat menolong seserang untuk berlaku santun (sabar).

4.       Menahan dan meredam amarah jika telah muncul
Allah berfirman: “... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. ‘Ali –‘Imran: 134).
Nabi pernah bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap makhluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.”

5.       Berlindung kepada Allah ketika marah
Nabi bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan: ‘A’uudzu billah’ (aku berlindung kepada Allah), niscaya akan reda kemarahannya.”
Syaitanlah yang menyulut kemarahan pada diri manusia, sehingga kita sebagai makhluk yang lema ini perlu berlindung kepda Allah dari syaitan ketika marah.

6.       Diam
Diam ketika marah merupakan salah satu perintah nabi, sebagaimana sabda Beliau, “Ajarilah, permudahlah, dan janganlah menyusahkan. Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”

7.       Mengubah posisi ketika marah
Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring!”

8.       Berwudhu’ atau mandi dan semisalnya
Karena marah adalah api syaitan yang berakibat mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf, maka perbuatan wudhu’, mandi atau semisalnya, terlebih menggunakan air dingin akan memadamkan api tersebut sehingga dapat menghilangkan marah.

9.       Memberi maaf dan bersabar
Nabi adalah orang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah. Bahkan di antara sifat Beliau yang tertera dalam Taurat: “... dan ia tidak membalas kejahaan dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan ampunan....”

10.   Jangan membalas keburukan dengan keburukan yang berlebihan
Allah berfirman, “Jika kamu membalas (menghukum), maka balaslah dengan yang semisal (dengan keburukan) yang telah mereka lakukan, tetapi jika kalian sabar, itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126)

Referensi: Buku karya ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada. 2013. “Ensiklopedi Adab Islam Menurut al-Quran dan as-Sunnah” Jilid 2. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Jumat, 24 Januari 2014

It's Never too Late to Start

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Penggalan kalimat ini bukanlah sebuah pepatah klise yang sekilas menakjubkan, tapi kemudian menguap tanpa makna setelahnya. Bagi sekumpulan ibu-ibu pengajian di kaki bukit Pajangan, pepatah ini benar-benar mereka resapi. Bersama-sama mereka saling menebar benih mimpi dan bahu-membahu menguatkan pijakan kaki untuk melangkah menuju perbaikan diri.
  
Kamis, 23 Januari 2014. Sekitar kurang lebih 15 menit menjelang pukul 14.00 WIB, aku bersama ibuku pergi ke SPS Harapan Bunda di daerah Pajangan. Kami berniat belajar membaca Al-Quran bersama. Agak gerimis memang. Tapi aku dan ibuku membulatkan tekad untuk tetap berangkat. Setelah memakai jubah jas hujan, kuhidupkan mesin motor bututku. Bersama ibu yang membonceng di belakang, kami pun meluncur menerobos rinai hujan.

Jam 14.00 kurang beberapa menit kami sampai di lokasi.
Tapi, sebentar. Tidak ada satu motor yang terparkir di halaman. Kemudian, kulirik teras depan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Kosong. Tidak ada satu tikar pun yang tergelar. Sepi bergelayut.

Kemudian kuhampiri seorang nenek pemilik rumah yang sekaligus salah satu peserta kajian pekanan itu. 
"Ngapunten, menika sios pengaosan boten nggih?"[1] tanyaku. 
“Mesthine nggihsios. Tapi niki dereng wonten sing menyang, dadine le nggelari klasa nggih mangke mawon nek pun pada menyang.”[2]
“Oo.. Nggih..,”[3] jawabku.

Aku dan ibuku pun menunggu di serambi depan. Bersama sang nenek dan seorang ibu paruh baya lain yang bekerja kepada sang nenek, kami saling bertukar cerita untuk menghidupkan suasana.

Selang beberapa menit dari percakapan awal kami, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Rutukan air hujan yang jatuh ke atap rumah layaknya serbuan peluru air yang ditumpahkan dari langit. Bagai batu-batu cair yang dilemparkan oleh seribu pasukan pembawa ketapel untuk mengepung area rumah. Begitu derasnya, hingga kami harus mengeraskan suara jika hendak berbicara. Tentu saja, agar tidak kalah dengan sorak air hujan yang menerpa.

Hujan kian membanjir ke bumi. Selokan di depan sebuah Sekolah Menengah Pertama yang berada persis di depan lokasi pengajian tak mampu menambung seluruh air yang tertumpah. Sebagian airnya luber ke jalan raya dan membentuk genangan lebar di permukaan jalan yang lebih rendah. Hujan lebat yang tak juga reda membuat sebagian orang malas bepergian ke luar rumah. Tidak sedikit bahkan yang memilih mengurung diri dalam kamar mereka yang hangat.

Huufhhhh... ku tarik nafas sesaat. Segera aku ingat pesan singkat dari Umi Nunung, pemateri sekaligus pendamping utama dalam kajian belajar Al-Quran ibu-ibu ini. Siang sebelum kajian, Umi Nunung sempat berpesan bahwa beliau telat hadir. Beliau ada agenda persiapan terakhir seminar di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu. Umi Nunung berperan sebagai moderator sekaligus wali murid. Beliau juga berpesan kepadaku untuk memulai belajar Iqra’ bersama terlebih dahulu.

Hujan belum juga reda. Sedang ibu-ibu peserta kajian belum jua terlihat ada yang datang. Pikirku, sepertinya hujan akan turun lebih lama. Setelah sejenak berfikir, akhirnya kuputuskan untuk mengabarkan kepada Umi Nunung bahwa kemungkinan kajianya diundur pekan depan.

Ku tunggu beberapa saat, hingga kemudian satu pesan masuk di handphone-ku.
“Alhamdulillah.. OK Mba. Iya ini hujannya lebat sekali,” balas Umi Nunug lewat pesan singkatnya. Alhamdulillah.. perasaanku sedikit lega. Pikirku, sepertinya akan sangat merepotkan Umi Nunung apabila hujan lebat seperti ini harus menembus hujan dari daerah pusat kabupaten ke tempat ini yang jaraknya mencapai 12 km.

Tiga puluh menit berlalu dari sejak aku datang ke tempat ini. Bulir hujan kini berubah menjadi rintik air yang lembut. Langit yang tadinya kelam berubah sedikit terang. Dan, di luar prasangkaku.. hujan benar-benar reda kali ini. Hanya meninggalkan genangan air di beberapa titik dan tanah yang basah.

Hal lain yang tidak kalah membuatku sedikit tercengang, seorang ibu peserta kajian datang mengendarai motornya. Kemudian, tak selang lama satu per satu ibu-ibu lainnya pun menyusul hadir. Ya Allah.. antara senang dan sedih, karena terlanjur mengirim sms ke Umi Nunung kalau kajian pekan ini libur.

Namun bagaimanapun semua harus dihadapi, pikirku. Akhirnya kupersiapkan papan tulis yang akan dipakai untuk mengajar. Karena tak kudapati spidol, kuminta nenek sang pemilik rumah untuk mencoba mencarikannya. Sebagian ibu yang datang di awal menyapu lantai dan menggelar tikar.

“Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.”
Kubulatkan hatiku untuk mengajar ibu-ibu yang kini duduk di depanku. Jumlah mereka sekitar 6 orang.  Kukuatkan mentalku seketika salam terucap dari bibirku. Setelah itu kami membuka kajian dengan membaca basmallah bersama-sama. Pada saat itu, kujelaskan tentang dialogku dengan Umi Nunung via sms, sembari meminta maaf kepada ibu-ibu sekalian atas ketidakhadiran Umi Nunung.

Alhamdulillah.. mereka memaklumi. Kemudian yang membuat besar hatiku, mereka pun dengan lapang dada menerimaku untuk mengajar mereka. Kata salah seorang di antara ibu-ibu, “Sama saja. Kan sama-sama ngaji.”

Masya Allah, aku begitu terharu dengan semangat mereka. Ya Allah.. mudahkan merea belajar Al-Quran. Berikan kepahaman dan rasa senang bagi mereka untuk belajar Al-Quran. Hingga kemudian Engkau karuniakan sikap istiqomah kepada mereka untuk tetap belajar, Ya Rabb..


“A, Ba, Ta..” satu per satu mulai kuajarkan huruf hijaiyah kepada mereka.
“A, Ba, Ta..” cetus mereka dengan serempak mengikuti aba-abaku.
Begitu seterusnya, sambil sesekali kuselingi dengan menguji kemampuan bacaan huruf hijaiyah mereka satu per satu secara bergiliran. Setelah dirasa sudah mampu menguasai makhraj dasarnya, kutambah dengan huruf-huruf yang lain, serta menekankan bagaimana cara membacanya. Lalu setelah itu ibu-ibu menirukan bersamaan, mengulang beberapa kali, dan tak lupa mereka mencoba satu per satu mengeja huruf-huruf yang telah dipelajari. Terkadang membaca secara berurutan, kadangkala disandingkan dengan sifat huruf yang berdekatan.

Begitu terus. Mengulang dan mengulang supaya lebih paham dan kian hafal. Meski beberapa ada yang cukup kesulitan merapal huruf-huruf yang telah diajarkan, namun para ibu-ibu tersbut terus bersemangat. Maklum saja, sedikit dari mereka adalah nenek-nenek lanjut usia yang sejumlah giginya telah tanggal tak berbekas. Untuk mengeja huruf “Tsa”, “Dza”, “Dzo” atau  “Za” mereka harus berjerih payah. Terlebih untuk mengucapkan huruf “Dhlo” yang harus menarik lidah ke geraham samping kanan atau kiri. Jangankan yang lanjut usia, untuk huruf yang satu ini ibu-ibu yang lebih muda pun belum terbiasa.

Meski tertatih, semangat ibu-ibu ini patut diteladani. Terbukti bahwa meski sebagian terlambat datang, ibu-ibu tersebut langsung menyesuaikan diri. Mereka berusaha mengikuti pelajaran dengan sepenuh hati. Tak terasa, hingga mendekati Sholat ‘Ashar, jumlah mereka mencapai 13 orang. Alhamdulillah..

Satu hal lagi yang tidak kalah membuatku berdecak kagum adalah. Di antara mereka terdapat seorang ibu yang statusnya mualaf. Allahuakbar. Meski mengaku baru sebulan memeluk Islam, ibu ini tak kalah semangatnya untuk belajar. Bahkan berkurang penglihatan karena matanya yang sakit tidak membuat ibu ini untuk diam dan menyerah. Ia mengandalkan pendengarannya untuk bisa menyejajari kemampuan teman-temannya dalam mengeja huruf hijaiyah. Masya Allah...

Segala puji bagi-Mu Ya Allah.. yang membukakan pintu hati setiap insan yang ingin mendekat kepada-Mu. Terimaksih untuk segala ni’mat dan hikamh yang Engkau berikan kepadaku tak kenal lelah. Sungguh, kesucian hanya milik-Mu. Semoga Kau ampuni segala dosa kami Ya Allah.. Semoga Kau istiqomahkan kami untuk berjalan mencari ridho-Mu. Hingga pada akhir hayat kami, hanya ke-esaan nama-Mu yang terakhir kami agungkan melalui lisan kami. Aamiin..












[1] "Mohon maaf, pengajiannya jadi tidak ya?"
[2]  “Seharusnya ya jadi. Tapi ini belum ada yang datang, jadi ya gelar tikarnya nanti saja kalau sudah ada yang hadir.”
[3] “Oo.. Ya.”

Senin, 02 Desember 2013

Belajar

Huuufhh... Sesekali ku tarik nafas panjang dalam sela kejemuan dalam belajar.
Bukan. Bukan jemu yang berujung pada keengganan mendalami ilmu. Hanya sebatas rasa ingin keluar sejenak dari buku-buku yang seolah memaku otakku. Kemudian beralih untuk sejenak tamasya, mengunjungi dunia yang lebih menentramkan jiwa. Dunia yang lebih bermakna tertentunya.

Belajar. Begitu kata ini sering berkeliaran dalam benakku.
Bukan. Bukan hanya sebatas belajar yang menurut orang-orang hanya senang dilakukan oleh mereka yang dikaruniai Tuhan otak cemerlang. Tapi belajar tentang apa-apa yang terjadi dalam keseharian hidup kita. Belajar bersyukur, belajar bersabar. Belajar di kala tawa dan tangis. Belajar tentang harap dan cemas. Belajar meminta dengan baik dan memberi dengan ikhlas.

Mungkin terkadang ada rasa bosan. Tapi kebosanan itu pun bagian dari proses belajar. Belajar untuk melawan kemalasan. Belajar untuk menciptakan kesenangan yang tidak menjerumuskan.

Ya. Sekali lagi, harus menguatkan diri untuk selalu mau belajar. Karena hidup terlalu mahal untuk sekadar disia-siakan.
Karena hidup adalah hamparan ilmu-ilmu Allah yang ditebar bagi mereka yang berakal. Lalu, sudahkah kita mengambil pelajaran?




sumber gambar: http://sudahtaukahkamu.blogspot.com/2012/04/8-tips-belajar-efektif-dan-efisien.html

Senin, 03 Juni 2013

Ramadhan, Aku Kembali Merindumu


Tak terasa Ramadhan telah di depan mata. Ya Allah.. apa yang sudah aku persiapkan untuk menyambutnya? Padahal Engkau janjikan pahala yang berlipat bagi mereka yang sungguh-sungguh memuliakan Ramadhan dengan sepenuh jiwa dan ranganya. Sementara aku? Kemalasan masih sering menggelayut ketika hendak menjalani aktivitas-aktivitas kebaikan. Nafsu masih suka memburu, mengalahkan niat tulus yang sebelumnya berusaha disemai. Aku pun masih sering enggan menyegerakan kebaikan, meski sadar bahwa kemalasan adalah musuh yang menggerogoti iman.

Padahal hati mengeja kata rindu. Namun, jika begini masih pantaskah aku disebut sebagai perindu? Sedangkan belum nampak wujud rasa syukur dan bahagia itu dalam deretan amal kebaikan yang sepantasnya membersamai rasa rindu.

Tetapi ya Allah, getaran bahagia itu sungguh ada. Meski gejolaknya sringkali ditelan gelapnya nafsu yang membutakan. Namun sungguh, aku ingin menuai kebaikan darinya suatu saat nanti.

Semoga, meski mungkin rasa itu baru tertanam dalam hati. Meski hasrat itu masih bergelut dalam proses metamorfosa kehidupan. Meski tunasnya belum berakar dengan kuat, izinkanlah ia tumbuh menjulang ke langit. Hingga suatu saat nanti akan ada buah-buah lebat yang dihasilkannya. Buah yang memberi kemanfaatan bagi sesama.

Meski pendar iman di dada tak seterang gelora ketakwaan para mujahid dan kekasih-Mu ya Allah.. Izinkan aku bersua kembali dengan bulan penuh berkah, bulan seribu ampunan. Izinkan aku kembali mencicipi barakah Ramadhan yang Engkau sebar ke seluruh penjuru alam. Izinkan aku menghamba, mendekat sepenuh jiwa untuk menggapai ridho-Mu yang mulia. Dan.. ampunilah segala dosa..

Rabu, 10 April 2013

Teori Komunikasi Interpersonal

Pesan Interpersonal (Interpersonal Message)
West dan Turner dalam Introducting Communication Theory (2010:75) mengawali pembahasannya dengan menekankan pentingnya makna dalam komunikasi intrapersonal. Empat teori menyoroti peran menonjol dari komunikasi intrapersonal dalam membuat makna. Keempat teori ini adalah:
• Symbolic Interaction Theory (George Herbert Mead)
Teori ini berpedapat bahwa orang-orang bertindak terhadap orang lain atau kejadian berdasar pada makna yang mereka sematkan terhadap orang lain atau kejadian tersebut.

• Coordinated Management of Meaning (CMC) Theory (W. Barnett Pearce & Vernon Cronen)
Teori CMC ini lebih menekankan bahwa orang akan menggunakan seperangkat peraturan atau kebiasaan personal dalam usaha memahami situasi sosial.

• Cognitive Dissonance Theory (Leon Festinger)
Teori ketidaksesuaian kognitif menekankan pada kebutuhan seseorang untuk menghindari mendengarkan pandangan yang berseberangan dengan pemahamannya.

• Expectancy Violations Theory (Judee Burgoon)
Dalam teori pelanggaran harapan ini melihat secara spesifik atas apa yang terjadi ketika seseorang melanggar harapan kita. Teori ini memberi kesan bahwa kita akan menilai pelanggaran sebagai hal yang baik atau buruk kemudian bertindak selama percakapan.


Pengembangan Hubungan (Relationship Development)
West dan Turner (2010: 145) mengelompokkan beberapa teori yang masuk dalam pembahasan tema pembangunan hubungan. Adapun teori tersebut adalah:
• Uncertainty Reduction Theory (Charles Berger & Richard Calabrese)
Teori ini berpendapat, ketika orang-orang asing bertemu, fokus mereka adalah mengurangi level ketidakpastian di antara mereka; baik pada level perilaku ataupun pemikiran (kognitif).

• Social Penetration Theory (Irwin Altman & Dalmas Taylor)
Social Penetration Theory percaya bahwa penyingkapan diri adalah cara utama yang mengembangkan sebuah hubungan dangkal kepada hubungan yang lebih intim. Meskipun di sisi lain, penyingkapan diri dapat juga meninggalkan seseorang mudah mendapatkan kritikan.

• Social Exchange Theory (John Thibaut & Harold Kelley)
Teori ini mengusulkan, kekuatan utama dalam hubungan interpersonal adalah kepuasan pada ketertarikan pribadi individu. Teori ini menganalogikan hubungan seperti pertukaran ekonomi di mana orang akan puas ketika menerima hasil yang adil atas pengeluaran yang dilakukan.

• Relational Dialectics Theory (Leslie Baxter & Barbara Montgomery)
Esensi dari teori ini adalah bagaimana kita dapat mengelola tensi konflik dalam sebuah hubungan. Hal ini mengingat seseorang akan terus merasakan dorongan dan tarikan hasrat berkonflik dalam sepanjang kehidupan sebuah hubungan.

• Communication Privacy Management Theory (Sandra Petronio)
Dalam hubungan, seseorang secara konstan akan mengelola batas-batas pemikiran dan perasaan yang akan mereka bagi ataupun tidak kepada orang lain. Penyingkapan dalam sebuah hubungan ini membutuhkan pengelolaan batas-batas wilayah prifat dan publik.



Referensi: West, Richard & Lynn H. Turner. 2010. Introducing Communication Theory: Analysis and Application. Boston: McGraw-Hill.

Selasa, 26 Februari 2013

Teori dan Pondasi Filisofis

Definisi
Ada beragam definisi yang bermunculan dalam memberikan penjelasan tentang apa itu teori. Menurut Sir Karl Popper (1959) dalam Miller (2001: 18) teori didefinisikan sebagai “net cast to catch what we call the world”, jaring untuk menangkap realitas di sekitar kita. Miller dalam bukunya Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts menambahkan bahwa teori membantu memahami atau menjelaskan fenomena yang kita amati di dunia sosial. Lebih lanjut, teori didefinisikan sebagai seperangkat abstrak gagasan yang membantu memberikan pengertian pada perilaku. Rosenberg (1966) dalam Miller (2001:20) menambahkan bahwa abstraksi yang dimaksud di sini lebih menekankan pada level yang lebih tinggi dari sebuah observasi aktual. Teori memiliki tujuan menjelaskan dan mensistemasikan penemuan yang lebih mendasar.

Pendekatan
Berbicara lebih jauh tentang teori, ada dua pendekatan yang bisa digunakan. Pertama, pendekatan deduktif yang cenderung memberikan keunggulan atau penekanan pada kedudukan teori itu sendiri dalam praktik membangun teori. Abstrak teori dibangun terlebih dahulu, kemudian observasi empiris dilakukan guna menguji kebenaran teori. Sedangkan pendekatan induktif berpandangan bahwa observasi terlebih dahulu hadir sebelum teori.

Fungsi
Pembahasan tentang teori juga tidak bisa lepas dari pertimbangan tentang apa fungsi dari teori tersebut. Bernard Cohen dan Larry Laudan dalam Miller (2001:21-22) menyebutkan bahwa fungsi utama sebuah teori adalah menyelesaikan permasalahan. Laudan (1977) memulai dengan dua tipe masakah, yaitu masalah empirik (segala sesuatu yang sangat ganjil ataupun sebaliknya yang butuh penjelasan) dan masalah konseptual (meliputi masalah internal dan eksternal dalam teori itu sendiri). Selain kedua jenis permasalahan tersebut, Cohen (1994) menambahkan kategori masalah praktis yang berhubungan dengan peran teori dalam menyelesaikan masalah keseharian.





Bahan Bacaan:
Miller, Katherine. 2001. Communication Theories: Perspectives, Processes, and Contexts. New York: McGraw-Hill.

Senin, 04 Februari 2013

Ujian Akhir Semester Komunikasi Kontemporer


1. Perubahan paradigma diplomasi dari diplomasi tradisional yang berbasis pada hubungan antar pemerintah menjadi diplomasi publik yang berbasis pada hubungan pemerintah di suatu negara dengan publik di negara lain menjadikan public relations sebagai bagian penting dari proses diplomasi publik. Jelaskan kenapa demikian! Berikan contoh dan ilustrasi praktek-praktek diplomasi publik yang memanfaatkan dengan baik strategi public relations.

Era perkembangan teknologi yang semakin pesat serta arus globalisasi yang berkembang luas telah membuka peluang bagi individu atau organisasi untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan pihak lain di berbagai wilayah, bahkan di luar negeri sekalipun. Mealui internet seorang penduduk di suatu negara dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi dari negara lain sesuai kebutuhannya. Pada level ini, pencitraan menjadi posisi tawar yang penting dalam menumbuhkan kepercayaan publik atas informasi yang diperolehnya.
Di sisi lain, era pasar bebas telah menciptakan kondisi di mana sebuah organisasi pemerintah atau perusahaan internasional serta organisasi lain yang berskala global menghadapi publik dengan kuantitas dan tingkat pengetahuan serta kondisi sosiologis yang berbeda-beda. Tantangan lainnya adalah sebuah produk atau jasa yang ditawarkan oleh organisasi pun kemudian harus bersaing dengan produk lain dari berbagai negara yang memiliki kualitas beragam. Dengan demikian peran public relations semakin dibutuhkan guna menguatkan dan mengorganisir hubungan yang baik dengan pihak-pihak terkait.
Menurut Cutlip, Center dan Broom (2006: 5) seorang public relations memiliki peran dalam fungsi manajemen pembentukan dan pemeliharaan mutu hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan publik. Hubungan ini nantinya akan menentukan kegagalan dan keberhasilan organnisasi tersebut. Kemudain, dalam istilah global public relations, usaha terencana dan terorganisir oleh organisasi ini akan melibatkan publik dalam skala yang lebih luas, yaitu antarnegara di dunia. Praktek global public relations ini ketika dilaksanakan oleh negara maka akan menjadi bagian dari public diplomacy.
Shimp dan Delozier (1986) dalam Kade Dwi Cahaya (2009) menjelaskan bahwa public relations yang terdiri atas beberapa aktivitas khusus sangat bermanfaat dan efektif untuk menciptakan product awareness, membangun opini, sikap dan persepsi positif publik terhadap organisasi beserta produk-produknya serta merangsang terjadinya aktivitas pembelian. I Gusti Ngurah Putra (2009) dalam tulisannya “Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas” menambahkan bahwa strategi kehumasan membantu mengarahkan pentingnya memahami siapa publik suatu organisasi yang harus diperhatikan dan bagaimana komunikasi antara organisasi dengan publik yang sudah teridentifikasi dapat berjalan. Dengan demikian, harapannya dukungan publik akan terbentuk dengan baik terhadap keberadaan suatu organisasi.
Salah satu praktek diplomasi publik yang memanfaatkan strategi public relations dapat dilihat dari usaha pengembalian citra Bali sebagai destinasi wisata dunia pasca bom Bali tahun 2001. Tantangan public relations di sini adalah memanejemen krisis dengan mengambil keputusan yang harus dikomunikasikan dengan baik kepada publik atas kebijakan-kebijakan suatu daerah tujuan wisata sehingga dapat mempertahankan hubungan yang pernah dibangun dengan berbagai pihak. Public Relations dalam konteks ini menurut Wasesa dalam Kadek Dwi Cahaya Putra (2008) berfungsi untuk mengalirkan informasi-informasi yang ringan sehingga mampu dikelola dalam benak audiens (wisatawan) guna membentuk citra yang diinginkan oleh sebuah daerah tujuan wisata.
Dalam program-program Recovery Bali, banyak dijalankan aktivitas yang menjadi bagian dari fungsi public relations yang meliputi media centre, fam trip untuk tour pperators, fam trips untuk jurnalis, road show, dukungan event, operasionalisasi dan administrasi (Bali Travel News 24 Nov. – 14 Des. 2006 dalam Kadek Dwi Cahaya, 2008). Dalam penjelasan tersebut ditambahkan, bahkan media centre, sebagai salah satu fungsi paling penting dari public relations, merupakan program Recovery Bali yang menyedot anggaran terbesar. Kucuran dana ini diperuntukkan bagi jasa PR-ing dan media campaign di media massa, cetak maupun eletronik, baik dalam maupun luar negeri.
Selain contoh di atas, praktik pemanfaatan strategi public relations dalam membangun diplomasi publik juga dapat dilihat pasca runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001 di Amerika. Fall dalam Kadek Dwi Cahaya Putra (2008) mengemukakan bahwa setelah peristiwa tersebut, berbagai organisasi mengubah strategi komunikasi mereka dengan lebih banyak menggunakan taktik public relations sebagai alat komunikasi pada umumnya dan alat promosi pada khususnya dibandingkan dengan taktik-taktik lainnya seperi Iklan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), penjualan langsung (direct selling) dan lain-lain.




2. Global public relations kini menjadi kegiatan yang tak bisa diabaikan. Variable apa saja yang mempengaruhi perkembangan dan praktek global public relations? Berikan berbagai contoh dan ilustrasi!

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan praktek global public relation. Beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut:
• Ideologi dan Sistem Politik
Proses demokratisasi telah berpengaruh pada konsep good governance yang menuntut pelaksanaan transparansi bagi kepentingan publik. Demokrasi sebagai salah satu sistem politik berpengaruh besar dalam pelaksanaan global public relations di mana sebuah negara berkepentingan “membuka keran” transfer komunikasi dan hubungan kerjasama yang terbuka antara satu negara dengan negara lain. Di sisi lain, dalam sebuah negara demokrasi, kebijakan pemerintah sedikit banyak akan dipengaruhi oleh opini publik yang muncul. Maka dari itu, salah satu usaha yang dapat dimanfaatkan dalam praktek global public relations dalam sebuah negara demokrasi adalah dengan memanfaatkan opini publik agar mendukung visi dan misi serta berbagai aktivitas yang dijalankan oleh sebuah organisasi atau perusahaan.

• Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi pasar bebas telah menuntut sebuah organisasi atau perusahaan untuk mampu bersaing memanfaatkan peran public relations guna meningkatkan hubungan dengan pihak terkait agar mencapai keuntungan yang maksimal. Kekuatan sebuah brand menjadi pertimbangan tersendiri untuk memperluas pangsa pasar sebuah produk atau jasa yang ditawarkan. Isu krisis ekonomi sebuah negara turut mempengaruhi lembaga asing untuk menanamkan modal atau investasi di sebuah negara. Kebijakan dan kondisi ekonomi ini sangat berpengaruh terhadap praktik global public relations baik oleh internal negara maupun pihak lain.
• Tingkat Aktivisme Penduduk Lokal
Tingkat aktivisme penduduk lokal dapat dilihat dari bagaimana pertumbuhan gerakan-gerakan yang vokal menyuarakan kepentingan publik guna mendapatkan hak-haknya. Grunig dan Hunt dalam I Gusti Ngurah Putra (2008) menyebutkan bahwa salah satu jenis pubilk yang disebut sebagai active public harus mendapatkan perhatian dari praktisi hubungan masyarakat dalam merancang program-program kehumasannya. Active public biasanya merupakan kelompok orang yang mencari dan memproses informasi sebuah informasi tentang sebuah organnisasi atau tentang sebuah masalah yang menjadi kepentingan organisasi. Di negara-negara maju, aktivisme penduduk lokal ini mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap remeh karena dapat mempengaruhi kebijakan suatu negara sekalipun. Daya kritisme dan tingkat kepedulian masyarakat menjadi salah titik tolak pertumbuhan aktivisme ini. Dalam tulisan yang berbeda, I Gusti Ngurah Putra (2009) menyebutkan bahwa menurut L. Grunig (1991) memberikan contoh kelompok penekan yang harus diperhitungkan dalam skala global adalah para aktivis baik pembela lingkungan hidup seperti Green Peace dan kelompok pembela konsumen seperti Ralph Nader di Amerika serikat serta kelompok organisasi buruh (labour unions). Kelompok ini menurut Grunig mampu mempengaruhi efektifitas organisasi bisnis. Mereka tidak segan-segan mempengaruhi kebijaksanaan publik, ataupun aktif menggalang kampanye menolak kehadiran produk-produk tertentu. Sebagai contohnya, produk sepatu Reebok produksi Indonesia pernah diboikot karena dianggap melakukan praktek eksploitasi buruh yang digaji murah.

• Budaya Masyarakat
Nilai, kebiasaan atau internal security sebuah negara akan menjadi pertimbangan tersendiri bagi sebuah organisasi atau perusahaan untuk melakukan praktek global public relations. Di negara-negara maju, faktor kesehatan, perlindungan tenaga kerja atau kepedulian lingkungan menjadi beberapa topik perhatian yang turut dipertimbangakan selain kualitas sebuah produk atau jasa yang ditawarkan. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan dihargai oleh masyarakat ini sudah sepatutnya dijadikan dasar pertimbangan tersendiri bagi praktek global public relations agar mendapatkan kepercayaan publik yang kuat. Di Indonesia misalnya, produk yang bersetifikasi halal menjadi kekuatan tersendiri untuk meyakinkan masyarakat yang sebagian besar beragama Islam bahwa sebuah produk makanan diperbolehkan untuk dikonsumsi.

• Sistem dan Budaya Media/Komunikasi
Sistem komunikasi dan media ini berkorelasi dengan sistem politik dalam sebuah negara. Ketika sebuah negara bersistem politik demokrasi, maka akan ada kebebasan pers yang memberikan peluang bagi penyuaraan aspirasi publik. Sistem media yang cenderung sangat longgar seperti di Indonesia misalnya, berpengaruh bagi praktik global public relations dalam menjalankan strategi pemasaran dan pencitraan organisasi atau perusahaan sebuah negara dalam memilih strateginya. I Gusti Ngurah Putra (2009) dalam artikelnya “Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas” menjelaskan bahwa strategi komunikasi dalam praktik komunikasi dengan publik internasional harus mempertimbangkan saluran-saluran komunikasi yang digunakan publik sebagai sumber pembentukan pemahaman mereka terhadap realitas praktek bisnis dan politik di sebuah negara. Lebih lanjut I Gustri Ngurah Putra menyebutkan bahwa hasil penelitian Albritton dan Manheim (1985) dan Manheim & Albritton (1984) tentang usaha-usaha yang dilakukan negara-negara dunia ketiga untuk mempengaruhi pendapat umum internasional dan melakukan lobi di Washington dengan menyewa perusahaan public relations internasional sedikit banyak membuktikan bahwa liputan media massa terhadap negara dunia ketiga menjadi sedikit lebih netral. Di sisi lain, era internet dan media baru seperti saat ini telah memberikan pengaruh besar terhadap strategi promosi dan komunikasi produk dan jasa hingga ke mancanegara dengan sangat mudah. Hingga saat ini, banyak perusahaan penyedia jasa public relations dunia yang memanfaatkan jaringan internet untuk memperluas pasarnya. Hadirnya internet ini juga dapat dimanfaatkan oleh sebuah organisasi atau perusahaan untuk praktek pencarian informasi dan pemantauan lingkungan guna melakukan adaptasi terhadap tuntutan public yang semakin kompleks di berbagai belahan dunia.




3. Literasi media adalah konsepsi yang relatif baru dalam kajian media. apa yang dimaksud dengan literasi media dan bedakan dengan konsep pendidikan media (media education) dan pemantauan media (media watch)! Jelaskan dan berilah contoh yang relevan.

Potter (2001:4) dalam bukunya Media Literacy mendefinisikan literasi media sebagai prespektif di mana individu secara aktif merespon media dalam rangka menafsirkan makna atas pesan yang ditemuinya. Perspektif yang digunakan individu ini dibentuk dari struktur pengetahuan masing-masing individu berdasar pada kecakapan dan informasi yang diperoleh dari media dan lingkungan sekitar. Potter menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penggunaan aktif bermedia di sini adalah adanya kesadaran individu terhadap pesan yang disampaikan oleh media dan interaksi yang dibangun dengan media. Ada tiga struktur pengetahuan yang menurut Potter dalam Adiputra, Retno dan Rahmadian (2006: 18) dianggap penting untuk membangun perspektif literasi media seorang audiens media massa. Struktur pengetahuan tersebut adalah struktur pengetahuan isi media, industri media, dan efek media.
Selanjutnya, Potter menjelaskan tipologi literasi media salah satunya sebagai sebuah kontinum yang mengandung pengertian semua orang pada dasarnya memiliki pemahaman mengenai media meskipun berbeda derajat pemahaman yang dimiliki oleh satu individu dengan yang lain. Seorang praktisi media cenderung akan memahami bahwa media merupakan representasi dari ideologi yang dimiliki sebuah organisasi media atau kelompok penguasa media. Pemahaman ini mungkin tidak akan dimengerti oleh orang awam yang dalam kehidupannya tidak bersinggungan dengan media. seorang petani misalnya, mereka bisa saja memahami pemberitaan yang ditayangkan sebuah televisi atau surat kabar tentang buruknya sistem pemerintahan murni sebagai ketidakbecusan presiden atau pemerintah “mengurus rumah tangga” negara sesuai teks yang disampaikan oleh media. Pemahaman bahwa media adalah representasi dari kondisi fakta di lapangan oleh petani ini bisa disebutkan bahwa individu tersebut memiliki tingkat literasi yang cukup rendah.
litersi media juga disebutkan Potter bersifat multi-dimensional yang meliputi sisi kognitif, emosional, estetik dan moral. Sisi kognitif berhubungan dengan pemahaman akan perbedaan fakta dan opini. Sisi emosional berkaitan dengan perasaan seseorang dalam menerima sebuah pesan. Sisi estetik mengandung pemahaman akan bagaimana sebuah proses produksi pesan sehingga dapat membantu seseorang memahami mana kualitas konten yang baik dan tidak. Sedangkan permasalahan moral berkaitan dengan nilai yang berusaha disajikan atas sebuah informasi. Salah satu contoh tingkat literasi media yaitu terkait pemahaman ini melihat bagaimana sisi sensifitas seseorang diuji dalam menyaksikan atau menerima pesan yang berbau kekerasan atau ekspos media yang berlebihan atas sebuah kasus yang tidak manusiawi. Salah satu tujuan dari literasi media adalah untuk memberikan kontrol bagi individu ddalam menginterpretasikan makna sebuah informasi yang diterima dari media.
Istilah lain yang sering kita dengar adalah media pendidikan. berbeda dengan media literasi yang lebih menekankan pada kecakapan atau keterampilan dalam memilah dan menganalisis informasi, media pendidikan lebih memfokuskan pada pemahaman bermedia atau memanfaatkan media. Keterampilan dalam literasi media sampai menyentuh bagaimana sebuah produksi pesan diprosuksi, sehingga mengetahui aktor dan sistem yang berpengaruh di dalamnya. Sedangakan dalam pendidikan media hanya sampai konteks dan manfaat yang diperoleh melalui media dalam proses pendidikan. Seperti yang dikemukakan Schramm (1984: 2) bahwa titik tekan media pendidikan atau media instruksional adalah dengan memberi perhatian lebih pada aspek pendidikan yang dituju oleh media, yang dapat digunakan untuk keperluan hiburan, penyampaian informasi, dan kemudian beralih pada kegiatan pengajaran. Sebagai pemanfaatan konsep pendidikan media ini, banyak riset yang dilakukan guna memanfaatkan media dalam proses pembelajaran di kelas-kelas.
Konsep lainya adalah media watch (pemantauan media) di mana dalam konsep ini lebih menekankan pada praktik pemantauan konten media yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik atau melanggar nilai-nilai yang disepekati oleh masyarakat. Pemantauan media ini dapat dilakukan oleh pihak-pihak terkait seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga media dalam suatu negara ataupun masyarakat sendiri. Konsekuensi dari pemantauan media ini salah satunya adalah dibutuhkannya peran aktif berbagai pihak untuk mengontrol konten media yang tidak sesuai aturan dan kode etik yang berlaku.




4. Beberapa tahun terakhir ini kampanye literasi media marak di Indonesia, sayangnya berbagai elemen di dalam masyarakat sipil belum menjalankannya secara kolaboratif. Jelaskan tipologi gerakan literasi media di Indonesia. Menurut Anda, bagaimana semestinya posisi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan industri media bekerja secara sinergi dalam kampanye literasi media?

Pelaksanaan program literasi media di Indonesia selama ini bisa dikatakan sedikit sporadis dan kurang tersinergi. Penyuksesan program literasi media masih dilakukan oleh kelompok-kelompok terbatas seperti yang digalakkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kurang didukung oleh pemerintah maupun pihak organisasi media sebagai penanggungjawab konten.
Menurut Adiputra, Retno dan Rahmadian (2006:23) dalam laporan penelitiannya terkait literasi media menyebutkan bahwa beberapa LSM yang melakukan kampanye literasi media (Yayasan Jurnal Perempuan dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) tidak melandasi kegiatan kampanyenya dengan konsep yang kuat. Selama ini belum ada pembagian kelompok masyarakat yang jelas dalam kategorisasi penerima program literasi media. Materi literasi media yang diberikan pun seringkali kurang fokus pada kebutuhan dan kapasitas kemampuan masyarakat atau objek penerima kampanye dalam menyikapi media itu sendiri. Di Indonesia, topik riset akademis tentang literasi media sendiri masih sangat jarang.
Melihat keberadaan media yang semakin tidak terpisahkan dari aktivitas keseharian serta dampak media yang cukup signifikan dalam mempengaruhi perilaku masyarakat, maka program “cerdas bermedia” semakin menjadi sebuah kebutuhan. Selain membekali masyarakat untuk kritis melihat media, usaha literasi media turut berfungsi sebagai elemen pemberdayaan masyarakat dalam mengawal proses demokrasi yang sepatutnya menjadi tanggungjawab media. Tentu saja usaha kampanye literasi media ini perlu didukung oleh berbagai pihak untuk mencapai kesuksesan yang optimal. Adapun pihak-pihak yang semestinya turut mengambil bagian dalam kampanye ini adalah sebagai berikut.
• Pemerintah
Pemerintah mempunyai posisi sentral dalam mengeluarkan kebijakan dan segala bentuk regulasi pengaturan media. Sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk melindungi warganya, maka pemerintah sudah semestinya mengarahkan dan mendorong media untuk memberikan konten yang mendidik serta mengandung unsur-unsur yang membangun. Penindakan secara tegas kepada industri media atau oknum yang melanggar kebijakan yang telah ditetapkan sehingga merugikan rakyat ataupun negara sudah semestinya mendapatkan sanksi yang tegas dan mengikat. Selain itu, pemerintah dituntut aktif untuk terus melakukan kontrol secara demokratis terhadap kebebasan media yang saat ini cenderung “di luar batas”.
• LSM
Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan salah satu wadah yang perlu memaksimalkan perannya dalam menggalakkan kampanye literasi media. Dalam beberapa kondisi, berbagai LSM ini diharapkan saling menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Hal ini berfungsi untuk mensinergikan program kampanye literasi media serta memberikan domain yang jelas atas materi dan program literasi yang diberikan kepada masyarakat atau kelompok tertentu. Pengawalan LSM dalam membina masyarakat akan semakin menciptakan generasi yang sadar media dan kritis menerima informasi.
• Lembaga pendidikan
Program cerdas bermedia turut perlu dikuatkan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Hal ini mengingat generasi terdidik merupakan golongan yang berpotensi mengajarkan pengetahuan kepada masyarakat di sekitarnya, termasuk dalam lingkup kecil seperti keluarga. Kurikulum tambahan tentang sadar bermedia dapat mendorong terciptanya generasi yang peduli dan cerdas memilih tayangan media yang berkualitas. Riset dan kajian tentang literasi media juga perlu dilakukan agar pelaksanaan kampanye literasi di masyarakat memiliki landasan konseptual yang mendukung.
• Industri media
Industri media perlu mengurangi ideologi materialismenya guna menciptakan konten yang turut pendidikan masyarakat. Fungsi media sebagai sarana pendidikan perlu dibuktikan dengan turut adil menciptakan masyarakat yang cerdas dan toleran dengan tayangan media yang mendukung nilai-nilai yang berkembang di masyarakat.




Daftar Pustaka

Adiputra, Wisnu Martha., Retno Ayati, dan Rahmadian Martha Stania. 2006. Menggagas Pendidikan Literasi Media Televisi di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada.
Cutlip, Scott M., Allen H. Center, dan Glen M. Broom. 2006. Effective Public Relations. New Jersey: Pearson Education.
Potter, W. James. 2001. Media Literacy. London: Sage Publications.
Putra, I Gusti Ngurah. 2008. Manajemen Hubungan Masyarakat. Jakarta: Univversitas Terbuka.
-------------. 2009. Strategi Public Relations dalam Menghadapi Era Pasar Bebas. Terarsip di http://indopure.wordpress.com/category/artikel/. Diakses pada 7 Januari 2013.
Putra , Kadek Dwi Cahaya. 2008. Strategi Public Relations Pariwisata Bali. Terarsip di http://jurnal.uajy.ac.id/jik/files/2012/05/3.-Kadek-Dwi-Cahaya-Putra-41-66.pdf. Diakses pada 7 Januari 2013.
Schramm, Wilbur. 1984. Media Besar Media Kecil; Alat dan teknologi untuk Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.

Senin, 17 Desember 2012

Ketika harus merubah arah

Pagi itu Wati bersiap-siap pergi ke sekolah. Dengan pakaian seragam lengkap dan tas ransel di punggung, Wati pun pergi meninggalkan rumah. Sepuluh menit berlalu, motor Wati kini telah melenggang di jalanan aspal yang mulus. Jalanan yang sepi membuatnya berkendara dengan santai, sembari menikmati perjalanan menuju sekolah.

Hingga tiba-tiba, di pertigaan sekitar satu kilometer dari sekolah Wati, sebuah plang pemberitahuan bersandarkan drum tegak berdiri di tengah jalan. “Maaf jalur ditutup. Ada pekerjaan jalan.” Tumpukan batu-batu kali menutup hampir seluruh badan jalan. Lintasan yang tadinya mulus beraspal kini nampak cekung tak beraturan bekas dikeruk. Sebuah buldoser teronggok di salah satu sisi jalan. Tidak ada pilihan, setiap pengendara yang melintas harus mengambil jalan lain.


---

Sekarang jika tokoh yang berkendara di jalanan tersebut adalah kita, apa yang akan Sobat lakukan? Apa yang kita lakukan ketika dalam sebuah perjalanan ada hambatan yang tak mungkin dilalui dengan menerjangnya begitu saja? Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab putar arah dan mengambil jalan lain. Tentu saja, tidak mungkin kan kita memutuskan untuk pulang dan tidak jadi pergi ke sekolah karena jalanan sedang diperbaiki? Sebagai manusia yang berakal, kita akan mencari jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tempat tujuan. Meski tidak jarang jalan yang kita lalui harus ditempuh lebih lama dengan rute yang lebih panjang.

Ibarat orang yang dalam perjalanan, seperti itulah hidup kita sobat. Kita selalu berusaha berjalan kearah mana tujuan yang hendak di capai. Seandainya di tengah perjalanan ada halangan yang menghambat perjalanan, mau tidak mau kita harus bergerak agar usaha mencapai tempat tujuan dapat terlaksana dengan segera. Entah itu mencari alternatif jalan yang lebih aman, menunggu kemacetan, atau sekadar bertanya kepada orang lain ketika kita merasa tak tahu arah yang harus dituju. Ada banyak pilihan yang dapat kita lakukan, termasuk kembali ke rumah dengan tangan hampa pun adalah sebuah pilihan.

Hidup penuh dnegan cabang-cabang jalan. Kita bebas memilih jalan mana yang akan ditempuh. Dan masing-masing jalan memiliki tujuan dan konsekuensi masing-masing. Tiap-tiap jalan memiliki pemandangan yang berbeda, suasana yang berbeda, serta tantangan yang berbeda pula. Namun jika kita memiliki keinginan kuat untuk mencapai satu tujuan, tentu raga akan dikuatkan dengan segala tantangan, hati akan diteguhkan dengan berbagai cobaan sehingga senantiasa menikmati proses yang dilalui.

Jika ternyata suatu ketika kita harus melangkah berputar arah dan harus mengambil jalan lain, itu semua di jalani demi tujuan yang lebih mulia. Kita tidak perlu berpusing ria karena sudah mempunyai gambaran yang jelas ke mana harus melangkah. Mengapa begitu? Karena kita telah menetapkan satu tujuan yang kuat. Perubahan-perubahan yang kita lakukan pun akan mengarah pada tujuan yang kita yakini sebagai kebenaran. Ada arah yang jelas ke mana kaki harus melangkah, ke mana pikiran akan difokuskan, dan ke mana hati harus diikuti

Lalu pertanyaannya, apa tujuan hidup kita? Sudahkah kita melakukan usaha maksimal untuk mencapai tujuan hidup tersebut? Sudahkah perubahan-perubahan terarah kita lakukan untuk mengapai semua mimpi dan harapan? Apapun jawabannya, semoga kita semua senantiasa diberi semangat untuk selalu memperbaiki diri dan merubah hidup dengan tujuan yang lebih terarah. Untuk apa lagi? Tak lain guna meraih ridho-Nya. Aamiin.

Minggu, 16 Desember 2012

Penjara [Tidak] Membuat Jera

Lembaga Pemasyarakatan atau yang lebih akrab dikenal dengan istilah penjara kini seolah mengalami pergeseran fungsi. Di tengah kasus kriminalitas dan hukum yang membanjir di negeri ini, penjara yang semestinya difungsikan untuk memberikan efek jera bagi narapidana (napi) justru berubah menjadi markas besar tindak kejahatan. Seperti dilansir Harian Jogja Edisi Selasa 4 Desember 2012 lalu, berbagai penyimpangan di penjara hingga saat ini masih menjadi momok bagi upaya penegakan keadilan di Indonesia.

Sejumlah kasus seperti prostitusi, judi, bahkan peredaran narkoba yang bisa terjadi dengan bebas di penjara perlu mendapat catatan tersendiri. Minimnya peralatan penunjang kerja, kurangnya pengawasan, hingga oknum sipir “nakal” selama ini selalu dijadikan “alibi” sejumlah pelanggaran tersebut. Padahal selain faktor-faktor tadi, kita perlu mengantisipasi adanya dugaan kejahatan yang sistematis. Tindak penyimpangan di penjara yang terus berulang setiap tahunnya dan seolah tak pernah putus ini patut dicuragai sebagai kejahatan yang disengaja dan “dilestarikan” oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Kerjasama sejumlah oknum ini terjadi tidak lain karena mereka merasa diuntungkan dengan pelanggaran yang terjadi, sehingga lupa akan akibat jangka panjang yang ditimbulkan.

Atas nama uang, penegakan hukum kembali tergadaikan. Sebuah pepatah “ada harga ada mutu” seolah turut berlaku di tempat yang sepatutnya memberikan pendidikan moral tersebut. Kini penjara tak ubahnya seperti persewaan apartemen di mana penghuni bisa memilih “tempat tinggal” beserta fasilitasnya sesuai dengan anggaran kantong masing-masing. Ruangan dengan jeruji besi yang selama ini melekat dalam istilah penjara dapat disulap bak kamar hotel berfasilitas mewah. Slogan yang kemudian berlaku hampir di semua lini adalah “semua bisa diatur dengan uang”.

Kasus pelaku suap jaksa, Artalita Suryani yang tinggal dalam penjara mewah adalah salah satu sisi gunung es cacat hukum yang tampak di permukaan. Padahal Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Lembaga Pemasyarakatan dengan tegas menjelaskan adanya larangan memberikan perbedaan antara napi yang satu dengan yang lain. Selain itu, dalam Pasal 2 Undang-Undang Lembaga Pemasyarakatan turut menyebutkan bahwa sistem pemasyarakatan yang dicanangkan dalam lembaga tersebut diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. Ironisnya, seorang napi yang keluar dari penjara justru seringkali mewujud sebagai pelaku kejahatan yang lebih “handal dan profesional” daripada berubah menjadi warga negara yang patuh hukum.

Pada dasarnya, setiap tindakan yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan sudah sepatutnya diarahkan demi pembelajaran dan penyiapan mental warga negara yang berkarakter. Permasalahan ini terlihat pelik memang, tetapi bagaimanapun tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Hanya saja, prinsip ini akan benar-benar berfungsi ketika semua pihak berkomitmen untuk melakukan reformasi hukum yang menyeluruh. Di samping itu, pendidikan yang baik dalam berbagai level turut memegang peranan penting dalam menciptakan warga negara yang mencintai bangsanya, baik dalam bentuk ideologi maupun dalam bersikap.



Diterbitkan oleh Harian Jogja Edisi 11 Desember 2012

Selasa, 27 November 2012

Come On!

Seringkali kemalasan berjejalan memenuhi hatiku. Kemalasan seperti jeratan tali yang mengikat tubuhku dengan kuat. Kemalasan seperti mampu menyemai bibit-bibit alasan untuk membiarkan sebuah kebaikan tertunda dilaksanakan.

Kini, aku seperti terjebak dalam kemalasan yang melenakan. Oh God.. I wanna change my life!

Aku benci dengan kemalasan. Tapi malas selalu hadir dalam waktu-waktuku. Terlebih WAKTU LUANG. Malas mungkin seperti heroin. Yang kata orang menenangkan dan memberi kepuasaan sesaat, tapi mematikan akibatnya.

Aku benci malas. Malas belajarlah, malas menulis, malas berbenah, ataupun malas untuk segera memulai kebaikan.

Seseorang bilang kepadaku malas adalah masalah klasik. Tapi bagiku malas adalah masalah besar bagi perkembangan hidupku. Malas adalah permasalahan yang selalu kontemporer karena tak kenal waktu dapat meruntuhkan niat-niat baik yang sedang kita bangun. Karena malas telah menyebabkan orang-orang tak mau segera bergerak. Malas membuat perubahan-perubahan yang harusnya terwujud menjadi tertunda. Atau seringkali, malas bahkan mengubur nama-nama calon pembaharu, calon pahlawan, calon inisiator, calon orang-orang yang sejatinya dapat menyetak sejarah tapi enggan meraihnya.

Haruskah aku berada dalam kondisi yang tertekan dan penuh ancaman untuk menghalau rasa malas ini? Haruskah aku dirutuki hujan batu agar mau sadar dan bangkit dari kemalasan? Na'udzubillah.

Kita memang patut belajar dari mereka yang senantiasa mengubur dalam-dalam rasa malas. Seperti orang-orang Palestina yang tak pernah lelah untuk berangkat perang, walau hanya batu yang ada di tangan. Mereka tak lelah menuntut ilmu, walau tak tahu pasti kapan dapat menerapkan ilmunya. Mereka tak pernah berhenti untuk berjuang, meski harus bertaruh nyawa. Ya, mereka seperti tak punya rasa malas. Karena mereka tahu, ada kehidupan yang lebih baik dijanjikan setelah kematian. Ada balasan yang jauh lebih indah atas apa yang mereka perjuangkan. Ada nama Allah yang menggema di ruang-ruang hati mereka.

Ya. Semoga hati kita masih mau diajak untuk berbuat baik. Semoga Allah masih hadir dalam setiap langkah yang kita ambil. Bismillah. semoga keistiqomahan senantiasa membersamai niat yang kita tebar. Aamiin..

Senin, 01 Oktober 2012

Inilah Bukti

Di sebuah perjalanan pengembaraan mencari makna. Lensa mataku tiba-tiba tak sengaja membidik sebuah objek yang tersisip dalam luasnya belantara raya. Seketika aku termenenung, terpana akan keajaiban di depan mata. Bukan saja karena keindahan perwujudan fisiknya, namun jauh lebih dalam di sana, ada setitik cahaya yang berpendar menentramkan jiwa. Ada terang yang menembus selimut kabut. Bukannya tak pernah melihat hal ini sebelumnya. Melainkan saat ini semuanya dalam kondisi yang berbeda. Sangat berbeda mungkin. Sebuah jawaban akan keresahan dan kesanksian yang selama ini menggema memenuhi ruang ruang dunia.

*****

(1)Nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
(2)berkat ni’mat Tuhan-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
(3)Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
(4)Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.
(5)Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
(6)siapa di antara kamu yang gila.
(7)Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Muhammad, sosok yang selalu tercurah dengan doa dan pujian untuknya. Muhammad, pribadi yang amat dicintai oleh kaummnya. Muhammad, seorang yang benar-benar berbudi pekerti luhur; sebagaimana keterangan yang tertulis dalam firman-Nya.
Tak peduli orang mau berkata apa. Tak peduli mereka menuliskan tentang apa. Tak peduli sumpah serapah atas dirinya. Muhammad tak pernah turun derajatnya. Muhammad sekali-kali bukan orang gila. Muhammad selalu dirindukan. Muhammad tetap menjadi tauladan.

*****

Kembali kuselami lautan makna tak bertepi dalam suratan-suratan di depanku. Kedua bola mataku segera menyapu simbol-simbol penanda yang dapat kukais untuk mengikat memoriku. Berharap suatu saat tatkala aku menjumpainya lagi di tempat ini, akan selalu kuingat kisah tentang perjuangan pemeran utama dalam pertarungan wacana penduduk dunia.

Akhirnya, inilah bukti. Atas kemuliaan jiwa tokoh utama. Atas caci maki yang tak bertepi. Atas keresahan orang-orang yang amat mencintai sosoknya. Atas kesanksian yang masih mengudara di atmosfer mayapada.

Kamis, 06 September 2012

Sebelum Gelap Menyergap

Jam tanganku menunjukkan pukul 03.15 Waktu Indonesia Bagian Timur ketika kutuliskan rangkaian huruf di layar laptop 12,1 inchi itu. Tak seperti biasanya, aliran listrik di rumah Mama Witi dan Papa Irwan ini belum padam. Hari-hari sebelumnya, ketika jarum jam menunjukkan pukul 22.00 ruangan sudah berselimut gulita. Mulai kemarin malam, lampu padam cukup larut. Saat itu pula kuluangkan untuk sekadar berbagi asa barang satu dua kalimat ke dalam file Microsoft word. Tepat saat pergantian hari pukul 24.00, tak kuasa kulanjutkan goresan cerita di kotak ajaib bermuatan ribuan software milikku. Mendadak baterai laptopku kritis lantaran arus listrik terputus.


Ya, kami hanya bisa menikmati listrik ketika maghrib mulai menjelang. Maklum saja, Desa Bajo yang berada di sebuah pulau bernama Botang Lomang ini belum teraliri jaringan listrik dari PLN. Ironis memang. Di tengah jutaan orang di Pulau Jawa sana dengan leluasanya menghambur-hamburkan uang demi menikmati listrik ribuan kilowatt per hari, di waktu yang sama masyarakat di Halmahera Selatan ini harus rela iuran uang minyak agar rumahnya tak dimakan gelap setiap malamnya.


Sudah beberapa hari kami tinggal di rumah keluarga piara. Selama lima minggu ke depan, aku dan teman-teman mahasiswa UGM akan mengadakan program Kuliah Kerja Nyata atau yang akrab disebut KKN. Kurang lebih seminggu perjalanan dari Jogja naik Hercules, kami baru dapat menginjakkan kaki di pulau ini. Bagaimana tidak, pesawat TNI AU yang kami tumpangi itu tidak langsung menuju Halmahera.


Dari bandara Halim Perdana Kusuma kami terbang ke Malang. Setelah transit sekitar 15 menit, Hercules melesat menuju Makasar. Berdiri selama kurang lebih dua jam di Hercules dalam kondisi mengantuk membuat badanku pegal-pegal. Namun perjalanan masih panjang. Sejumlah penumpang turun di Makasar. Beberapa menit berselang setelah kami usai menjama’ sholat dzuhur dan ashar, pesawat harus kembali mengudara menuju Gorontalo.


Di gorontalo, kusempatkan untuk sekadar membasuh wajah barang sebentar. Tak lama kemudian raungan Hercules pun semakin menjadi mengantarkan kami menuju Manado. Hari sudah gelap ketika roda pesawat menyentuh bandara Manado. Bulan bersinar dengan terangnya layaknya bolam lampu raksasa yang menghiasi langit malam.


Setelah berbincang kepada para perwira TNI, atas kebaikan mereka aku dan teman-teman perempuanku ditempatkan di mes anggota dengan ruangan tersendiri. Berbeda dengan teman-temanku yang laki-laki, mereka tidur bersama puluhan penumpang Hercules lain yang turut menginap sebelum besok pagi berangkat ke Morotai. Ada syukur yang membuncah. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Manado.


Usai bersih diri dan sholat, kami sempatkan untuk mencari makan malam di luar. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit ke arah jalan raya, kami menemukan sebuah rumah makan yang menyediakan nasi goreng, sayur juga sate. Di sela-sela makan, kami baru sadar ternyata rumah makan itu milik orang Jawa Timur. Ditulis dengan jelas di papan menu yang ditempel di dinding setelah pintu masuk, “Warung Makan Jawa Timur”. Aku dan temanku tertawa geli. Jauh-jauh ke Manado, makannya nasi goreng Jawa Timur juga. Memang sudah rejekinya yang empunya rumah makan pikirku.


Selesai makan, kami jalan-jalan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Beberapa teman yang persediaan uang tunainya menipis mengambil ke ATM bandara. Beberapa jepretan foto tak lupa kami abadikan untuk kenang-kenangan.
Malam semakin larut, kaki sudah pegal berjalan. Belum lagi ditambah kepenatan perjalanan seharian di Hercules yang lebih mirip mikrolet angutan kota daripada disebut pesawat. Namanya juga gratisan, semua harus disyukuri pikir kami. Bagaimanapun pengalaman naik Hercules tak bisa tergantikan. Dengan langkah gontai kami akhirnya memutuskan untuk istirahat. Beberapa teman laki-laki entah asyik mengembara ke mana. Ada sedikit rasa iri sebenarnya, karena mereka bisa jalan-jalan keliling Manado. Tapi apa daya, kekecewaan ditinggal pergi duluan membuat kami akhirnya memutuskan untuk menikmati bermalam di mes TNI. Seiring mata terpejam, kami berharap perjalanan esok akan lancar dan menyenangkan. Perjalanan panjang akan menanti ketika esok subuh menjelang.


***


Suara diesel masih terdengar mederu beberapa ratus meter dari pondok Mama Witi. Di rumah Mama Jo, tetangga sebelah, tempat teman laki-laki satu kelompok sub unitku bermalam sudah tak ada tanda-tanda kehidupan. Sejak pukul 23.00 tadi terangnya bolam telah berganti dengan temaram lampu minyak yang digantung di ruang tengah.


Gelap memang terkadang menyakitkan. Sejenak aku berfikir, betapa sengsaranya bila tak ada cahaya yang menembus pupil mataku dan semuanya menjadi hitam. Meski demikian, aku percaya ada hikmah di balik gelap. Dengan gelap, kita belajar untuk menghargai masa terang. Dengan gelap, kita belajar untuk melihat ke dalam diri kita dan mencari berkas-berkas terang yang mungkin terselip dalam hati yang berselimut kelam. Ya, gelap dan terang adalah irama, di mana masing-masing saling mengisi untuk menciptakan harmonisasi kehidupan.


Tiittt.. Tiittt. Tiba-tiba lampu padam seketika. Laptopku sekarat sudah. Ceritaku terputus di sini. Wassalam.



12 Juli 2012, 03.53 WIT
Diedit ulang 7 September 2012, 11.50 WIB






Rabu, 18 April 2012

Adalah Bapak

Malam ini adalah dateline sayembara menulis yang diselenggarakan sebuah penerbit ternama negeri ini. Jari-jariku asyik bercengkrama dengan tust-tust keyboard sejak tiga setengah jam yang lalu. Kedua bola mataku hampir tak beranjak dari layar 12,1 inch Acer Aspire 2920Z di depanku. Kursor di lembar dokumen word-ku tak jemu berkedap-kedip, seolah ingin segera menggoreskan sejuta untaian kata. Sedang pikiranku masih melanglang buana, mengenang masa dua tahun lalu, ketika gelar mahasiswa masih segar kuterima.
~~


Beberapa minggu lagi Ujian Akhir Semester (UAS) hadir menyapa. Seperti biasanya, tugas-tugas makalah take home pengganti UAS mulai berdatangan. Berbeda dengan semester lalu, kali ini batas minimal naskah semakin meningkat, yaitu seribu lima ratus kata. Sedang tugas makalah lain menuntut paling tidak mencapai sepuluh halaman kuarto.
Tidak adanya komputer di rumah menuntutku untuk memutar otak agar tugas ujian terselesaikan sebelum dateline. Pernah suatu ketika aku meminta Bapak membelikan laptop untuk keperluan tugas-tugasku. Namun karena alasan tak ada dana, Bapak serta-merta menolaknya. Berkali-kali kujelalaskan betapa pentingnya laptop itu bagi kelancaran studiku kepada Bapak. Tetapi respon Bapak masih sama, intinya kalau tidak sangat mendesak, tidak perlu membeli “barang mewah” dengan harga melangit itu.

Akhirnya, kuputuskan memanfaatkan jeda waktu kuliah untuk mengetik naskah di perpustakaan. Hitung-hitung dapat mengerjakan tugas sekaligus gratis searching data. Dengan begitu aku tak perlu merepotkan keluarga Om-ku karena seringkali memakai komputernya hingga larut malam. Selain itu, aku tak perlu susah-susah pergi ke warung internet di daerahku yang jaraknya mencapai tiga hingga lima kilometer. Berhari-hari aku ke perpustakaan usai kuliah untuk mengerjakan tugas hingga malam menjelang. Hingga suatu ketika, tibalah saat kesabaranku diuji ketangguhannya.
Hari itu seperti sebelumnya, aku ke perpustakaan kampus tak jauh dari fakultasku untuk mengetik tugas. Dengan pertimbangan untuk mendapatkan data yang cukup, aku yang saat itu keasyikan di depan komputer pentium tiga yang lemot, akhirnya baru keluar perpustakaan sekitar pukul setengah delapan malam. Di parkiran fakultas, kulihat hanya tinggal dua motor yang masih tersisa. Satu motorku dan satunya lagi motor gedhe khusus lelaki yang terparkir gagah.

Sejenak kuamati ada yang ganjil dengan posisi motorku. Jaket yang tadinya kusampirkan hampir menutupi spidometer, kini terlilit di stang motor dan ditutupi helm. Jaketku yang lusuh kian kusut tak terkira. Batinku, “Iseng sekali orang yang melakukan perbuatan ini.”
Namun, aku merasa sangat heran ketika mendapati motorku dalam kondisi terkunci stang menghadap ke kanan. Padahal aku tidak merasa menguncinya saat kutinggalkan esok tadi. Saat berusaha aku geser maju, ternyata posisi gigi sepeda motorku tidak pada kondisi nol. Lalu aku mencoba memasukkan kunci motorku pada lubangnya. Namun, meski berulangkali kupaksa, badan kunciku tak berhasil masuk sepenuhnya. Seperti ada yang mengganjal di lubang kuncinya. Seketika jantungku berdetak lebih kencang. Kecurigaan mulai menyesap dalam dada.

Segera kucari bala bantuan. Beruntung ada satpam yang masih berjaga. Setelah dibongkar paksa, akhirnya stang motorku berhasil dipulihkan seperti kondisi semula. Aku pun pulang dengan perasaan sangat kacau. Seketika itu, aku merasa sangat kesal dengan bapakku. Sedih, kecewa, benci bercampur menjadi satu.
Pikirku, tega sekali Bapak membiarkan putri sulungnya hampir setiap malam pulang seorang diri menempuh jarak Sleman-Bantul sejauh 35 km. Belum lagi jalanan yang dilewati cukup sepi dan kurang penerangan. Bagaimana jika sewaktu-waktu ada penjahat yang merampas harta dan membahayakan jiwaku? Tidakkah Bapak khawatir dengan keadaanku? Bagaimana bisa Bapak tak mengabulkan permohonanku membeli laptop, sedang hampir saja motorku hilang digondol maling.
~~

“Motornya rusaaak…,” begitu teriakku kesal saat Bapak keluar dari pintu depan sesampainya aku tiba di rumah. Tentu saja Bapak cukup terkejut dengan pertanyaanku. Pulang-pulang bukannya mengucapkan salam tetapi justru memasang muka masam.
“Rusak yo wis,” jawab Bapak singkat, seolah sudah biasa mendengar keluhanku. Tak heran, motorku memang langganan “ngadat” karena jarang diservis.
“Bapak nyebelin.. Bapak nyebelin.. Bapak nyebelin..,” seketika kumaki Bapak sekenanya. Entah terhasut setan dari mana, kejengkelanku seperti sudah naik ke ubun-ubun. Tak peduli apa komentarnya, segera aku menghambur ke kamar dan mengangis sejadinya.
“Beliin laptop tho Pak.. Motornya mau dicolong orang gara-gara aku kelamaan garap tugas di Perpus. Untung bisa ngunci stang sendiri. Nek ndak bisa gimana?” teriakku protes tanpa pikir panjang.
“Bapak itu punya duit po piye? Tau bapaknnya kerja ndak mesthi kok,” teriak Bapak tak kalah keras. Bapak yang malam itu lelah mengurusi tadarusan bersama di rumahku, emosinya mulai tersulut. Belum selesai membereskan perlengkapan yang dipakai tadarusan, kini Bapak harus direpotkan dengan omelan anaknya.
“Sapine Bapak kan masih ada, itu buat apa? Beliin laptop tho Pak.. Sama anaknya sendiri kok pelit!” Tak aku hiraukan kata-kata Bapak. Bagiku Bapak sangat egois saat itu.
“Terserah! Nek mau nagis sana nangis,” pungkas Bapak seketika.
~~

Kurang lebih satu minggu kemudian Bapak memberiku uang sekian juta. Untuk apa lagi, kalau bukan menyenangkan hati anaknya agar mendapatkan laptop yang diimpikannya. Dengan kebahagiaan tak terkira, segera kubeli laptop bekas dengan kondisi yang masih bagus dari teman kuliahku.
Belakangan aku baru tahu, Bapak menjual sapinya kepada seorang saudara yang kerja di Jakarta. Dengan sistem bagi hasil, sapi itu tetap diserahkan pemeliharaannya kepada Bapak. Jika sudah beranak, maka nilai jual anak sapi itu nantinya akan dibagi dua. Ini kedua kalinya Bapak merelakan sapi yang telah dipelihara bertahun-tahun untuk keperluan kuliahku. Kurang lebih setengah tahun sebelumnya, sapi yang dijadikan investasi andalan keluarga telah dipertaruhkan sebagai jaminanku masuk ke perguruan tinggi idaman.

Ya, hingga kini Bapak masih berpayah-payah merawat sapi yang statusnya bukan miliknya sepenuhnya. Setiap harinya Bapak bisa mengangkat dua hingga tiga ikat besar rumput gajah seberat 40 kg dari sungai. Bertahun-tahun Bapak melakukan ini semua. Untuk siapa lagi kalau bukan keluarga, termasuk aku sebagai anaknya.

Walau lebih dari separuh rambutnya telah memutih, namun fisik bapakku masih sangat kuat. Badannya yang hitam legam karena terik matahari terlihat sangat berotot. Bukan akibat fitness tentunya, melainkan karena kerja serabutan membanting tulang demi keluarga. Mulai dari menggarap sawah, menjual beberapa hasil kebun, hingga menjadi buruh pengangkut pasir dijalani Bapak agar aku dan kedua adikku dapat tenang bersekolah.

Kini, sudah dua tahun laptop ini ada di tanganku. Sudah dua tahun sejak aku merengek seperti anak kecil minta dibelikan laptop, telah banyak yang berubah dari kebiasaan dan pengetahuanku. Aku yang saat SMA bahkan tak tahu cara memasukkan flashdisk ke komputer, kini aku sudah paham apa manfaat email. Aku pun mulai berkarya di blog dan tak asing lagi dengan facebook, twitter dan berbagai pernik dunia maya lainnya.



Namun, hampir tak ada yang berubah dari Bapak. Bapak masih sama sederhananya dengan dua atau bertahun-tahun lalu. Bahkan sampai saat ini pun, bapakku tak pernah memegang benda ajaib bernama laptop yang berharga jutaan rupiah itu. Bapak tak pernah menonton film yang aku copy dari teman-temanku di waktu senggangnya. Bapak tak pernah memainkan fitur-fitur game saat pikirannya ruwet dengan kendala ekonomi keluarga. Aku bahkan tak yakin apakah bapakku paham tentang fungsi laptop selain untuk mengetik.

Melihat aku asyik di depan laptop sudah cukup membuat Bapak bahagia. Bapak tak peduli dikatakan orang desa yang tidak melek teknologi. Dirinya tak malu menjadi orang yang sederhana. Jangankan punya handphone, Bapak membaca pun masih terbata. Maklum saja, Bapak tidak lulus Sekolah Dasar. Rumahnya dilalap jago merah ketika masih duduk di kelas dua. Karena kekurangan biaya, dan tak mau membebani orangtua, Bapak memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya.
Dari bapaklah aku belajar menjadi orang yang nerimo, apa adanya. Bagi orang yang sudah mengenalnya, Bapak mungkin bukanlah sosok kharismatik yang penuh wibawa. Pembawaannya jarang serius, bahkan seringkali berlebihan dalam bercanda. Namun demikian, bagiku Bapak adalah inspirasi yang tak pernah habis untuk digali.


Tak dapat dipungkiri, aku memang mendapatkan kesenangan dengan laptop yang kumiliki. Aku memperoleh pengalaman-pengalaman baru dengan benda canggih hasil rekayasa teknologi ini. Namun aku jauh lebih bersyukur karena memiliki seorang Bapak yang tak pernah lelah memberiku pelajaran hidup. Aku bersyukur karena masih diizinkan menikmati kebahagiaan memiliki seorang Bapak, harta yang lebih berharga dari intan dan permata.

Malam ini, ketika adik-adikku asyik bersenang-senang mencari hiburan, ada seorang yang masih bekerja demi melihat kami bahagia. Malam ini, ketika nenekku telah pulas dengan mimpinya, ada sosok pejuang mimpi yang masih terjaga. Malam ini ketika ibuku khusyuk mengikuti pengajian di desa sebelah, ada jiwa yang tengah berusaha membersamai doa dengan karya. Adalah Bapak; berjuang menembus dinginnya malam untuk mengatur pengairan sawah sesuai kebutuhan. Adalah Bapak, pahlawan yang tak silau akan gelar dan penghormatan.

Kamis, 15 Maret 2012

Saat memulai tulisan...




Awalnya, jemariku cukup lambat merangkai jejak kata dari tust-tust keboard ACER aspire 2920Z-ku. Entah sulit menemukan kata yang tepat, atau belum mendapatkan ilham yang terlihat brilian, tapi aku seringkali butuh waktu lama untuk memulai paragraf pertama. Apakah kurang pemanasan? Mungkin saja.

Lalu, apa yang kulakukan? Jawabannya, aku terus menulis. Apapun yang ada di pikiranku saat itu, segera kutuangkan dalam tulisan. Tidak terlalu nyambung secara urutan kalimat. Namun, kubiarkan saja otakku memandu apa yang harus kutiliskan sebagai sebuah ide. Sesekali, tombol backspace mendominasi praktik kerjaku membangun tulisan. Namun, setelah beberapa lama “memaksakan” diri di depan layar laptop 12,1 inch-ku, akhirnya aku pun mulai lancar menuangkan gagasan hingga berlembar-lembar halaman.

Intinya apa kawan? Untuk memulai sebuah tulisan, kita hanya perlu alat tulis, lalu segera menuangkan apa yang ada di pikiran kita. Baik dan buruk hasil tulisan itu urusan belakang, tapi setidaknya kita telah menghasilkan sebuah karya.

Jika kamu hanya membaca buku panduan memasak tanpa terjun langsung ke dapur dan mengolah beberapa bahan, maka jangan heran kalau kamu tak menghasilkan satu jenis makanan pun. Mengapa ada orang yang tak segera berkunjung ke rumah neneknya padahal rasa kangen sudah melanda? Jawabannya, karena dia tak segera berjalan menuju rumah sang nenek. Berbagai alasan pun dilontarkan sehingga semakin memperlama rencana kunjungannya.

Menulis adalah soal praktik. Sebagaimana kita tidak akan bisa menghasilkan makanan jika tak pernah memasak, sebuah karya tulis pun tak akan pernah hadir apabila kita tak segera mulai menulis. Masalah menarik tidaknya tulisan, enak tidaknya sajian yang kita suguhkan, itu masalah bagaimana kita belajar dari pengalaman yang dilakukan sebelumnya.

Kawan, menulis hanya masalah kebiasaan, begitu kata dosenku, Nunung Prajarto dalam bukunya “Tulis Saja! Kapan Lagi: Dasar Aplikasi Komunikasi Tertulis”. Bisa karena biasa. Lalu, jika banyak manfaat yang dapat kita tebar melalui sebuah tulisan, jika banyak inspirasi yang dapat kita bagi melalui sebuah karya tulis, mengapa tidak segera mulai menulis?
Kapan? Sekarang juga!

Kamis, 08 Maret 2012

Belajar tentang Filsafat

“orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun,
hidup tanpa memanfaatkan akalnya”
– Goethe

Hidup adalah proses belajar. Manusia belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan oleh lingkungan di sekitarnya. Walau proses belajar ini dilakukan oleh bermilyar generasi selama ribuan tahun, masih banyak rahasia alam yang belum tersingkap oleh akal manusia. Berbagai pemikiran pun muncul sebagai usaha guna memberikan argumentasi tentang sejumlah permasalahan yang ada.

Seperti layaknya manusia yang pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu, filsafat memberikan ruang yang luas untuk memahami fenomena di sekitar kita. Sebuah buku yang mampu menjembatani rasa ingin tahu, menghadirkan nalar berfikir dan mengaitkannya dengan konsep filsafat dengan sangat apik adalah “Dunia Sophie”. Joestin Gaarder, sang penulis buku memberikan perpaduan yang unik untuk mengemas ilmu filsafat dalam sebuah cerita imaginatif yang menarik. Novel terjemahan yang pada 2010 lalu dicetak kembali dengan serial gold oleh PT Mizan Pustaka ini seperti memberi angin segar bagi mereka yang ingin mengenal filsafat dengan bahasa yang lebih mudah dicerna dan tidak kaku seperti buku-buku pengantar filsafat yang banyak di pasaran.

Sophie Amundsen, gadis belia yang menjadi tokoh utama dalam novel ini diceritakan mendapatkan guru filsafat misterius, Alberto Knox, menjelang usianya yang ke-14 tahun. Selama menyelami cerita yang disuguhkan, kita diajak menganalisis tentang bagaimana pemikiran para filosof dari masa ke masa. Tak sekadar memberikan gambaran konsep pemikiran para filosof, penulis turut memberikan contoh implementasi pemikiran dalam memandang sejumlah persoalan di sekitar kita. Tokoh-tokoh filsafat mulai dibahas secara khusus dan terperinci dari bab 18-31. Namun demikian, walau dikemas dengan bahasa naratif layaknya novel misteri, sebagai media pengantar ilmu filsafat, buku ini pun menuntut daya ingat dan penalaran yang kuat untuk benar-benar memahami berbagai pemikiran kefilsafatan dalam 36 bab yang disajikan.

Bukan tak mungkin setelah membaca novel “Dunia Sophie” pembaca masih tidak menemukan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan filsafat. Untuk itu, tak lengkap apabila kita hanya sekadar membaca naskah cerita yang disajikan dan melewatkan sajian pengantarnya. Bambang Sugiharto (hlm.14-16) dalam pengantarnya di buku tersebut berpendapat, “Filsafat adalah sistematisasi pengalaman bernalar dan kecenderungan ingin tahu, yang telah kita miliki sejak kanak-kanak. Kecenderungan yang—ironisnya—seringkali justru menjadi rusak akibat jawaban-jawaban yang berpretensi mutlak dari berbagai macam bentuk pengetahuan (tradisi, sains, ideologi, terutama agama). Suatu upaya tanpa akhir untuk memahami kenyataan yang mungkin tak akan tuntas terjelaskan.” Filsafat adalah sebuah ilmu yang dapat digunakan untuk mengkritisi kekolotan ataupun pemikiran-pemikiran yang bersifat dogmatis. Meski demikian, tak ada yang benar dan salah dalam filsafat. Filsafat mengajarkan kepada kita untuk belajar menjadi seorang pemikir yang mampu merepresentasikan pemikiran kita. Filsafat adalah sebuah media bebas untuk mengekspresikan cara pandang dengan tuntutan argumentasi yang dapat dinalar.

Bagi saya, filsafat adalah salah satu wadah yang dapat digunakan untuk belajar menjadi orang bijak. Apapun “bunyi” pemikiran para filosof bukanlah suatu hal yang perlu dipusingkan. Sekali lagi, karena hidup adalah proses belajar yang semuanya menuntun kita menemukan hikmah dan pelajaran. Salah satu pertanyaan yang dapat dikaji adalah, mengapa tingkat terakhir pendidikan keilmuan menggunakan gelar Ph. D. (Philoshophy Doctor)? Istilah Philoshopy yang disandingkan dengan Doctor tentu mempunyai suatu harapan agar sang pemilik gelar tak hanya cerdas dalam tataran intelektual semata. Hal yang jauh lebih penting dari itu semua, yaitu sang ilmuwan diharapkan jauh lebih arif memanfaatkan ilmunya. Seberapa besar dan banyaknya ilmu yang kita miliki, tentu tak berarti apa-apa apabila tak diiringi dengan rasa bijak yang tumbuh di hati kita. ibarat tanaman padi, semakin berisi semakin menunduk. Orang yang cerdas pun akan semakin bermanfaat kecerdasannya, ketika ia pun berubah menjadi orang yang semakin bijak. Bijak untuk memanfaatkan ilmunya, bijak dalam menjalani kehidupannya dan bijak menyelesaikan perosalan dalam lingkungannya. Filsafat mengajari kita untuk berfikir menggunakan akal dan hati. Filsafat mengajari kita belajar memandang dari sudut yang berbeda. Filsafat membebaskan kita berargumen sesuai keyakinan dan pemikiran kita. Filsafat: ilmu kebijaksanaan.

Kamis, 05 Januari 2012

Hidup adalah Proses Belajar

Hari ini sku belsjsr. kemarin aku belajar.. esok pun akan tetap belajar. belajar menghargai kehidupan. belajar untuk selalu berinstrokpeksi diri. belajar untuk berbagi dan tidak membebani. semuanya adalah proses. jalani prossesnya, dan kita akan mendapatkan apa yang kita usahakan. semanagat!

Senin, 07 November 2011

Bersiaplah untuk Pulang

Kini bukan saatnya untuk berkehendak sesuka hati. Tatkala usia terus merangkak mendekati ajal, namun diri ini tetap saja belum berubah; masih sering tergoda bermain dengan kesenangan-kesenangan sesaat, lupa akan visi yang jauh lebih besar dan abadi.

Jikalau hidup layaknya sebuah lautan luas tempat kita berlayar, maka terumbu karang yang indah di bawah sana, ikan-ikan yang berenang dengan bebasnya, dan ombak yang saling berkejaran, hanyalah sebuah pemandangan indah teman perjalanan. Seindah apapun suasana perjalanan mencari penghidupan, bukankah perjalanan pulang selalu lebih indah? Bukankah selalu ada rindu yang membuncah tatkala kita telah lama hidup di perantauan, lalu dineri kesempatan untuk pulang ke rumah?

Ya. Ada saatnya ketika kita harus meninggalkan lautan, meninggalkan berbagai kenikmatan yang kita dapati di perjalanan. Ada saatnya untuk merapatkan kapal ke dermaga, lalu bersiap menyambut rumah yang kita rindukan. Kemudian, selayaknya orang yang telah pergi lama meninggalkan rumahnya, tempat ia diajarkan nilai-nilai kearifan hidup, lalu diberi kesempatan untuk kembali ke asalnya, bukankah kita seharusnya mensyukuri kesempatan untuk pulang?

Namun, entahlah. Mengapa diri ini terkadang takut untuk pulang? Apakah ini semua karena dosa-dosa yang kulakukan selama di perantauan? Oh tidak! Apa yang telah kulakukan selama ini, hingga aku sering terlupa untuk menyiapkan bekal menuju rumah yang harusnya kunantikan.

Masih banyakkah kesempatan yang aku miliki untuk mempersiapkan semua ini? Aku takut tak bisa membawa bekal yang cukup untuk menyambut perjalanan pulang. Sebuah perjalanan yang sering terlupakan untuk selalu dipersiapkan dengan perencanaan yang matang. Sebuah perjalanan di mana kita selayaknya mempersiapkan hadiah-hadiah terindah untuk orang-orang yang kita cintai, sebuah kebanggaan yang harus mereka saksikan tatkala melihat kita pulang dari perantauan.

Sudahkah itu kulakukan?

Senin, 19 September 2011

Media Cetak di Ambang Batas?

Prospek industri percetakan selalu menjadi topik yang tak pernah basi untuk dibicarakan. Mempertanyakan tentang nasib media cetak di tengah maraknya penggunaan internet di berbagai belahan dunia di satu sisi menimbulkan sejumlah kekhawatiran bagi industri media cetak itu sendiri. Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga kertas yang mengakibatkan kalkulasi profit sejumlah perusahan media cetak semakin berkurang. Lantas, apakah ini sebuah pertanda industri percetakan akan hilang dari peredaran?

Era digitalisasi memang tengah menjadi tren bermedia yang banyak digandrungi hingga saat ini. Sebagian pembaca media cetak disinyalir telah berpindah kepada media online dengan pertimbangan akses informasi yang jauh lebih cepat. Para pembaca yang mempunyai akses internet juga mempertimbangkan bahwa informasi yang disediakan dalam bentuk digital dapat diakses secara efisien, tanpa harus mengunjugi kios-kios distributor media cetak yang tesedia. Alasan cinta lingkungan juga menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi sejumlah pembaca yang beralih kepada media digital. Selain tampilan melalui media digital yang dapat didesain lebih variatif, bentuk format digital dinilai lebih mudah untuk disimpan dan tidak memakan banyak ruang.

Di balik sejumlah keuntungan yang ditawarkan oleh media digital serta fasilitas internet yang semakin berkembang tersebut, saya melihat industri percetakan masih mempunyai peluang untuk tetap bertahan. Memang tak dapat dipungkiri, hadirnya teknologi baru seperti internet telah memberikan dampak pada industri media cetak, seperti pengurangan jumlah produksi ataupun diperlukannya rekapitulasi yang lebi jeli terkait anggaran yang dibutuhkan. Namun, bagaimanapun transformasi bentuk media tidak langsung serta-merta akan menghilangkan para konsumen media cetak. Terlebih ketika kita melihat dalam konteks masyarakat Indonesia, kelompok yang dapat mengakses internet dan mampu “membeli” teknologi yang disyaratkan untuk menikmati suguhan media cetak dalam bentuk yang lebih modern, saya kira tidak lebih dari 40% dari total populasi masyarakat kita.

Dalam sebuah dokumentasi, tentu karya cetak lebih dianggap memenuhi syarat karena dapat dilihat fisiknya secara langsung tanpa harus menggunakan media perantara dan bersifat lebih portabel sehingga dapat dinikmati di tempat manapun. Terkait dengan isu cinta lingkungan yang menjadi salah satu alasan digunakannya media digital, saya kira hal ini dapat sedikit disiasati dengan pemanfaatan kertas daur ulang, meskipun di satu sisi kualitas kertas yang dihasilkan memang kurang maksimal.

Teknologi baru seperti media elektronik tentunya juga tidak terlepas dari efek samping seperti radiasi ataupun gangguan penglihatan. Sejumlah pihak juga merasa bahwa membaca di depan layar elektronik terlalu lama jauh tidak nyaman ketika dibandingkan dengan membaca langsung pada teks sebuah kertas bacaan. Tidak semua orang mau disibukkan dengan mencari-cari bahan bacaan di internet misalnya, atau harus menjinjing laptop ke manapun mereka pergi hanya untuk mengakses informasi yang sudah tersedia dalam bentuk cetakannya. Saya percaya, hingga suatu hari nanti, industri media cetak akan tetap menjadi sebuah solusi bagi sejumlah pihak yang haus akan informasi.

Minggu, 17 Juli 2011

Perintis Perubahan

Berjuang menjadi seorang perintis memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih ketika orang-orang di sekitar kita belum memahami akan pentingnya sebuah perubahan. Sikap apatis yang mereka tunjukkan ketika upaya perubahan itu diwacanakan, terkadang ingin membuat hati ini menangis. Bukan karena kecewa karena pendapat tak dihargai, bukan. Tapi menangis karena prihatin dengan minimnya kepahaman yang mereka miliki. Pemikiran praktis yang dengan mudah terlontar dari omongan "manis" mereka tak diiringi dengan langkah konkrit yang mampu menjawab sebuah permasalahan yang ada.

Astaghfirullah.. aku sering lalai bahwa jalan menuju perubahan memang tak mudah. Namun itu bukan berarti bahwa perubahan tak bisa direalisasikan. Aku masih yakin, akan ada orang-orang yang peduli pada usaha perbaikan ini. Meski sentilan dan cibiran mewarnai perjuangan ini, tapi akan kutunjukkan pada mereka, bahwa suatu hari nanti rasa syukurlah yang akan kugenggam. Bersyukur karena kemajuan telah di tangan. Bersyukur karena perubahan telah dilakukan. Perubahan menuju kehidupan yang lebih berkembang. Menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.

Sampaiakan salam perjuanganku pada mereka Ya Allah, kepada para pemuda penggerak motor perubahan. Sampaikan salamku pada mereka yang tak kenal putus asa dalam berjuang. Yang tak kan goyah walau rintangan selaksa air bah. Yang terus bertahan dan berjuang, walau begitu banyak pengorbanan yang harus direlakan.

Sukses selalu kawan. Jangan pernah letih untuk senantiasa mengupayakan perbaikan. Karena hari ini, harus lebih baik dari kemarin. Kemudian esok, harus lebih baik daripada hari ini.